Menuju konten utama

Kendalikan Konsumsi Video Pendek, Jaga Kemampuan Berpikir Anak

Konten brainrot seperti video menari tanpa makna hingga lelucon berbahaya mendominasi konsumsi media anak usia 6-14 tahun di Indonesia.

Kendalikan Konsumsi Video Pendek, Jaga Kemampuan Berpikir Anak
Header Perspektif Rebecca Raphael Angelica Simorangkir. tirto.id/Parkodi

tirto.id - Di tengah gempuran media sosial pada seluruh kalangan usia, tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami pembajakan neurologis massal. Media sosial penyuguh video pendek seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels telah merancang algoritma yang secara sengaja mengeksploitasi sistem dopamin hadiah di otak.

Menurut penelitian dari University of California yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Addictions tahun 2023, paparan konten video pendek selama lebih dari dua jam per hari dapat mengubah struktur prefrontal cortex anak, area otak yang bertanggung jawab untuk kontrol impuls dan fokus.

Kini, lebih mengkhawatirkan lagi, saya mengamati bahwa anak-anak di sekitar saya memiliki rentang perhatian sangat pendek. Contohnya, ketika saya sedang mengajar baca tulis di salah satu komunitas di Yogyakarta, anak-anak cenderung hanya fokus beberapa detik, kemudian sangat cepat terdistraksi.

Dalam Dopamine Nation (2021), Dr. Anna Lembke dari Stanford University menyebutkan bahwa stimulasi dopamin berlebihan dari konten digital menciptakan toleransi neurologis, membuat aktivitas normal seperti membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru terasa membosankan.

Ada pihak yang berargumen bahwa perkembangan teknologi selalu menciptakan adaptasi kognitif baru. Mereka yakin, generasi sebelumnya juga khawatir dengan televisi dan video gim, tapi manusia tetap berkembang. Generasi digital justru memiliki kemampuan multitugas yang lebih baik.

Namun, saya menolak perbandingan tersebut. Ada perbedaan fundamental antara media tradisional dengan video pendek. Televisi dan video gim masih memiliki narasi yang koheren dan durasinya memungkinkan pengembangan atensi.

Sebaliknya, video pendek dirancang khusus untuk menghindari kebosanan dengan terus mengganti stimulus setiap beberapa detik. Kemampuan multitugas yang diklaim sebenarnya adalah peralihan tugas yang justru menurunkan kualitas fokus pada setiap aktivitas.

Dampak Sistemik: Dominasi Konten Sampah dan Krisis Literasi

Body Artikel Bakti Djarum Foundation 12

Finalis Rebecca Raphael Angelica Simorangkir saat melakukan presentasi di Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025. (FOTO/dok.Bakti Djarum Foundation)

Fenomena konsumsi konten di media sosial berbasis video pendek oleh anak-anak Indonesia patut mendapat perhatian serius. Berdasarkan pengamatan dan tren yang berkembang, konten brainrot seperti video menari tanpa makna, lelucon berbahaya, dan meme tanpa substansi tampak mendominasi konsumsi media anak usia 6-14 tahun di Indonesia.

Sementara itu, konten edukatif berkualitas terlihat kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan video viral seperti “Skibidi Toilet” yang telah mencapai popularitas tinggi dengan miliaran kali penayangan di YouTube Shorts.

Hilangnya kemampuan anak untuk memproses informasi secara mendalam juga sangat mengkhawatirkan. Saya mengamati, anak-anak generasi ini kesulitan membedakan informasi yang kredibel dengan hoaks. Hal ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan menerima informasi dalam bentuk potongan-potongan pendek tanpa konteks.

Dr. Sherry Turkle dari MIT menjelaskan, kemampuan membaca dengan pemahaman serta analisis sedang mengalami erosi massal pada anak, khususnya mereka yang merupakan generasi alfa. Dampaknya sudah terlihat nyata dalam sistem pendidikan.

Berdasarkan laporan Program for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia turun 11 poin dari periode sebelumnya, dengan penurunan paling drastis terjadi pada aspek “membaca untuk kesenangan” dan “evaluasi kritis terhadap informasi.”

Catatan di atas bukan kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari perubahan pola konsumsi informasi generasi video pendek.

Di media sosial, saya melihat banyak orang berargumen bahwa video pendek justru mendemokratisasi akses pendidikan. Hal ini dirasa bermanfaat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Selain gratis, banyak konten edukatif berkualitas tersedia dengan cara penyampaian yang lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan buku biasa.

Video pendek memang sering dianggap berperan sebagai media edukasi, tapi data menunjukkan sebaliknya. Algoritma platform dirancang untuk memaksimalkan waktu interaksi, bukan nilai edukatif. Laporan Statistik Pendidikan yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik tahun 2024 menyebut hanya 27 persen dari konsumsi anak berupa konten edukatif, membuktikan bahwa akses demokratis tidak otomatis menghasilkan konsumsi yang berkualitas.

Krisis Wawasan Kebangsaan di Era Digital

Hal paling mengkhawatirkan adalah hilangnya wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Saya sering mendapati video viral anak-anak usia sekolah dasar tidak mampu menjawab pertanyaan dasar tentang Indonesia. Ketika ditanya tentang isi Pancasila atau nama pahlawan nasional, mereka justru memberikan jawaban yang mengundang tawa dan justru mencerminkan ketidaktahuan yang memprihatinkan.

Di balik gelak tawa penonton, tersembunyi realitas bahwa generasi penerus bangsa lebih fasih dengan tren internasional dibandingkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi Indonesia. Berdasarkan survei Survei Nasional Literasi oleh Kemendikbud, kalangan pelajar SD-SMP lebih mengenal karakter fiksi dari konten luar negeri dibandingkan tokoh sejarah Indonesia. Dampaknya terhadap pembangunan bangsa akan sangat serius.

Ada pandangan, globalisasi melalui media digital adalah hal positif yang membuat anak-anak Indonesia menjadi lebih siap dengan perbedaan. Pengetahuan tentang tren dan budaya internasional lebih relevan di era global dibandingkan hafalan sejarah lokal yang dianggap kuno.

Namun, saya merasa menjadi generasi penerus bangsa tidak boleh kehilangan identitas lokal. Justru identitas yang kuat menjadi modal utama untuk berpartisipasi dan bermakna dalam komunitas global. Anak-anak yang tidak memahami nilai Pancasila atau sejarah bangsanya akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh eksternal dan kehilangan kemampuan untuk memberikan kontribusi otentik.

Solusi Pertama: Program Literasi Media Digital

Saya percaya krisis ini bukan akhir dari segalanya. Justru inilah momentum untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat menyelamatkan kemampuan kognitif generasi penerus bangsa.

Pertama, saya mengusulkan implementasi program yang akan mengajarkan anak-anak untuk bijak dalam mengonsumsi konten digital. Konsep ini sudah mulai diterapkan beberapa sekolah di Singapura melalui pelajaran pendidikan literasi media yang wajib diajarkan sejak kelas 1 SD.

Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan anak membedakan informasi berkualitas dengan konten sampah digital. Indonesia memiliki peluang untuk mengadaptasi dan mengkontekstualisasikan program serupa dengan budaya lokal.

Tidak bisa dimungkiri, implementasi program literasi media di sekolah akan mengalami kendala infrastruktur dan sumber daya manusia yang signifikan. Banyak sekolah di Indonesia, terutama di daerah terpencil, masih kekurangan guru berkualitas dan akses internet yang memadai. Mengingat kelemahan tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih bertahap dan berbasis komunitas.

Program literasi digital komunitas dapat dimulai dari tingkat RT/RW dengan memanfaatkan tokoh masyarakat dan relawan lokal. Pertemuan informal mingguan di balai RT, tempat orang tua belajar bersama tentang pengawasan digital anak. Dengan upaya seperti ini, program ini dapat memanfaatkan gawai yang sudah ada tanpa membutuhkan infrastruktur tambahan yang mahal.

Solusi Kedua: Kolaborasi dengan Platform Media Sosial

Kedua, saya meyakini pentingnya kolaborasi dengan media sosial untuk menciptakan algoritma sehat, khususnya untuk pengguna anak Indonesia. Algoritma ini akan memprioritaskan konten edukatif lokal, membatasi durasi penggunaan harian, dan memberikan pengingat istirahat setiap 15 menit. TikTok sudah mulai menguji fitur serupa di negara Cina dengan hasil positif dalam meningkatkan kualitas konten edukatif untuk anak.

Hal ini mungkin memicu konflik kepentingan yang fundamental. Media sosial beroperasi dengan model bisnis berbasis iklan yang bergantung pada tingkat keterlibatan dan waktu layar pengguna. Meminta mereka membatasi durasi penggunaan sama dengan meminta mereka mengurangi pendapatan. Selain itu, algoritma “sehat” membutuhkan pengumpulan data personal yang ekstensif.

Dengan adanya keresahan ini, pemerintah perlu menerapkan regulasi yang lebih tegas melalui “Undang-Undang Perlindungan Anak Digital”. Regulasi ini harus mewajibkan semua media sosial yang beroperasi di Indonesia untuk menyediakan kontrol orang tua yang mudah digunakan dan membatasi iklan yang menargetkan anak-anak. Sanksi yang tegas harus diberlakukan bagi platform yang tidak mematuhi aturan ini, termasuk pemblokiran akses jika diperlukan.

Solusi Ketiga: Jam Tanpa Ponsel di Tingkat Keluarga

Ketiga, saya pikir tingkat keluarga perlu menerapkan jam tanpa ponsel dan menggantinya dengan aktivitas fisik, membaca buku, atau permainan tradisional. Gerakan ini bukan berarti antiteknologi, melainkan menerapkan keseimbangan dan kontrol.

Penerapan jam tanpa ponsel di tingkat keluarga mungkin mengabaikan realitas sosial ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia. Banyak keluarga bergantung pada gawai untuk mencari nafkah melalui ojek daring, penjualan daring, atau pekerjaan lepas. Solusinya adalah pemanfaat fasilitas publik yang sudah ada dapat dioptimalkan tanpa biaya tambahan yang besar. Perpustakaan daerah, taman kota, lapangan olahraga, dan balai desa yang tersedia dapat membuat program rutin berupa waktu keluarga (family time) tanpa gawai.

Cukup dengan pengumuman dan koordinasi sederhana dari pemerintah daerah atau komunitas setempat, keluarga dapat memiliki alternatif aktivitas gratis yang menarik. Pendekatan ini tidak memerlukan anggaran baru, hanya optimalisasi aset yang sudah ada dengan jadwal terstruktur.

Urgensi Tindakan Nyata

Saya ingin menekankan bahwa ini bukan lagi waktunya untuk berdebat apakah teknologi baik atau buruk. Generasi brainrot sudah menjadi kenyataan, dan dampaknya akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia 20 tahun ke depan.

Jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan menghadapi generasi yang tidak mampu berpikir kritis, mudah dimanipulasi, dan kehilangan keunggulan kompetitif di era global. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas generasi yang mampu berpikir jernih, fokus, dan kritis. Saya yakin, dengan kesadaran kolektif dan langkah strategis, kita masih bisa menyelamatkan kemampuan kognitif anak-anak Indonesia dari jerat manipulasi algoritma digital.

Sebelum terlambat, sekarang, saatnya bertindak.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris Universitas Universitas Sanata Dharma, penerima Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) 2024/2025. Tirto.id bekerja sama dengan Djarum Foundation menayangkan 16 Finalis Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.

Baca juga artikel terkait BESWAN DJARUM atau tulisan lainnya dari Rebecca Raphael Angelica Simorangkir

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Rebecca Raphael Angelica Simorangkir
Editor: Zulkifli Songyanan