Menuju konten utama

Bagaimana Prinsip Islam Moderat dan Apa Saja Ciri-cirinya?

Apa yang dimaksud dengan Islam yang moderat? Simak penjelasan tentang pengertian, prinsip, dan ciri-ciri Islam moderat berikut ini.

Bagaimana Prinsip Islam Moderat dan Apa Saja Ciri-cirinya?
Warga berpelukan saat mengikuti acara silaturahim lintas agama dengan umat kristiani dalam perayaan Hari Raya Natal di Dusun Tekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (25/12/2023). ANTARA FOTO/Aji Styawan/nym.

tirto.id - Islam moderat adalah interpretasi Islam yang menekankan pada toleransi, kedamaian, kesetaraan, dan inklusivitas. Terminologi Islam moderat semula populer di kalangan cendekiawan muslim, dan kemudian lazim diasosiasikan dengan corak pemahaman keislaman yang humanis serta antiradikal.

Selama ini ada banyak versi definisi Islam moderat. Di salah satu versi yang populer, pengertian Islam moderat adalah paham keislaman yang tengah-tengah atau wasathiyyah. Kata moderat ini disejajarkan dengan wasathiyyah yang berarti tengah, adil, atau seimbang.

Kata 'wasath' dan derivasinya muncul beberapa kali dalam Al-Quran, salah satunya di surat al-Baqarah ayat 143. Ada kata ummatan wasathan di ayat ini. Rasyid Ridha dalam tafsir al-Mannar memaknai kata wasathan di ayat itu sebagai adil dan takhyir, atau tidak berlaku ifrath dan tafrith. Dua kata terakhir bisa berarti berlebihan (radikal) dan meremehkan (liberal).

Konsep Islam moderat menekankan pemahaman terbuka pada ajaran Islam, menghormati perbedaan antar-keyakinan, serta menyesuaikan nilai-nilai keislaman dengan konteks zaman yang berubah.

Muhammad Imarah dalam “Islam Moderat Sebagai Penyelamat Peradaban Dunia,” Seminar Masa Depan Islam Indonesia (2006) menjelaskan, paham Islam moderat berbicara bahwasannya Allah memuliakan semua anak manusia tanpa membedakan suku bangsa, bahasa, dan agama. Maka, keutamaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya, bukan realitas sosialnya.

Prinsip-prinsip Islam Moderat

Konsep Islam moderat sebenarnya masih menjadi narasi yang terus berkembang, meskipun penggunaan istilah ini semakin lazim buat membedakan paham keislaman yang berorientasi pada kedamaian dengan radikalisme. Namun, beberapa prinsip Islam moderat sebenarnya telah lama hidup di ajaran Islam.

Muhammad Wahid Nur Tualeka melalui artikel "Kehidupan Berbangsa Dengan Prinsip Moderasi" di dalam Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Studi Agama-Agama (Vol. 9, 2023) menjelaskan setidaknya terdapat 10 prinsip Islam moderat, yakni sebagai berikut:

1. Wasathiyah (jalan tengah)

Wasathiyah adalah cara pandang yang mengambil jalan tengah, tanpa melebih-lebihkan agama sendiri dan merendahkan ajaran lain. Hal ini bisa berarti pemahaman yang menggabungkan teks agama dan konteks relasi sosial. Dalam praktiknya, wasathiyah bermakna mengambil posisi tengah di antara dua pandangan yang saling berlawanan, dengan kata lain tidak ekstrem kanan maupun kiri.

2. Tawazun (seimbang)

Tawazun adalah meyakini bahwa keseimbangan tak boleh menyimpang dari garis yang telah ditentukan. Istilah Tawazun berasal dari kata 'mizan' yang berarti keseimbangan atau timbangan.

Namun, mizan tidak dimaknai sekadar alat atau benda untuk menimbang, melainkan sebagai adil dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap dunia maupun kehidupan kekal setelah kematian.

3. I'tidal (lurus atau obyektif dan proporsional)

Istilah 'I'tidal' berasal dari kata Arab 'adil' yang artinya sama. Prinsip i'tidal mengharuskan Umat Islam bersikap adil dan selalu jujur kepada semua orang. Keadilan adalah nilai luhur dari ajaran agama. Amal yang tidak masuk akal terjadi karena tidak adanya sikap adil.

4. Tasamuh (toleransi)

Tasamuh berasal dari bahasa Arab, samhun yang berarti 'memudahkan'. Toleransi adalah perilaku yang menghargai perbedaan. Toleransi bermakna menghormati, bukan membenarkan atau mengikuti ajaran yang lain. Toleransi penting dipraktikkan dalam kehidupan sosial agar kerukunan dan persatuan terjaga.

5. Musawah (kesetaraan)

Musawah berarti kesetaraan. Islam tidak membeda-bedakan manusia dari sudut pandang pribadi. Setiap orang memiliki derajat yang sama dengan lainnya tanpa memandang jenis kelamin, ras, suku, budaya, kelas sosial, kekayaan, maupun keyakinan. Dalam ajaran Islam, kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT ditentukan oleh ketakwaannya.

6. Syuro (musyawarah)

Istilah Syuro berasal dari kata syawara yusawiru, yang berarti membuat, menyatakan, atau menerima pernyataan. Musyawarah adalah cara menyelesaikan masalah dengan berdiskusi untuk mencapai kata mufakat. Musyawarah bertujuan untuk menjunjung kepentingan bersama.

7. Islah (menjaga kebaikan dan kedamaian)

Islah berakar pada kosa kata bahasa Arab dan berarti memperbaiki atau mendamaikan. Dalam konsep moderasi, Islam mengajarkan cara merespons perubahan zaman dengan menitikberatkan pada kebaikan bersama. Prinsip islah mengedepankan pelestarian nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

8. Awlawiyah (prioritas)

Al-awlawiyyah adalah bentuk jamak dari al-aulaa,yang artinya penting atau utama. Terkait dengan sikap moderat, prinsip Awlawiyah mengutamakan kepentingan umum yang bermanfaat bagi masyarakat serta bangsa.

9. Tathawur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif)

Tathawwur wa Ibtikar bersifat dinamis dan inovatif, yang berarti gerak dan pembaharuan, serta selalu terbuka untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembaharuan untuk kemajuan dan kemaslahatan umat.

10. Tahadhdhur (beradab atau berkeadaban)

Prinsip tahadhdhur adalah menumbuhkan moralitas, kepribadian, keluhuran budi, jati diri, dan integrasi umat dalam kehidupan peradaban manusia. Sikap beradab penting didukung dengan pengetahuan luas, kebijaksanaan, toleransi, dan menghormati orang lain. Prinsip ini mendorong agar tidak bertumpu pada pendapat pribadi belaka, tetapi juga mempertimbangkan sudut pandang orang lain.

Prinsip-prinsip Islam moderat di atas bukan rumusan baku, karena ada kemungkinan versi lain. Sebagai contoh, Kementerian Agama RI selama ini juga menyerukan 9 prinsip moderasi beragama, yang terdiri atas:

  • Tawassuth (mengambil jalan tengah)
  • I’tidal (bersikap objektif dan proporsional)
  • Tasamuh (toleran/ramah terhadap perbedaan)
  • Musyawarah atau berunding
  • Ishlah (menjaga kebaikan dan kedamaian)
  • Qudwah (kepeloporan dalam memimpin)
  • Muwathanah (cinta tanah air)
  • Anti-kekerasan
  • I’tiraf al-‘Urf (Ramah terhadap budaya).

Ciri-ciri Islam Moderat

Mengingat konsep Islam moderat merupakan wacana yang masih berkembang, ada beberapa pendapat tentang ciri-cirinya.

Sebagai misal, Dr Ahmad Syahri melalui Moderasi Islam: Konsep dan Aplikasinya dalam Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2021) menyebutkan ciri-ciri Islam moderat adalah:

  • Memiliki sikap terbuka, tawadlu, dan percaya diri
  • Memberikan manfaat bagi orang lain
  • Memahami realitas
  • Memahami fikih prioritas
  • Menghindari fanatisme berlebihan
  • Mengedepankan prinsip kemudahan dan kemaslahatan dalam beragama.

Sementara itu, Dr Muchlis M. Hanafi melalui Moderasi Islam: Menangkal Radikalisasi Berbasis Agama (2013) menerangkan enam ciri-ciri Islam Moderat sebagai berikut:

1. Memahami realitas (fiqh al-waqi)

Umat Islam yang moderat mampu mengambil sikap dan membaca realitas yang ada dalam menerapkan ajara agama maupun bersikap. Mereka akan mempertimbangkan baik dan buruknya segala sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak atau mengambil keputusan.

2. Memahami Fiqih Prioritas (fiqh al-awlawiyyat)

Umat Islam yang moderat memahami apa saja yang hukumnya wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mereka juga tahu mana kewajiban individu dan kewajiban komunal serta paham dasar pokok maupun cabang dalam hukum Islam.

Sikap moderat ditunjukkan dengan tidak memprioritaskan hal-hal sunnah sehingga melalaikan perkara wajib. Islam moderat juga mengutamakan perkara pokok dalam Islam di atas persoalan furui’yyah (cabang). Contoh sikap Islam moderat dalam konteks ini ialah tidak mempersoalkan secara berlebihan perbedaan penentuan awal bulan puasa atau Idul Fitri mengingat hal itu merupakan perkara furu'iyyah, sebab persatuan umat lebih penting.

3. Memahami sunnatullah

Memahami sunnatullah adalah mengerti bahwa segala sesuatu melalui proses. Hal ini sebagaimana wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap. Maksud ciri ini ialah bahwa muslim yang moderat memahami bahwa upaya menegakkan ajaran Islam memerlukan proses, sesuai sunnatullah untuk segala hal. Dengan demikian, sudut pandang yang mengedepankan cara cepat, seperti menggunakan kekerasan, harus ditinggalkan.

4. Memberikan keleluasaan dalam beragama

Islam moderat memandang bahwa agama itu mudah, tapi jangan dipermudah. Maka itu, sikap moderat berarti mencari cara agar masyarakat mudah menjalankan agama sehingga tidak harus menafsirkan teks-teks keislaman secara kaku. Sebab, penafsiran yang kaku bisa mempersulit umat dalam menjalankan agama.

5. Memahami teks keagamaan secara komprehensif

Teks keagamaan saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa dipahami setengah-setengah. Jika diartikan secara separuh saja, akan menghasilkan kekeliruan tafsir.

Maka itu, umat Islam yang moderat akan berusaha memahami al-Qur’an dan hadits secara menyeluruh untuk menangkap pokok ajarannya. Pemahaman secara sepenggal pada teks-teks pokok keislaman bisa memicu masalah karena satu ayat dengan ayat lain maupun hadits saling berkaitan.

6. Bersikap Toleran dan Terbuka

Toleransi adalah ciri Islam moderat. Perbedaan dalam kehidupan sosial adalah hal yang pasti terjadi, ini perlu dihadapi dengan pikiran terbuka dan toleransi. Keterbukaan juga berarti menghargai perspektif orang lain dalam berbagai persoalan, termasuk pilihan keyakinan.

Apa Perbedaan Islam Moderat dan Islam Radikal?

Islam moderat selama ini lebih sering diasosiasikan sebagai antitesis dari 'Islam Radikal'. Meski begitu, Islam moderat berbeda dari pemahaman Islam yang liberal.

Banyak kalangan selama ini meyakini Islam moderat merupakan alternatif terbaik untuk membendung perluasan pengaruh paham 'Islam radikal', istilah yang merujuk kepada sikap fanatik berlebihan dalam beragama dan mengedepankan kekerasan untuk 'membela' keyakinan.

Isroji dalam artikel "Islam Moderat dan Rahmatan Lil 'Alamin" yang dipublikasikan di laman Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, menjelaskan sejumlah perbedaan antara Islam moderat dan Islam radikal sebagai berikut:

1. Toleransi dan kedamaian

Paham Islam moderat mengedapankan toleransi antarumat beragama, kerjasama antarbudaya, serta perdamaian dan harmoni dalam masyarakat.

Di lain pihak, Islam radikal cenderung mengadopsi pandangan eksklusif, menolak toleransi terhadap mereka yang tidak satu aliran atau sama keyakinannya, dan sering mempromosikan kekerasan sebagai cara untuk memperjuangkan tujuan-tujuan politik maupun agama.

2. Interpretasi ajaran

Islam moderat menganut pendekatan yang terbuka dan kontekstual dalam memahami ajaran Islam, dengan memperhatikan konteks zaman dan nilai-nilai universal seperti keadilan, kesetaraan, dan perdamaian.

Sementara itu, Islam radikal cenderung mengadopsi interpretasi ajaran yang literal dan dogmatis, sering kali mengesampingkan konteks dan mengedepankan pandangan yang ekstrem serta eksklusif.

3. Hubungan antara muslim dan non-muslim

Paham Islam moderat mendorong dialog, kerja sama, dan keterlibatan positif antara umat Islam dan non-Muslim dalam masyarakat yang multikultural seperti di Indonesia.

Di lain sisi, Islam radikal memandang non-Muslim sebagai musuh atau malah target untuk diperangi dan dikonversi keyakinannya. Mereka bahkan bereaksi keras kepada umat Islam yang berbeda pandangan.

4. Pemahaman terhadap hukum Islam (Syariah)

Islam moderat menyadari fleksibilitas dalam penerapan hukum Islam (syariah), mengakui perbedaan interpretasi, serta menekankan pada prinsip keadilan dan kemaslahatan sosial.

Ini berbeda dengan Islam radikal yang mengadvokasi penerapan hukum Islam secara literal dan keras, tanpa mempertimbangkan konteks sosial atau kemanusiaan.

5. Sikap terhadap negara dan kewarganegaraan

Islam moderat mengakui dan menghormati otoritas negara serta mengamalkan kewarganegaraan yang bertanggung jawab dan berpartisipasi dalam proses demokrasi sesuai dengan ideologi Pancasila.

Sebaliknya, Islam radikal cenderung menolak otoritas negara, mempromosikan agitasi, serta penolakan dan pemberontakan terhadap pemerintahan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam versinya.

Baca juga artikel terkait AGAMA ISLAM atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Addi M Idhom