Menuju konten utama

Dari Pelita ke Cahaya: Perjalanan Tandeallo Menjemput Terang

Listrik telah membuka jendela informasi yang lebih lebar, memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi generasi penerus di Tandeallo.

Dari Pelita ke Cahaya: Perjalanan Tandeallo Menjemput Terang
Pekerja menyambungkan kabel di tiang pada pemeliharaan jaringan listrik di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (18/9/2025). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/bar

tirto.id - Suara desisan khas petromak masih terngiang di telinga Alisasdikin (28), guru di Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Ritual menyiapkan lampu minyak tanah dengan memompa petromak agar tekanan udara cukup untuk menjaga nyala lampu hingga akhirnya cahaya putih menerangi rumahnya, menjadi kenangan masa kecil yang tak terlupakan.

"Dulu, belajar pakai petromak. Cahayanya remang-remang, harus hemat minyak. Kalau mau belajar kelompok, kami harus berkumpul di satu rumah yang punya petromak," kenang Ali, yang kini menjadi guru di kampung halamannya, kepada Tirto, Rabu (22/10/2025).

Ia masih ingat saat temaram begitu akrab dengan kehidupannya. Sebelum azan maghrib berkumandang, sebuah genset bersuara gemuruh dinyalakan, menerangi gelapnya malam untuk rumah-rumah yang sedikit berjarak. Tapi hanya sampai pukul sepuluh malam. Setelah itu, desa ini kembali diselimuti kegelapan, hanya diterangi cahaya remang-remang pelita dan lampu gas petromaks.

"Kalau zaman saya SD, belajar membacanya masih pakai pelita. Lebih banyak pakai pelita," kenang Ali.

Riwayat kelistrikan Tandeallo adalah catatan tentang perjuangan memerangi kegelapan. Setelah era genset komunitas yang terbatas waktunya, hadirlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sekitar tahun 2010, yang dibangun pemerintah dengan bantuan oleh TNI.

"Nyala 24 jam itu cuma di awal," ujar Ali.

Ketergantungan pada debit air sungai membuat listrik menjadi barang mewah yang tak menentu. Di musim kemarau, daun-daun kering menutupi pipa bendungan, membuat lampu hanya menyala 8-10 jam, kadang hanya dari sore hingga malam. Hidup dalam "kedap-kedip" menjadi keseharian warga.

Naikkan target konsumsi listrik dorong pertumbuhan ekonomi

Petugas mengganti kabel pada jaringan listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (19/9/2024). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/YU

Listrik PLN Ubah Pola Hidup Warga

Ketika akhirnya kabel-kabel PLN menjulur masuk ke Tandeallo pada 2021, sebuah era baru dimulai. Listrik yang stabil 24 jam, meski masih rentan padam jika hujan merusak kabel yang melintasi hutan dan gunung, telah mengubah pola hidup warga.

Saat itu PLN membangun jaringan tegangan menengah sepanjang 10 kilometer sirkuit dan jaringan tegangan rendah sepanjang 4,19 kilometer di Ulumanda.

Tak hanya itu, PLN juga membangun empat unit gardu distribusi dengan total investasi lebih dari Rp4,1 miliar untuk melayani 315 pelanggan di tujuh dusun.

Namun, transformasi yang terjadi tidak serta-merta drastis. Di sektor ekonomi yang mayoritas bergantung pada bertani padi ladang, dampak listrik tidak langsung terasa besar. Perubahan hanya terjadi pada pemggunaan alat penyiram tanaman yang mulai menggunakan mesin listrik.

“Untuk alat pertanian ada tangki untuk penyiraman tanaman. Itu dicas, sudah menggunakan aki kecil. Sangat membantu, tidak manual lagi,” ucapnya.

Meskipun tidak drastis, namun begitu benih perubahan mulai tumbuh. Satu dua warung fotokopi dan percetakan kecil bermunculan. Kantor desa yang dulu bergantung pada mesin tik jadul, kini bisa mencetak surat dengan cepat. Mesin-mesin komputer mulai berfungsi di kantor desa.

Ritual "nonton bareng" (nobar) sinetron yang dulu menjadi hiburan satu-satunya dan pemersatu warga, telah bergeser. "Sekarang udah pada nggak nongkrong lagi lah. Nobar rame-rame jadi udah ada TV di rumah masing-masing," cerita Ali.

Bagi Ali, yang kini menjadi guru, memori paling kuat dari era pra-listrik adalah tentang perjuangan mencari cahaya untuk ilmu pengetahuan. Saat SD, ia dan anak-anak sebayanya seringkali harus belajar dan mengerjakan tugas dengan penerangan pelita.

Bahkan, tak jarang proses belajar harus berpindah ke ladang, karena keluarga lebih banyak tinggal di sana untuk menjaga padi dari hama.

Kini, sebagai pengajar, ia menyaksikan langsung dampak listrik yang paling fundamental: di bidang pendidikan. Sekolah tempatnya mengajar sudah menggunakan laptop dan peralatan elektronik pendukung.

Proses belajar-mengajar tidak lagi terbatas oleh waktu dan diterangi cahaya minim. Listrik telah membuka jendela informasi yang lebih lebar, memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi generasi penerus di Tandeallo.

Kehadiran listrik PLN di Tandeallo bukanlah solusi sempurna. Ia datang dengan caranya sendiri, tidak selalu radikal, tetapi konsisten. Ia belum mampu menggerakkan roda ekonomi desa secara masif, tetapi ia telah menyalakan lampu-lampu di setiap rumah, memutus rantai ketergantungan pada genset dan PLTA yang tak menentu.

Kisah Tandeallo menjadi bagian dari capaian elektrifikasi Indonesia yang menurut data Kementerian ESDM telah menyentuh rasio 99,8 persen.

Keadilan Energi Tak Boleh Berhenti

Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif CESS Ali Ahmudi Achyak mengapresiasi kemajuan ini. "Rasio elektrifikasi nasional sudah mendekati 99,8 persen. Itu artinya hampir seluruh desa telah menikmati listrik, termasuk di banyak wilayah 3T," ujarnya kepada Tirto.

Namun, menurut Ali Ahmudi, meski akses listrik telah merata, persoalan kualitas layanan masih menjadi pekerjaan rumah, misalnya terkait dengan kualitas layanan yang belum seragam.

“Kualitas layanan belum seragam: di beberapa daerah listrik hanya menyala 6-12 jam/hari, daya terbatas, dan gangguan masih sering terjadi,” ucapnya.

Namun, yang lebih penting, menurutnya, keadilan energi tidak boleh berhenti hanya pada akses. Menurutnya, keberhasilan elektrifikasi 3T jelas meningkatkan keadilan energi, yang membawa dampak positif pada pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi.

“Keadilan tidak berhenti di akses. Ia harus meluas ke kualitas dan keterjangkauan. Jika tarif tinggi atau suplai tidak stabil, masyarakat tetap belum sepenuhnya merasakan manfaat energi secara adil,” tuturnya.

Menanggapi tantangan ini, pemerintah melalui Program Listrik Desa (Lisdes) menargetkan pembangunan infrastruktur kelistrikan di 1.285 desa hingga akhir 2025. Target ini bagian dari proyeksi elektrifikasi 5.700 desa di 2030.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa akses listrik adalah hak fundamental seluruh rakyat Indonesia. Saat meninjau Program Listrik Desa di Musi Banyuasin (16/10/2025), Bahlil menyatakan pemerintah dan PLN berkomitmen mewujudkan elektifikasi merata paling lambat 2030.

"Kami menerjemahkan arahan Presiden Prabowo untuk menyelesaikan pemerataan listrik di seluruh Indonesia pada 2029-2030," kata Bahlil dalam keterangannya.

Presiden Prabowo Subianto sendiri memasang target konkret untuk membebaskan 5.758 desa dan 4.310 dusun dari kegelapan dengan melakukan elektrifikasi.

Meski mengakui investasi kelistrikan di daerah terpencil seringkali tidak ekonomis, Bahlil menekankan kehadiran negara tetap wajib diutamakan. "Biayanya memang tinggi, tapi ini bentuk keadilan sosial yang menjadi perhatian serius Pak Presiden," paparnya.

Rapat kebijakan subsidi pemerintah

Dirut PLN Darmawan Prasodjo (kanan) bersiap menghadiri rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/10/2024). Rapat tersebut membahas program kebijakan subsidi pemerintah. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

Sejalan dengan itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyambut komitmen ini dengan menyiapkan infrastruktur masif. Tahun ini saja, PLN akan membangun 4.770 kms jaringan menengah dan 3.265 kms jaringan rendah untuk mengaliri 1.285 desa, mengantarkan listrik ke 77 ribu keluarga.

"Ini tentang transformasi nyata. Listrik membuka pelajaran di malam hari, menggerakkan usaha, dan mendongkrak kesejahteraan desa," ujar Darmawan.

Pun demikian, bagi warga Tandeallo, meski tantangan masih ada, kehadiran listrik PLN telah membawa perubahan berarti. Tradisi berjaga di ladang dengan penerangan seadanya mulai berganti dengan pagar listrik tenaga surya. Anak-anak tidak lagi belajar dalam cahaya remang-remang pelita.

Perjalanan Tandeallo dari desa yang bergantung pada petromak menuju desa yang terang benderang mencerminkan perjalanan bangsa Indonesia menuju keadilan energi yang hakiki, tidak sekadar menyambungkan kabel, tetapi memastikan setiap warga negara merasakan manfaat listrik yang berkualitas, terjangkau, dan berkelanjutan.

Baca juga artikel terkait PLN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra