tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan Indonesia tidak akan lagi melakukan impor solar, khususnya jenis C48, mulai tahun 2026.
Langkah ini diambil menyusul keberhasilan program mandatori biodiesel B40 yang telah mampu menekan angka impor secara signifikan sepanjang tahun 2025. Kondisi ini menciptakan keseimbangan antara produksi dan konsumsi domestik.
“Dan dengan keberhasilan mandatori B40 Sekarang BBM kita di tahun 2025 kita impor solar itu tinggal kurang lebih 5 juta kiloliter. Dan sekarang di 2026 kami rencanakan tidak lagi akan melakukan impor solar, khususnya C48 karena antara konsumsi dan produksi dalam negerinya sudah seimbang. Seiring dengan blending dengan B40,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XII DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa realisasi kebijakan mandatori biodiesel pada tahun 2025 mencapai angka 14,2 juta kiloliter. Kata Bahlil, keberhasilan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri. Tetapi juga memberikan surplus cadangan bagi Indonesia.
Berdasarkan data kementeriannya, produksi solar dari Pertamina yang didukung oleh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan serta integrasi program B40 telah mengubah peta energi nasional.
“Akumulasi konsumsi B40 totalnya sekarang kita surplus kurang lebih sekitar 1,4 juta kiloliter. Oleh karena kita surplus 1,4 juta kilo liter, maka 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar,” tegas Bahlil.
Meski demikian, Bahlil menyebut pihaknya masih menyisakan sedikit celah impor untuk jenis bensin tertentu. Antara lain yakni C51 pada awal tahun ini, karena alasan teknis pada mesin.
Namun volume impor C51 dipastikan sangat rendah dan akan segera dihentikan pada semester kedua.
“Tetapi kalau C51 sekarang kita lagi mendesain mesinnya. Itu nanti di semester kedua baru tidak melakukan impor. Jadi semester satu tetap C51 kita impor. Tapi volumenya tidak banyak,” ujarnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































