tirto.id - Secara mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan jika saat ini sedang dalam masa negosiasi dengan pemerintah Iran untuk mengakhiri perang. Namun, klaim Trump ini ternyata dibantah oleh beberapa petinggi Iran.
Donald Trump menuliskan di akun Truth Social miliknya @realDonaldTrump pada Senin (23/3/2026) jika negosiasi perdamaian pihak AS dan Israel saat ini berjalan dengan baik.
“Dengan senang hati saya melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah,” tulisnya.
Ia melanjutkan jika kemajuan perundingan ini juga menyebabkan AS menunda rencana awal untuk menghancurkan pembangkit tenaga listrik terbesar Iran.
“Berdasarkan isi dan nada pembicaraan yang mendalam, rinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan syarat keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung,’ jelasnya.
Benarkah Ada Negosiasi Damai AS-Iran?
Pernyataan Trump tentang negosiasi dengan Iran ini dibantah oleh beberapa pejabat tinggi Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menuliskan di akun X @mb_ghalibaf tidak ada perundingan apapun yang berlangsung.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel,” tulis Ghalibaf.
Turkiye Today pada 23 Maret juga melaporkan jika sumber resmi Iran menolak klaim Trump, dengan mengatakan bahwa tidak ada kontak langsung atau tidak langsung dengan presiden AS.
Adanya bantahan dari pihak Iran ini membuat banyak pengamat mencurigai motif Trump membuat pernyataan tentang adanya negosiasi perdamaian.
Menurut media internasional, AP News (25/3/2026), langkah Trump dinilai sebagai pengulur waktu sembari menunggu setidaknya 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 akan dikerahkan ke wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan.
AS disebut akan melakukan invasi darat ke Iran sebagai lanjutan dari perang yang dimulai secara resmi pada 28 Februari 2026.
15 Poin Syarat Gencatan Senjata Iran-AS
Pemerintahan Donald Trump disebut telah mengajukan rencana gencatan senjata 15 poin kepada Iran melalui perantara dari Pakistan, yang menawarkan negaranya sebagai lokasi negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran.
Meski dikatakan telah ada upaya diplomasi, AS diketahui juga memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, dengan menyiapkan sekitar 1.000 pasukan tambahan dan dua unit Marinir yang akan menambah sekitar 5.000 Marinir dan ribuan pelaut untuk mendukung 50.000 pasukan yang sudah ada.
Namun, jika benar diplomasi mulai bergerak, serangan-serangan udara masih berlangsung di Iran. Iran pun masih membalas serangan dengan menembakkan misil dan drone ke Israel serta beberapa lokasi di wilayah lain.
Selain Pakistan, dua negara lain juga gencar diberitakan akan menjadi mediator dalam perundingan damai Iran-AS, yakni Turki dan Mesir.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































