Menuju konten utama

Bahlil: InsyaAllah Kita Enggak Impor Solar Lagi 2026

Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan mengembangkan biodiesel 50 persen (B50).

Bahlil: InsyaAllah Kita Enggak Impor Solar Lagi 2026
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)/Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia di kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2025). tirto.id/Muhammad Naufal

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan impor solah berencana disetop pada 2026. Sebab, pemerintah disebut akan meresmikan refinery development master plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur pada 10 November 2025.

"2026, insyaAllah kita enggak akan impor solar lagi. Kenapa? Karena RDMP kilang kita yang di Balikpapan insyaAllah 10 November ini akan kita resmikan," ucapnya di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2025).

Selain itu, Bahlil mengatakan pemerintah juga akan mengembangkan biodiesel 50 persen (B50) yang kini sedang dalam proses uji coba. Dengan demikian, sudah ada dua alasan mengapa pemerintah bakal menghentikan impor solar.

Dalam kesempatan itu, ia turut meyakini Pemerintah Pusat dapat memiliki stok berlebih untuk solar. Bahlil lantas berharap pemerintah dapat mengekspor solar.

"Kalau kita dorong B50 lagi untuk ke depan, berpotensi untuk kita bisa suplai kita bisa terjadi lebih terhadap solar dan bisa kita ekspor," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah menargetkan tak lagi mengimpor solar mulai 2026. Target ini disebut sebagai hasil evaluasi satu tahun kinerja pemerintahan era Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Bahlil, langkah penghentian impor ini ditempuh seiring keberhasilan program B50 yang telah mencapai tahap uji coba. Program itu dinilai mampu memenuhi kebutuhan solar dalam negeri tanpa ketergantungan pasokan luar negeri.

“Kita akan dorong sekarang B40 menuju B50. Nah, B50 ini sekarang lagi diuji cobakan. InsyaAllah di semester kedua akan kita implementasikan," ujar Bahlil di kompleks Istana Negara, Jumat (24/10/2025).

"Kalau ini sudah kita lakukan, maka impor BBM, khususnya solar, tidak lagi kita lakukan karena sudah memenuhi semua antara produksi dalam negeri dicampur dengan biotanol sudah bisa dicukupi," lanjut dia.

Bahlil berujar, Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 4,9-5 juta kiloliter solar per tahun. Namun, dengan penerapan B50, seluruh kebutuhan tersebut akan digantikan oleh produksi domestik.

Katanya, kebijakan transisi energi ini merupakan bagian dari arahan Prabowo agar Indonesia mandiri di sektor energi. Bahlil mengklaim kemandirian energi menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional.

Bahlil berujar selain mengurangi impor, program B50 juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit Indonesia. Mengingat, bahan baku biodiesel sebagian besar berasal dari minyak sawit mentah.

Dengan demikian, kebijakan itu diharapkan memberi dampak ekonomi positif bagi petani. Bahlil menambahkan pengalaman sukses dalam implementasi B30 hingga B40 menjadi landasan untuk melanjutkan program ke B50.

Baca juga artikel terkait BIODIESEL atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama