tirto.id - Bencana hidrometeorologi yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada akhir 2025 berdampak signifikan terhadap kinerja perekonomian daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen secara tahunan.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, menyebutkan bencana hidrometeorologi Siklon Tropis Senyar menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perlambatan ekonomi tersebut. Menurutnya, dampak bencana dirasakan hampir di seluruh sektor ekonomi.
"Jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun sebelumnya (y-on-y), ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen," kata Agus, Kamis (5/2/2026).
Agus menjelaskan kontraksi ekonomi dipicu oleh penurunan aktivitas produksi, terutama akibat gagal panen pada sektor pertanian serta kerusakan pada sektor perkebunan dan hortikultura. Selain itu, bencana juga mengganggu aktivitas industri di sejumlah wilayah terdampak.
Bencana hidrometeorologi tersebut turut menyebabkan gangguan konektivitas dan mobilitas masyarakat. Kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, dan fasilitas umum menghambat distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari sisi perdagangan, kinerja juga mengalami penurunan yang tercermin dari melemahnya ekspor Aceh. Pada saat yang sama, impor justru meningkat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pascabencana.
Daya beli masyarakat turut tertekan akibat berkurangnya pendapatan dari beberapa komoditas serta kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Berdasarkan pemantauan BPS, secara kuartalan ekonomi Aceh pada triwulan IV-2025 juga mengalami kontraksi sebesar 0,05 persen jika dibandingkan dengan triwulan III-2025. Kondisi ini menunjukkan dampak bencana hidrometeorologi masih membayangi pemulihan ekonomi Aceh hingga akhir 2026.
============
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































