Menuju konten utama

Banyak Tumpang Tindih Bisnis, Danantara Evaluasi 900 BUMN

Untuk mendongkrak dividen BUMN dan mengerek investasi di Tanah Air, Danantara membutuhkan entitas yang lebih besar dengan struktur keuangan yang kuat.

Banyak Tumpang Tindih Bisnis, Danantara Evaluasi 900 BUMN
Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Menteri BUMN Erick Thohir (ketiga kanan), Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani (kiri), Chief Investment Officer (CIO) Pandu Patria Sjahrir (kedua kanan), dan Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria (kanan) menghadiri Town Hall Danantara Indonesia di Jakarta, Senin (28/4/2025). Acara tersebut digelar dalam rangka penyampaian arah strategis BPI Danantara Indonesia serta memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.

tirto.id - Pasca peleburan perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), kini Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) Indonesia tersebut mengelola sekitar 900 entitas yang tersebar di 13 sektor, dengan aset lebih dari Rp12.000 triliun.

Seiring dengan konsolidasi tersebut, kini manajemen tengah mengevaluasi fundamental bisnis 900 entitas tersebut.

"Ini lah yang sedang kami lakukan sekarang di Danantara. Kami akan meninjau, dan saat ini sedang meninjau lebih dari 900 entitas di bawah Danantara. Tinjauan bisnis fundamentalnya. Setiap entitas akan kami tinjau," kata Managing Director Danantara Asset Management, Setyanto Hantoro, dalam Pertamina Investor Day, di St. Regis Jakarta, Jakarta Selatan, Rabu (16/8/2025).

Setelah peninjauan rampung, Danantara bakal merestrukturisasi dan merampingkan BUMN beserta anak dan cucu perusahaannya yang sampai saat ini masih eksis.

Anto, sapaan Setyanto, mengatakan bahwa restrukturisasi dan perampingan struktur BUMN tersebut dilakukan karena pihaknya menyadari banyak terjadi tumpang tindih tugas dan fungsi antara satu perusahaan pelat merah dengan perusahaan milik pemerintah lainnya. Sehingga, terjadi persaingan ketat antar-BUMN itu sendiri.

"Oleh karena itu, kami membutuhkan restrukturisasi dan perampingan bisnis. Kemudian, kami akan melakukan konsolidasi bisnis. Danantara ingin memiliki entitas yang tidak terlalu banyak," imbuh dia.

Untuk mendongkrak dividen BUMN dan juga mengerek investasi di Tanah Air, Danantara membutuhkan entitas yang lebih besar dengan struktur keuangan yang kuat. Selain itu, operasional bisnis perusahaan pelat merah juga harus bisa berjalan secara prima.

"Inilah cara Danantara akan membuka nilai, tidak hanya bagi negara, tetapi juga bagi setiap pemangku kepentingan. Bagi mitra seperti Anda di sini, bagi investor, dan khususnya bagi masyarakat Indonesia," tuturnya.

Anto pun mengakui, mengelola 900 entitas dengan aset jumbo membutuhkan tanggung jawab besar. Tapi, di sisi lain ini merupakan peluang besar untuk mendorong transformasi tidak hanya bagi seluruh BUMN, tetapi juga bagi transformasi bangsa.

"Kekuatan kami di Danantara terletak pada kejelasan peran dan keunggulan tata kelola. Kekuatan kami diimplementasikan dalam tiga entitas di Danantara," tukas Anto.

Baca juga artikel terkait BUMN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana