tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyinggung potensi kecurangan investor dalam memanfaatkan subsidi selisih harga listrik energi baru terbarukan. Menurutnya, praktik itu bisa terjadi lewat rekayasa belanja modal (capital expenditure/capex) yang menjadi dasar penentuan besarnya subsidi.
Dalam kasus pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pemerintah menanggung kompensasi atau subsidi atas kenaikan biaya pokok pembangkitan (BPP) PLN. Hal ini karena harga jual listrik panas bumi (sen/kWh) ditetapkan lebih tinggi dibanding pembangkit lain.
Pemerintah sendiri, melalui Peraturan Pemerintah nomor 112 tahun 2022, telah mematok harga listrik panas bumi yang menarik, yakni sekitar 9,5 sen per kilowatt-hour (kWh) untuk PLTP berkapasitas hingga 50 MW pada 10 tahun pertama.
Dengan asumsi itu, pengusaha diperkirakan baru bisa balik modal atau break-even point dalam waktu 10 tahun.
Namun, ia menilai periode balik modal bisa lebih singkat jika capex dikelola secara efisien. Ia bahkan menyinggung pengalamannya saat masih berbisnis, di mana praktik markup capex bukanlah hal yang asing.
"Hitungan saya sebagai mantan pengusaha, kalau capex-nya tidak dimarkup, paling tinggi 8 tahun break-even point. Pengusaha kan kita tahu lah, bagaimana cara capex naik, markup-markup dikit. Aku ahlinya juga dulu waktu jadi pengusaha," ujar Bahlil.
Menteri ESDM itu kemudian menjelaskan, setelah masa balik modal 8–9 tahun, tarif listrik panas bumi akan diturunkan menjadi 7,5 sen per kWh untuk 20 tahun berikutnya. Ini akan mengurangi BPP PLN dan secara perlahan menggerus beban kompensasi yang ditanggung pemerintah.
Ia juga menginstruksikan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM untuk segera mempercepat proses lelang proyek geothermal secara transparan.
Langkah ini, menurut Bahlil, merupakan bagian dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong reformasi regulasi sekaligus mempercepat realisasi investasi di sektor energi ramah lingkungan.
Ia pun menyebut panas bumi memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan yang akan menjadi pilar utama transisi energi nasional. Bahkan, proyek geothermal memiliki nilai ekonomi tinggi hingga layak disebut sebagai "emas uap."
"Teman-teman pengusaha yang telah punya geothermal, begitu IPO, pasti harga sahamnya naik berkali-kali lipat. Makanya barang ini seperti emas, namanya emas uap," kata Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
"Ini adalah energi masa depan. Di saat bersamaan tema-tema green industry, green energy, green job, ini sekarang lagi me-booming. Hampir semua belahan dunia, ketika orang berbicara tentang green, itu adalah sesuatu yang baik," tuturnya.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































