Menuju konten utama

Begal Tak Pernah Hilang: Kenapa Kejahatan Jalanan Ini Berulang?

Kejahatan begal kerap ditemui terjadi di berbagai wilayah. Kejahatan jalanan ini seakan sulit diberantas. Seperti apa penanganan yang efektif?

Begal Tak Pernah Hilang: Kenapa Kejahatan Jalanan Ini Berulang?
Ilustrasi Senjata Tajam. foto/istockphoto

tirto.id - Kasus begal kerap muncul dalam pola yang terasa berulang. Kasus ini meningkat tajam hingga viral, diikuti operasi besar aparat, lalu mereda sebelum kembali muncul di wilayah lain beberapa waktu kemudian.

Pakar Kriminologi Universitas Indonesia, Josias Simon, menilai tingkat pengamanan dan pengawasan menjadi salah satu faktor begal muncul di satu tempat ke tempat lainnya.

"Sesuai tingkat pengamanan dan pengawasan yang dilakukan atau patroli," kata Simon.

Terlebih, Simon mengatakan, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan seseorang melakukan kejahatan jalanan. Termasuk dalam hal ini, ia menjadi begal yang bahkan tindakan itu dilakukan secara berulang.

Kata Simon, efek gentar jera yang berkurang juga menjadi salah satu faktor pemicu begal. Dia menyebut, pelaku terutama anak muda, kerap mudah direkrut oleh jaringan begal karena faktor ekonomi atau sekedar untuk memenuhi adrenalin.

Katanya, perlu dilakukan pendekatan sosial ekonomi atau Kesehatan Jiwa Hak Terpadu (KJHT) dalam konteks global untuk mengatasi residivis begal.

Berdasarkan Undang-Undang, begal termasuk dalam kategori pencurian dan kekerasan (curas) yang diatur dalam Pasal 479 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Kejahatan ini dianggap berat karena membahayakan nyawa atau fisik korban.

Aksi Begal Memicu Ketakutan Publik

Berita soal begal kerap menyesakkan dada. Kabar kehilangan harta benda dibarengi dengan kekerasan yang dialami korban, dapat membuat publik ketakutan. Salah satunya Erza (bukan nama sebenarnya).

Perempuan asal Tangerang Selatan ini, selalu merasa ketakutan saat melihat berita soal begal baik di televisi maupun melalui media online. Bahkan, dia telah menandai lokasi-lokasi rawan begal agar tak dilalui pada malam hari.

Terlebih, Erza bercerita, kakaknya sempat hampir menjadi korban begal saat harus pulang malam melalui wilayah yang dia sebut 'rawan begal'. Kekhawatirannya juga bertambah. Dia mengutuk setiap kejadian begal yang kembali terjadi.

"Soalnya kakak aku hampir jadi korban begal juga, katanya parang si begalnya udah nyabet ke behel motor belakang, untungnya juga dia pake ransel dan bisa kabur," kata Erza.

Pembegalan Terus Saja Terjadi

REKONSTRUKSI PEMBUNUHAN BEGAL MOTOR

Dua pelaku pencurian dengan kekerasan, Aldi Anjani dan Zaril saat melakukan proses rekonstruksi di Depan Mapolres Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/8). Kasus begal yang dilakukan tersangka terjadi di Jalan Touwa, Palu Selatan, Sulawesi Tengah pada 9 Agustus 2016 dan mengakibatkan korban Didit meninggal dunia. Setelah membunuh korban, tersangka merampas sepeda motor milik korban. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/pd/16.

Begal seolah tak pernah hilang dari muka bumi. Belum lama ini, pihak kepolisian menangkap Taufik alias Gembel (26) yang merupakan residivis begal. Gembel bersama tiga orang lainnya melakukan aksi begal dengan membacok korbannya di wilayah Pal Merah.

Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Danang Setiyo Pambudi, mengatakan Gembel telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara, tiga rekannya masih dalam pencarian. Kata Danang, Gembel melakukan kejahatan begal karena memerlukan uang untuk membeli narkoba dan kebutuhan sehari-hari. Diketahui, Gembel merupakan kurir narkoba.

"Adapun modus operandi, tersangka berkeliling menggunakan sepeda motor untuk mencari sasaran atau korban yang sedang berada di lokasi sepi," kata Danang.

"Selanjutnya ketika para pelaku sudah menemukan calon korban, pelaku langsung menghampiri korban dan mengancam dengan menodongkan senjata tajam, dan apabila korban melakukan perlawanan pelaku tidak segan-segan untuk melukai korban," tambah Danang.

Kejadian ini, terjadi pada Senin (4/5/2026) sekitar pukul 02.25 WIB. Korban yang saat itu baru saja mengunjungi rumah ibunya dipepet oleh para tersangka. Dia mengalami luka di bagian tangan sehingga tak mampu melakukan perlawanan.

"Sehingga korban tidak bisa melakukan perlawanan dan pada saat itu pelaku berjumlah empat orang dengan mengendarai dua unit sepeda motor, mengambil handphone, sepeda motor korban, dan kemudian korban melapor ke Polsek Palmerah," ujar Danang.

Lebih lanjut, kata Danang, Gembel yang ternyata positif menggunakan narkoba ini juga mengaku bahwa telah melakukan aksi begalnya di sejumlah wilayah Jakarta lainnya.

Bahkan, kejahatan ini bukan yang pertama kali dilakukan Gembel. Danang menjelaskan, pada 2019, 2020, dan 2024, Gembel juga telah terjerat kasus yang sama.

Selain di Palmerah, kasus begal juga baru saja terjadi di Binjai, Sumatera Utara. Korbannya adalah seorang pelajar berinisial YR. Informasi soal kejadian ini sempat viral dan menimbulkan keresahan.

Pelaku yang telah ditangkap oleh Polres Binjai ini, menghadang korban yang tengah menuju ke sekolah dan baru saja mengantar temannya bekerja. Dua pelaku menghentikan korban yang tengah mengendarai motor dengan mengatakan 'berhenti kau'.

Korban sempat melakukan perlawanan. Namun, pelaku malah mengeluarkan sebilah parang dan langsung mengayunkan ke arah tangan kanan, kiri, dan bagian kepala korban. Akibatnya korban mengalami luka robek dan berdarah di sekujur tubuh.

Setelah melukai korban, kedua pelaku membawa kabur sepeda motor Honda Vario 160 warna hitam doff dengan nomor polisi BK 4732 RBL serta handphone merk Redmi 3C milik korban. Kejadian ini diketahui oleh saksi bernama Masriana Koto yang kebetulan melintas di lokasi dan segera melapor.

Saat hendak ditangkap, pelaku melakukan perlawanan kepada pihak kepolisian. Pelaku akhirnya ditembak dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Kapolres Binjai mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan segera melapor jika melihat hal-hal mencurigakan di lingkungan sekitar.

Ahli Sosiologi Ekonomi, Kemiskinan dan Sosiologi Anak Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, mengatakan begal adalah kejahatan jalanan yang dipicu oleh kombinasi antara faktor ekonomi dan subkultur marginal.

Kata Bagong, hal tersebut juga menjadi penyebab begal kerap terjadi di wilayah pinggiran lantaran sepi dari pengamatan publik dan aparat kepolisian.

"Wilayah pinggiran karena sepi jauh dari amatan publik dan aparat kepolisian," kata Bagong.

Dia menyebut, pelaku begal juga kerap hadir dari kalangan pengangguran muda yang notabene hidup di lingkungan marginal. "Pengangguran muda, mereka adalah pelaku yang notabene anak-anak marginal," tutur Bagong.

Oleh karena itu, kata Bagong, untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan intervensi sosial berupa pendekatan community support system. Pihak kepolisian, juga harus mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengatasi hal ini.

Konpers Polda Metro Jaya

Konferensi pers Polda Metro Jaya terkait pengungkapan curas, curat, curanmor sejak awal tahun 2026, Jumat (15/5/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Sementara, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin, mengungkapkan bahwa terdapat 171 laporan yang masuk sejak awal tahun 2026 terkait begal hingga saat ini. Penyidik juga telah menangkap 103 tersangka.

Iman mengatakan, dari jumlah tersangka tersebut, lima di antaranya kedapatan membawa senjata api (senpi) rakitan. Terlebih, saat dilakukan penindakan, mereka melawan dan harus dilakukan tindakan tegas terukur.

Oleh karena itu, Polda Metro Jaya membentuk tim khusus pemberantas pelaku begal. Tim tersebut, akan dibekali senjata laras panjang dan melakukan patroli ke sejumlah daerah rawan begal.

"Kami sudah siapkan Tim Pemburu Begal yang siap beraksi 24 jam untuk bersama-sama kita menjaga Jakarta lebih aman lagi," kata Iman.

Baca juga artikel terkait KASUS BEGAL atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Ilham Choirul Anwar