Menuju konten utama

Benarkah Obat Penyembuh Kanker Diungkap Usai AS Keluar WHO?

Beredar di medsos isu penemuan obat dan vaksin kanker dari berbagai negara. Hal ini diklaim terjadi setelah AS keluar dari WHO, benarkah demikian?

Benarkah Obat Penyembuh Kanker Diungkap Usai AS Keluar WHO?
Ilustrasi vaksin. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Media sosial ramai dengan isu yang menyebut jika obat dan vaksin kanker berhasil ditemukan oleh ilmuwan dari berbagai negara. Warganet mengaitkan hal ini dengan momen Amerika Serikat (AS) keluar dari World Health Organization (WHO).

Sebuah akun X dengan nama @Kekius_Sage membuat heboh dunia maya setelah mengunggah beberapa pernyataan terkait penyakit kanker yang telah berhasil disembuhkan di beberapa negara.

Ada kanker pankreas di Spanyol, kanker usus besar di Korea Selatan, kanker kolorektal atau metastasis paru-paru di China, HPV atau kanker mulut rahim di Meksiko, dan kanker darah (leukemia) di Vietnam. Tak hanya itu, akun tersebut juga menyebut jika vaksin kanker telah berhasil ditemukan oleh Rusia.

Pernyataan @Kekius_Sage ini tentu membuat warganet terkejut dan mulai mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Benarkah Ditemukan Obat dan Vaksin Kanker?

Unggahan akun @Kekius_Sage pada 8 Februari mengklaim bahwa seorang ilmuwan bernama Peixuan Guo telah menemukan obat yang menyembuhkan metastasis kanker kolorektal ke paru-paru, dan menyebut temuan tersebut sebagai terobosan besar.

Klaim ini merujuk pada publikasi ilmiah bertanggal 3 Februari 2026. Namun, klaim tersebut menyesatkan. Penelitian yang dimaksud sebenarnya menunjukkan bahwa RNA-micelle, sebuah teknologi penghantaran obat berbasis RNA, mampu hampir sepenuhnya menghambat pertumbuhan metastasis kanker kolorektal di paru-paru pada model tikus, bukan pada manusia.

Dikutip laman Wiley Advanced, studi ini masih berada pada tahap pra-klinis, belum diuji dalam uji klinis manusia, dan tidak dapat disebut sebagai “obat” atau “penyembuhan” kanker.

Temuan tersebut memang menjanjikan secara ilmiah karena menggabungkan siRNA dan analog nukleosida secara sinergis, namun masih membutuhkan tahapan panjang sebelum bisa diaplikasikan sebagai terapi klinis.

Pada hari yang sama, akun yang sama juga mengunggah klaim lain dengan narasi sensasional, yaitu bahwa kanker darah kini dapat sepenuhnya diobati berkat tim medis Vietnam.

Klaim ini juga tidak akurat. Tidak ada terapi yang dapat menyembuhkan seluruh jenis kanker darah secara tuntas. Pengobatan yang dimaksud dalam konteks ini sebenarnya adalah CAR-T cell therapy, sebuah teknologi imunoterapi yang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu dan pertama kali disetujui oleh FDA Amerika Serikat pada 2017.

Terapi ini bekerja dengan merekayasa sel T pasien agar mampu mengenali dan membunuh sel kanker, namun penerapannya terbatas pada jenis kanker tertentu, bukan semua kanker darah.

Sebagai contoh, FDA di laman resminya, baru-baru ini menyetujui indikasi baru CAR-T therapy Breyanzi (lisocabtagene maraleucel) untuk pasien dewasa dengan marginal zone lymphoma (MZL) yang gagal atau kambuh setelah minimal dua lini terapi sebelumnya.

Meskipun hasil uji klinis menunjukkan tingkat respons yang tinggi dan cukup tahan lama, terapi ini bukan obat universal, masih memiliki risiko efek samping serius seperti cytokine release syndrome (CRS), dan hanya digunakan pada pasien dengan kriteria tertentu.

Dengan demikian, menyebutnya sebagai “pengobatan lengkap kanker darah” adalah bentuk overclaim yang berpotensi menyesatkan publik.

Kenapa AS Keluar dari WHO?

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS) dalam laman resminya menjelaskan jika AS resmi mundur dari keanggotaan WHO tertanggal 22 Januari 2026.

Alasan utama dari keputusan besar ini adalah penilaian AS terhadap WHO yang dianggap tidak mampu mengatasi pandemi Covid-19. WHO dinilai kurang transparan, tidak akuntabel, dan tidak independen, serta menolak melakukan reformasi yang dianggap perlu oleh pemerintah AS.

Selain itu, alasan lainnya adalah AS menyebut jika iuran keanggotaan AS ke WHO lebih besar dibanding negara-negara lainnya. Iuran wajib AS rata-rata mencapai sekitar 111 juta dolar AS per tahun, ditambah kontribusi sukarela sekitar 570 juta dolar AS per tahun, sehingga totalnya mencapai miliaran dolar.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra