Menuju konten utama

Minyak Dunia US$107: Ekonom Desak Pertalite Jangan Naik

Harga minyak dunia meroket tembus US$107 per barel. Pemerintah didesak tahan harga Pertalite demi lindungi daya beli masyarakat bawah.

Minyak Dunia US$107: Ekonom Desak Pertalite Jangan Naik
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite bersubsidi ke tangki sepeda motor di SPBU Batoh, Banda Aceh, Aceh, Selasa (4/8/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional masih didominasi BBM bersubsidi, sedangkan sekitar 20 persen menggunakan BBM nonsubsidi, dan pemerintah juga memastikan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat. ANTARA FOTO/Akramul Muslim/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui level 107 dolar AS per barel memicu kekhawatiran atas stabilitas ekonomi dalam negeri. Di tengah tekanan pasar energi global tersebut, ekonom mendesak pemerintah untuk konsisten menahan harga BBM jenis Pertalite guna melindungi daya beli masyarakat dan mencegah terjadinya lonjakan inflasi.

Ekonom dari Universitas Negeri Manado (Unima), Dr. Robert R. Winerungan, menilai langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mempertahankan tarif Pertalite di angka Rp10.000 per liter dinilai sudah berada di jalur yang tepat.

Intervensi kebijakan dinilai menurut diperlukan karena lonjakan BBM dapat memicu efek domino, mulai dari naiknya biaya logistik hingga tingginya harga komoditas pokok di pasaran.

"Saya kira itu keputusan yang sangat bijak oleh pemerintah. Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali," kata Robert dalam keterangannya, dikutip Rabu (16/9/2026).

Menahan Efek Domino Mekanisme Pasar

Robert menekankan pentingnya menjaga skema harga Pertalite agar tidak serta-merta diserahkan pada mekanisme pasar. "BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat," kata Robert.

Ia juga memaparkan bahwa himpitan ekonomi saat ini telah mengubah perilaku konsumsi energi masyarakat. Pengguna kendaraan yang tadinya mengonsumsi Pertamax Turbo maupun BBM RON 92 kini banyak yang beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.

"Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik," kata Robert.

Beban APBN vs Manfaat Sosial Subsidi BBM

REALISASI BELANJA SUBSIDI 2022

Petugas mengisi bahan bakar minyak jenis Pertalite di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Kamis (29/9/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/YU

Meskipun menyadari bahwa celah harga keekonomian yang melebar akan menambah beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ia menilai manfaat sosial yang didapat jauh lebih besar.

"Memang subsidi bisa membengkak. Tapi manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan," ujarnya.

Di sisi lain, Pakar Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, mengingatkan bahwa penanganan komoditas strategis seperti BBM wajib dipertimbangkan secara komprehensif.

"Kita harus melihatnya dalam strukturnya, tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi juga stabilitas geopolitik, stabilitas ekonomi, dan sosial," kata Bonti.

Meskipun APBN sedikit terbebani dengan menahan harga Pertalite tetap terjangkau, namun ia menilai langkah ini perlu dilakukan untuk menahan dampaknya ke masyarakat menengah bawah.

Kendati demikian, Bonti memprediksi beban fiskal negara tidak akan berlangsung selamanya. Perubahan lanskap politik dan pasokan minyak global, termasuk keterlibatan industri minyak baru seperti Venezuela, diharapkan mampu meredakan krisis energi sehingga ketergantungan pada subsidi energi dapat dipangkas pada tahun mendatang.

“Sekarang dengan Venezuela yang sudah mulai dieksploitasi oleh Amerika, ini juga menjadi game changer untuk peta energi global. Artinya, pada tahun depan kondisi BBM mungkin bisa menjadi lebih stabil karena Amerika sudah memiliki sumber-sumber minyak baru sehingga kemungkinan krisis seperti saat ini dapat berkurang,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait BBM PERTALITE atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah