tirto.id - Warna netral kerap jadi pilihan ketika kita berbelanja barang, mulai dari baju, aksesori, perabot, dan lainnya. Kebanyakan mengaku bahwa pemilihan warna tersebut memang sesuai dengan seleranya, tapi apa benar demikian?
Sebagian besar dari kita pasti pernah mendengar istilah seperti clean outfit, old money style, atau quiet luxury. Dalam dunia fashion, gaya pakaian ini selalu menonjolkan warna-warna netral yang dianggap rapi dan elegan.
Di sisi lain, baju dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, atau oranye sering kali tidak dilirik karena dianggap “ramai”, terlalu mencolok, atau bahkan kekanak-kanakkan.
Mayoritas orang pun setuju dengan anggapan tersebut hingga akhirnya ikut-ikutan memilih warna netral dan mengukuhkannya sebagai warna favorit yang sesuai dengan seleranya. Tak hanya terbatas pada pakaian, tapi juga barang lain.
Menariknya, kebiasaan memilih warna netral seperti hitam, putih, krem, atau abu-abu ternyata tidak selalu murni soal selera pribadi. Preferensi ini diduga terbentuk dari standar estetika yang sudah lama tertanam sejak zaman dulu dan dilestarikan sampai sekarang.
Kenapa Kerap Pilih Warna Netral dan Rasa Aman dalam Belanja

Pernah nggak sih, saat belanja baju atau aksesori, tanpa sadar tangan kita selalu mengambil warna hitam, putih, atau beige? Padahal di tempat yang sama ada banyak pilihan warna lain yang lebih cerah atau unik.
Kebiasaan ini ternyata cukup umum. Banyak orang cenderung memilih warna netral karena dianggap “aman” dan mudah dipadukan dengan apa pun yang sudah dimiliki di lemari. Dengan kata lain, warna netral memang menawarkan fleksibilitas.
Warna netral cocok untuk berbagai acara, baik formal maupun santai. Dengan memilih warna netral, seseorang juga tidak perlu berpikir terlalu lama soal mix and match. Ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang punya rutinitas padat dan ingin tampil rapi tanpa ribet setiap hari.
Selain faktor kepraktisan, ada juga aspek psikologis di baliknya. Warna netral memberikan rasa aman karena kecil kemungkinan terlihat salah kostum atau terlalu mencolok. Banyak orang merasa lebih percaya diri ketika tampil dengan warna yang sudah familiar dan minim risiko.
Dalam hal belanja, memilih warna netral juga membuat keputusan jadi lebih cepat, daripada bereksperimen dengan warna baru yang belum tentu cocok, memilih warna netral pun terasa seperti pilihan paling aman.
Di sisi lain, preferensi ini juga sering dipengaruhi oleh tren dan lingkungan sosial. Gaya minimalis yang belakangan populer mendorong penggunaan palet warna yang sederhana dan timeless.
Tanpa disadari, kita ikut terbiasa melihat dan meniru gaya tersebut sehingga warna netral dianggap memenuhi standar berpakaian yang pantas dan modern dibandingkan warna-warna cerah lainnya.
Kolonialisme Warna Netral & Standar Estetik yang Kita Ikuti Tanpa Sadar

Memilih warna netral kerap dianggap memiliki selera yang bagus. Jika digali lebih dalam, standar ini tidak sepenuhnya lahir secara alami. Ada konstruksi sosial dan sejarah panjang yang membentuk persepsi bahwa warna-warna tersebut identik dengan kesan rapi, profesional, dan berkelas.
Hal ini ternyata berkaitan dengan kolonialisme bangsa Barat. Kolonialisme rupanya tidak hanya meninggalkan jejak pada sistem politik dan ekonomi, tapi juga pada cara pandang estetika, termasuk bagaimana kita menilai warna.
Pada masa kolonial, bahkan sampai sekarang, budaya Barat kerap diposisikan sebagai tolok ukur modernitas dan kemajuan. Warna-warna netral yang banyak digunakan dalam arsitektur atau busana bangsa Eropa dianggap memiliki nilai yang lebih tinggi.
Sebaliknya, warna-warna cerah dan berani yang banyak ditemukan dalam budaya lokal sering dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan, tidak rapi, atau bahkan tidak modern.
Narasi ini secara perlahan tertanam pada setiap orang, termasuk orang Indonesia yang pernah dijajah oleh orang-orang Eropa. Pemikiran ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga akhirnya membentuk preferensi kolektif yang kita anggap sebagai selera pribadi di masa sekarang.
Akibatnya, tanpa disadari kita sering menggunakan standar tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari memilih pakaian kerja, mendesain rumah, hingga menentukan tampilan visual di media sosial. Warna netral menjadi default karena dianggap paling “aman” untuk diterima secara sosial.
Chromophobia: Ketika Kita Takut Terlihat Berbeda

Mengapa banyak orang merasa ragu memakai warna mencolok seperti ungu terang, pink, atau kuning menyala? Jawabannya bukan semata soal selera. Menurut teori David Batchelor, dalam tradisi Barat, warna justru telah lama dimarginalkan, dianggap berlebihan, tidak rasional, bahkan “rendah”.
Fenomena ini dikenal sebagai chromophobia atau ketakutan terhadap warna. Dikutip dari Psychology Today, di zaman dulu, tekstil penuh warna dari India sering dianggap sebagai sesuatu yang murahan.
Bangsa Eropa kemudian menggunakan komoditas warna ini sebagai alat transaksi dalam perdagangan manusia untuk mendapatkan budak-budak Afrika.
Antara akhir 1800-an hingga awal 1900-an, negara-negara Eropa Barat memperluas koloninya, bukan hanya untuk mendapatkan budak, tapi juga menjadikan penduduk lokal sebagai konsumen.
Mereka mengekstrak sumber daya di tanah jajahan (yang banyak berhubungan dengan warna), bukan untuk digunakan sendiri, tapi memperdagangkannya kembali ke warga lokal untuk meraup keuntungan.
Di sisi lain, menggunakan warna sebagai alat transaksi budak serta menjual komoditas warna hanya pada warga lokal, seolah-olah menjadi cara kolonial untuk menyerukan bahwa warna-warni adalah selera rendah yang diasosiasikan dengan kaum bawah.
Warna Netral sebagai Simbol Supremasi
Seiring berjalannya waktu, preferensi terhadap warna netral (hitam, putih, krem, atau abu-abu) bertransformasi menjadi simbol supremasi moral dan intelektual. Sebaliknya, warna-warna cerah dianggap primitif dan jadi lambang keterbelakangan.Hal ini diperkuat dengan pernyataan seorang penulis dari Jerman, Goethe, yang menyebutkan bahwa rasa suka pada warna-warna cerah adalah ciri dari orang yang tidak beradab, karena orang beradab harusnya menghindari warna-warna tersebut.
Standar ini terus berlanjut hingga abad ke-20. Seorang psikolog warna seperti J.C.F. Grumbine bahkan mengeklaim bahwa warna primer hanya menarik bagi "pikiran sederhana dari kaum primitif”.
Dari sinilah penggunaan warna netral memiliki stempel "selera tinggi". Dari sini pula muncul semacam aturan tak tertulis dalam masyarakat modern bahwa mereka harus menghindari warna cerah sebagai warna dominan dalam keseharian.
Warna cerah hanya boleh hadir dalam dosis kecil, misalnya memakai dasi merah dengan setelan hitam. Jika seseorang menggunakan warna cerah secara dominan, misalnya memakai setelah merah atau kuning, kita dengan cepat melabelinya sebagai orang yang kampungan, eksentrik, atau bahkan tidak beradab.
Warna akhirnya bukan lagi tentang estetika, tapi menjadi alat untuk membedakan superioritas dan inferioritas. Jadi, standar estetik dengan warna-warna netral yang kita ikuti hari ini sesungguhnya adalah warisan dari sistem yang menggunakan warna sebagai senjata untuk melabeli status sosial.
Berani Warna-Warni sebagai Bentuk Ekspresi Diri

Menyadari akar sejarah di balik preferensi warna kita bukanlah sebuah ajakan untuk segera mengecat seluruh dinding rumah dengan warna neon atau membuang semua pakaian hitam yang kita miliki.
Putih, abu-abu, dan warna netral lain tetap memiliki tempatnya sendiri sebagai warna yang menenangkan. Namun, poin utamanya di sini adalah otonomi.
Memahami sejarah tentang preferensi warna memberi kita kekuatan untuk berhenti sejenak dan bertanya, apakah kita memilih warna netral ini karena benar-benar menyukainya, atau karena takut dianggap tidak berkelas?
Ketika kita mulai mempertanyakan standar "selera bagus" yang kita warisi, kita sebenarnya sedang merebut kembali hak kita untuk merasa, berekspresi, dan merayakan ruang hidup kita sendiri tanpa bayang-bayang penghakiman yang diwariskan kolonial.
Mungkin bisa dimulai dari hal kecil, seperti memakai tas dengan warna cerah, sepatu yang lebih berani, atau belanja baju dengan warna yang belum pernah dicoba sebelumnya. Pelan-pelan, kita belajar bahwa tampil beda tidak selalu berarti berlebihan, dan jelas bukan definisi “tidak beradab”.
Sekali lagi, ini bukan ajakan untuk membenci warna netral karena sebenarnya tidak ada aturan baku dalam berekspresi. Warna netral dan warna cerah bisa berjalan berdampingan, saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Yang terpenting adalah memberi diri kita kebebasan untuk memilih, bukan karena takut salah, tapi karena benar-benar tahu apa yang kita inginkan.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































