Menuju konten utama

Bakom Sebut Elektrifikasi 10 Ribu Lokasi Butuh Anggaran Rp61 T

“Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari APBN yang dialokasikan secara bertahap mulai dari 2025-2029.”

Bakom Sebut Elektrifikasi 10 Ribu Lokasi Butuh Anggaran Rp61 T
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menjawab pertanyaan awak media usai konferensi pers perkembangan program hasil terbaik cepat (PHTC) serta transformasi layanan pertanahan dan percepatan sertifikasi rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Auditorium Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Bakom RI mengatakan total penerima KIP Kuliah 2026 sebanyak 1.018.742 dan menyampaikan kebutuhan sertifikasi rumah MBR 2026-2027 sebanyak tiga juta bidang dengan total anggaran Rp672,9 miliar. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, menyebutkan program elektrifikasi di 10.068 lokasi membutuhkan anggaran sekitar Rp61,65 triliun. Anggaran program itu disebut dialokasikan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) multi years.

"Total kebutuhan biaya untuk mengalirkan listrik ke 10.068 lokasi ini diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari APBN yang dialokasikan secara bertahap mulai dari 2025-2029," ucap Qodari saat konferensi pers di kantornya, Rabu (16/9/2026).

Qodari mengatakan program elektrifikasi tersebut menyasar sekitar 770.000 rumah tangga yang tersebar di 36 provinsi. Kehadiran listrik disebut dapat mendorong rumah tangga beralih dari sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar.

Dengan demikian, biaya yang selama ini dikeluarkan masyarakat untuk membeli bahan bakar tersebut diyakini dapat berkurang. Ketersediaan listrik juga disebut memungkinkan rumah tangga beraktivitas lebih lama dan lebih produktif.

"Manfaat elektrifikasi tidak hanya berupa tersedianya penerangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan rumah tangga," kata Qodari.

Dia menyampaikan program tersebut juga memberikan dampak bagi fasilitas umum seperti sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, fasilitas ekonomi, dan sarana komunikasi.

Dengan tersedianya listrik, pelayanan pendidikan dan kesehatan disebut akan menjadi lebih optimal. Aktivitas ibadah juga disebut dapat berlangsung lebih nyaman, serta usaha masyarakat dapat berjalan lebih lama dan produktif.

Qodari mencontohkan, dampak elektrifikasi mulai dirasakan masyarakat di Menembuke, Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejumlah pemilik warung kelontong kecil di wilayah itu disebut dapat meningkatkan omzet setelah mendapatkan akses listrik. Sebelumnya, mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan dari warung kelontong.

“Kini mereka memanfaatkan listrik untuk membuka usaha es batu dan minuman dingin dengan omzet yang mencapai Rp1.000.000 per bulan," tuturnya.

Qodari melanjutkan, dampak serupa dirasakan kelompok tani di Tomohon, Sulawesi Utara. Kelompok tani yang terdiri dari 10 petani bunga krisan itu disebut mengalami peningkatan produktivitas setelah memanfaatkan listrik untuk kebutuhan pencahayaan tanaman.

Omzet panen kelompok tani yang semula sekitar Rp5 juta per bulan disebut meningkat menjadi Rp15 juta per bulan. Kelompok tani itu diklaim sempat menembus pasar ekspor hingga Singapura.

Dia mengatakan dampak ekonomi program elektrifikasi akan semakin kuat jika didukung faktor lain seperti akses pasar, jalan yang baik, lembaga keuangan, dan infrastruktur komunikasi.

"Hal ini menunjukkan bahwa elektrifikasi dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui sekadar penerangan," tutur Qodari.

Baca juga artikel terkait ELEKTRIFIKASI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi