Menuju konten utama

Banjir Aceh dan Upaya Pulihkan Trauma Anak

Banjir Aceh meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak. Dukungan psikososial di pengungsian menjadi upaya penting memulihkan mental dan rasa aman mereka.

Banjir Aceh dan Upaya Pulihkan Trauma Anak
Anak-anak korban banjir Aceh, Pidie Jaya. tirto.id/Eggi Hadian
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banjir bandang menerjang Aceh pada akhir November 2025 tak sekadar meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu trauma psikologis yang mendalam, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan. Mereka harus bertahan dalam situasi darurat di tempat pengungsian yang penuh keterbatasan.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sosok hadir menjadi benteng pelindung lewat misi kemanusiaan untuk para penyintas.

Ajun Khamdani, Staf Plan Indonesia, salah satunya. Ia ditugaskan menjadi bagian dari tim respons darurat di Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya untuk memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak dan perempuan korban banjir.

Kak Ajun, begitu ia disapa, tampak sibuk saat ditemui Tirto di Posko Pengungsi Desa Paya Cut, Bireuen, Aceh, Minggu (7/12/2025). Kala itu, belasan anak, baik laki-laki maupun perempuan, tampak antusias menggambar dan bercerita bersama Ajun.

Anak-anak korban banjir Aceh

Anak-anak korban banjir Aceh, Pidie Jaya. tirto.id/Eggi Hadian

Pria asal Jawa Tengah itu mengakui tak ujug-ujug langsung berinteraksi dengan anak-anak korban bencana. Sebab, banyak di antara mereka masih menyimpan ketakutan atas musibah yang menimpa.

Mula-mula, Ajun bersama tim mendata jumlah anak terdampak bencana. Setelah itu, mereka menelusuri akar persoalan serta risiko yang dihadapi. Data tersebut kemudian menjadi dasar penentuan langkah pendampingan bagi anak-anak korban bencana.

Ajun mengatakan pihaknya menemukan banyak anak yang mulai jenuh di lokasi pengungsian akibat minimnya aktivitas. Atas dasar itulah, Ajun dan tim hadir memberikan dukungan psikososial untuk mengusir kejenuhan sekaligus ketakutan anak-anak.

“Mulai dua hari yang lalu, kami sudah memulai dukungan psikososial. Kenapa, Mas? Karena beberapa anak itu sudah mulai jenuh di pengungsian,” kata Ajun.

Ajun menjelaskan pihaknya telah melakukan beragam kegiatan untuk menghibur anak-anak, seperti bermain, menggambar, hingga mendongeng. Selain itu, tim juga melakukan asesmen psikologis untuk mengetahui kondisi mental anak-anak korban bencana.

Menurut Ajun, menggambar dan mendongeng menjadi cara paling ampuh untuk mengusir kejenuhan anak-anak yang telah berhari-hari hidup di pengungsian. Tak hanya itu, Ajun juga mengajak para penyintas berdialog untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka.

“Dengan mengekspresikan diri lewat gambar, mereka bisa melepaskan situasi yang dialami selama ini,” ujar Ajun kepada Tirto.

Ia menyadari dukungan psikososial yang diberikan tak sepenuhnya mampu menghilangkan ketakutan para penyintas. Namun, ia bersyukur melalui kerja-kerja kemanusiaan tersebut, banyak anak kini kembali tertawa lepas setelah berhari-hari murung akibat banjir.

“Ada seorang ibu bilang ke saya, ‘Bang, terima kasih ya. Anak saya baru hari ini bisa tertawa setelah enam hari di pengungsian’,” tutur Ajun.

Anak-anak korban banjir Aceh

Anak-anak korban banjir Aceh, Pidie Jaya. tirto.id/Eggi Hadian

Pria berlatar belakang pendidikan psikologi itu mengatakan dirinya kerap menjadi orang pertama yang ditugaskan Plan Indonesia dalam setiap bencana. Ajun tak pernah menolak mandat tersebut dan melakoninya dengan ikhlas serta penuh rasa syukur.

“Alhamdulillah, saya memang sering menjadi tim pertama yang turun dalam respons darurat,” kata Ajun.

Nurul (17), pelajar kelas 3 SMA, mengaku senang dengan aktivitas barunya setelah berhari-hari murung di lokasi pengungsian tanpa kegiatan. Di tengah musibah, Nurul kembali tersenyum meski tak dapat berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya lantaran gedung sekolah porak-poranda diterjang banjir.

“Senang banget, bisa menggambar dan duduk sambil bercerita,” kata Nurul sambil tersenyum malu-malu.

Ia juga mengaku mengisi kejenuhan dengan membaca buku-buku yang disediakan Ajun dan tim. Pasalnya, peralatan sekolah miliknya telah lenyap tersapu banjir.

“Ada, baca-baca buku,” ucap Nurul.

Psikososial, Cara Tepat Cegah Trauma

Sementara itu, Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan dukungan psikososial sangat dibutuhkan oleh anak-anak korban bencana di pengungsian. Tujuannya untuk membantu mengatasi trauma pascabencana.

“Supaya mereka tidak terus memikirkan kejadian bencana sebelumnya, anak-anak diajak berkegiatan bersama, misalnya menggambar, mewarnai, dan bercerita,” kata Dini saat berbincang dengan reporter Tirto di lokasi pengungsian, Bireuen, Aceh, Minggu (7/12).

Meski demikian, Dini tak menampik trauma masih tampak dalam ekspresi anak-anak. “Memang ketika berkumpul bersama teman-teman mereka terlihat senang. Tapi nanti kalau ada suara-suara tertentu, seperti yang mereka dengar saat banjir dan longsor terjadi, biasanya rasa takut itu muncul lagi,” tutur Dini.

Dini mengaku menyaksikan langsung masyarakat yang kehilangan segalanya akibat banjir bandang. Banyak keluarga tidur di lantai tanpa alas maupun selimut. Anak-anak tinggal di ruang pengungsian tanpa sanitasi layak dan akses air bersih.

“Kondisinya sangat berat, dan risikonya bagi perempuan serta anak perempuan sangat mengkhawatirkan,” kata Dini.

Ia menambahkan, akses kemanusiaan menjadi tantangan paling mendesak. Di Kabupaten Bireuen, keruntuhan sejumlah jembatan menyebabkan banyak wilayah terputus dari jalur bantuan. Hambatan ekstrem ini secara signifikan memperlambat pengiriman bantuan, terutama bagi anak-anak, remaja perempuan, ibu hamil, serta lansia.

Anak-anak korban banjir Aceh

Anak-anak korban banjir Aceh, Pidie Jaya. tirto.id/Eggi Hadian

Menurut Dini, selama jalur tersebut belum pulih, kelompok rentan akan terus menghadapi peningkatan risiko kesehatan dan perlindungan. Pendidikan pun terhenti total. Anak-anak telah lebih dari satu minggu tidak bersekolah, sementara banyak ruang kelas terkubur lumpur atau rusak parah.

“Bencana ini mendorong pendidikan anak ke dalam situasi darurat. Ratusan ribu anak tiba-tiba kehilangan akses terhadap pembelajaran, perlindungan, dan stabilitas yang mereka butuhkan,” ujar Dini.

Ia menegaskan tanpa ruang belajar darurat dan dukungan psikososial, anak-anak berisiko tertinggal secara akademik sekaligus mengalami dampak emosional jangka panjang.

“Kami mendesak semua pihak mempercepat pemulihan layanan pendidikan, termasuk penyediaan ruang belajar yang aman dan ramah anak, agar mereka kembali memiliki harapan dan rutinitas,” tegasnya.

Banyak Hambatan Dialami Penyintas

Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, menegaskan para penyintas—terutama anak-anak, anak perempuan, dan kelompok rentan lainnya—masih menghadapi berbagai hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Meski bantuan terus berdatangan, akses terhadap bantuan tidak selalu mudah karena beragam keterbatasan.

Plan Indonesia menyalurkan puluhan paket bantuan kepada anak-anak korban banjir Aceh yang didistribusikan ke Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya.

Di Kecamatan Peusangan, Bireuen, Plan Indonesia menyalurkan paket kebersihan, termasuk 17 paket kebersihan menstruasi, serta 35 paket shelter berupa selimut, terpal, dan tikar.

Bantuan juga disalurkan ke Kecamatan Juli, Bireuen, berupa 17 paket kebersihan menstruasi dan 12 paket shelter. Sementara di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Plan Indonesia menyalurkan 17 paket kebersihan dan 59 paket shelter.

“Plan Indonesia menegaskan hak anak dan perempuan harus menjadi pusat dalam setiap upaya respons bencana. Tanpa pendekatan yang peka gender dan inklusif, bencana tidak hanya merusak hari ini, tetapi juga memperparah ketimpangan dan meninggalkan dampak sosial jangka panjang bagi generasi muda,” ujar Ida.

Yayasan Plan Internasional Indonesia

Yayasan Plan Internasional Indonesia menyalurkan paket kebersihan untuk korban anak banjir Aceh. tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama

Menurut Ida, terdapat dimensi lain yang kerap luput terlihat, yakni kerentanan berlapis yang dialami anak dan perempuan dalam situasi bencana. Ketika akses pendidikan terhenti, banyak anak—khususnya anak perempuan—berisiko putus sekolah dan kehilangan masa depan pendidikan mereka.

Di lokasi pengungsian, minimnya ruang aman dan penerangan meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender serta eksploitasi. Bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian, tekanan ekonomi juga dapat mendorong praktik perkawinan anak sebagai strategi bertahan hidup.

Selain itu, perempuan dan anak perempuan masih kesulitan mengakses sanitasi serta layanan kesehatan reproduksi yang layak, sehingga rentan terhadap penyakit, infeksi, hingga kehamilan yang tidak direncanakan. Pada saat yang sama, suara mereka dalam proses perencanaan bantuan kerap tak terdengar, membuat respons bencana kurang sensitif terhadap kebutuhan berdasarkan gender dan usia.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - News Plus
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Rina Nurjanah