Eep Saefulloh Fatah
Pendiri dan CEO PolMark Indonesia, Pusat Riset dan Konsultasi Political Marketing

Perang Melawan Radikalisme?

4 Desember 2019
Dibaca Normal 1 menit
Belakangan ini, banyak pejabat tinggi menggelorakan perang melawan radikalisme. Banyak pidato dan pernyataan pejabat diisi oleh anjuran-anjuran deradikalisasi.

Jika yang dimaksudkan dengan radikalisme adalah pikiran sesat penuh kebencian membabi buta kepada orang lain yang berbeda, maka saya siap terlibat dalam perang itu. Kebencian membabi buta, apapun justifikasinya—agama atau apa saja—adalah salah.

Secara khusus, perang terhadap radikalisme ditujukan ke kalangan Islam. Ini terlihat dengan mudah dari ujaran-ujaran para pejabat tinggi, mulai dari para menteri hingga wakil presiden dan presiden.

Berperang tentu silakan saja. Tapi akal sehat dan laku adil ada baiknya tetap terjaga. Karena itu, sebelum perang makin menggelora meluap membesar, ada baiknya kita bedakan tiga jenis perang: perang melawan radikalisme, perang melawan umat Islam, dan perang melawan Islam.


Radikalisme—sebagai pikiran sesat penuh kebencian membabi buta terhadap siapapun yang berbeda—bisa diidap oleh siapa saja, oleh penganut agama apa saja. Jika kita bicara soal lima agama misalnya, kita tak bisa hanya menggunakan satu jari telunjuk untuk menuding ke arah umat Islam. Atas nama akal sehat dan laku adil, selayaknya kita gunakan seluruh lima jari kita. Masing-masing satu jari untuk setiap agama.

Jika ada di antara umat Islam terpapar radikalisme, atas nama akal sehat dan laku adil, jangan salahkan Islam, baik secara eksplisit maupun implisit. Islam tak pernah mengajarkan kebencian membabi buta dan intoleransi harga mati. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama umat manusia dan semesta.

Jika ada orang Islam kehilangan cinta kasih, jangan lalu ambil kesimpulan bahwa Islam tak mengajarkan cinta kasih. Alih-alih, orang yang bersangkutan justru sedang menjauhi agamanya. Orang itu berkhianat pada Islam.

Itu berlaku untuk semua umat agama yang mengajarkan cinta kasih: Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun Konghucu. Jika ada segelintir umat agama-agama ini yang tersesat dan penuh kebencian membabi buta pada siapapun yang berbeda dengan mereka, kesalahan tidak terletak pada Kristen, Katolik, Hindu, Budha maupun Konghucu. Justru segelintir orang itu sedang menjauh dari agama yang dianutnya.

Kekeliruan segelintir orang Islam bukanlah kekeliruan umat Islam dan apalagi kekeliruan Islam. Kita tak perlu membuka-buka buku Dasar-Dasar Logika untuk sampai pada kesimpulan yang amat sangat sederhana ini.

Atas nama akal sehat dan laku adil, jika hendak memerangi orang-orang radikal, jangan perangi umat Islam apalagi Islam. Prinsip ini berlaku untuk agama-agama dan umat agama-agama lainnya.


Saya khawatir, karena sangat bersemangat menggelorakan perang, akal sehat dan laku adil kurang terpakai. Akibatnya, kita mencampur-baurkan ketiga perang yang berbeda itu—perang melawan radikalisme, melawan umat Islam, dan melawan Islam.

Saya tidak khawatir pada ramainya pidato dan pernyataan tentang perang melawan radikalisme. Yang saya khawatirkan adalah pidato dan ujaran perangnya ditujukan terhadap radikalisme tetapi sejatinya peperangannya melenceng menyasar umat Islam, bahkan menyasar Islam. Perang seperti ini keliru sekeliru-kelirunya.

Saya juga khawatir, jika kekeliruan itu terus berlangsung mereka yang berperang akan tergulung oleh perang yang dikobarkannya sendiri. Saya khawatir, peperangan yang keliru itu akhirnya bermetamorfosis menjadi peperangan melawan diri sendiri.

Saya khawatir, dalam pengadilan akal sehat dan laku adil, dalam kesenyapan diri setiap orang, siapapun yang berperang akhirnya mengakui sendiri. "Ya ampun, saya akhirnya terbunuh. Dan pelaku pembunuhan itu ternyata saya sendiri!"

Itulah kekhawatiran saya. Dan setahu saya, kebebasan warga negara membocorkan kekhawatirannya dijamin konstitusi. Apalagi, ungkapan khawatir ini didorong niat baik. Niat baik untuk menggelorakan perang yang akan makin mempersatukan, bukan yang membuat kita jadi semakin tercerai-berai.

Berperang melawan radikalisme itu perlu. Tetap merawat akal sehat dan laku adil sama perlunya.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight