Ayat Al-Qur'an Tentang Memaafkan Orang Lain dan Makna Sifat Pemaaf

Oleh: Cicik Novita - 25 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Ayat Al-Qur'an tentang memaafkan orang lain, bagaimana makna seorang pemaaf tanpa ada rasa benci dan rasa ingin membalas.
tirto.id - Pemaaf merupakan sifat yang mulia sehingga Islam sangat menganjurkan seorang muslim memiliki sifat tersebut.

Sifat pemaaf dalam bahasa Arab disebut al-‘afw yang dalam kamus Al Munawwir arti bahasanya adalah penghapusan, ampun, bertambah, atau anugerah.

Secara makna, pemaaf berarti seorang yang rela memberi maaf kepada orang lain, memaafkan kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci dan rasa ingin membalas.

Kata al-afw dipakai dalam Al-Qur-an sebanyak 2 kali yaitu di dalam QS. Al-Baqarah: 219 serta dalam QS. Al-A’raf : 199.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang berlebih dari keperluan”. (QS. Al-Baqarah: 219).

Merujuk laman UNY, kata al-‘afw yang digunakan dalam ayat tersebut bermakna bertambah atau berlebih. Makna itu lalu berkembang menjadi “memaafkan atau menghapuskan” dalam QS. Al-A’raf: 199 berikut ini:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

Salah satu dari asma atau nama (sifat) Allah Subhanahu wata’ala, juga menggunakan Al-‘Afw yang maknanya Maha Pemaaf, terdapat dalam QS. Al-Mujadilah: 2.

وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ...

Artinya: Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Walau terkadang berat dan sulit, namun Allah menganjurkan seorang muslim untuk memaafkan orang lain yang berbuat salah kepadanya.

Pemaaf adalah salah satu sifat milik orang yang bertakwa, selain sifat suka bersedekah dan menahan amarah (sabar). Hal itu terdapat dalam QS. Ali-Imran: 133-134 berikut ini:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,"

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Memaafkan tidak hanya sekedar formalitas yang terucap saja, namun harus disertai dengan berlapang dada dan ikhlas tanpa ada keinginan untuk membalas kejahatan yang sudah dilakukan oleh orang lain tersebut.

Di dalam Al Quran surat Al-Maidah ayat 13, Allah SWT menegaskan bahwa memaafkan dan membiarkan orang yang berbuat salah (tidak membalas) itu termasuk perbuatan baik yang disukai-Nya.

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah : 13)

Demikian pula dalam QS. Al-Nur: 22 seperti berikut:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Nur: 22)

Rasa marah apabila orang lain berbuat jahat dan menyakiti diri kita terkadang membuat hati terasa berat sekali untuk memaafkan dan mengikhlaskan.

Namun sebenarnya jika kita menyerahkan seluruh masalah kepada Allah Subhanahu wata’ala saja, maka memaafkan akan menjadi lebih ringan.

Yakini saja bahwa Allah adalah sebaik-baik Hakim yang akan memberi keadilan kepada seluruh umat-Nya.

Mungkin saat ini terasa tidak adil jika kita hanya memaafkan semua salah orang lain, namun di balik itu semua ada hukum Allah yang akan berlaku baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bukankah kita juga ingin semua kesalahan kita diampuni oleh Allah?

Sebagaimana Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang dengan mudah memaafkan semua saudara-saudaranya yang telah berusaha membunuh Beliau dengan memasukkannya ke dalam sumur, diabadikan dalam QS. Yusuf: 92 berikut ini:

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya: “Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang". (QS. Yusuf: 92).

Hikmah menjadi seorang yang pemaaf


Menjadi seorang yang pemaaf akan selalu mendapatkan hikmah tersendiri.

Selain karena Allah menyukai orang yang bersifat pemaaf, di kehidupan sehari-hari pun orang yang pemaaf akan mendapatkan perlakuan baik dari orang lain yang dimaafkan kesalahannya.

Selain itu, menjadi pemaaf dapat memperpanjang silaturahim dengan orang lain karena hatinya tidak menyimpan dendam.

Ia mampu berhubungan baik dengan semua orang termasuk juga dengan orang yang pernah berbuat salah terhadapnya.

Pemaaf adalah salah satu sifat orang yang bertakwa, yang pasti akan diganjar dengan kebaikan oleh Allah Subhanahu wata’ala.


Baca juga artikel terkait AYAT AL-QURAN atau tulisan menarik lainnya Cicik Novita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Cicik Novita
Penulis: Cicik Novita
Editor: Dhita Koesno
DarkLight