Menuju konten utama

Update Perang Iran-AS: Trump Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata

Trump mengumumkan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Sementara itu, Iran belum merespons keputusan tersebut.

Update Perang Iran-AS: Trump Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bekerja di Kamar Kepresidenan sambil menerima perawatan setelah di tes positif penyakit virus korona (COVID-19) di Walter Reed National Military Medical Center di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat, Sabtu (3/10/2020). ANTARA FOTO/Joyce N. Boghosia/The White House/Handout via REUTERS/aww/cfo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memperpanjang periode gencatan senjata dengan Iran. Hal ini disampaikan AS usai negosiasi tahap dua yang digelar di Islamabad pada Selasa (21/4/2026).

Melalui unggahan di akun Truth Socialnya, Donald Trump menyebut jika keputusan untuk memperpanjang gencatan senjata adalah permintaan dari perwakilan Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator dalam perundingan tersebut.

Trump menyetujui permintaan perwakilan Pakistan itu dengan mengatakan jika pihak AS akan menahan serangan sampai kubu Iran menyepakati proposal terbaru mereka dan maju ke meja perundingan damai.

“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulis Trump di akun @realDonaldTrump.

“Oleh karena itu, saya telah mengarahkan Militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan cara apa pun,” lanjutnya.

Iran Belum Respons Negosiasi AS

Salah satu isu utama dalam konflik ini adalah kendali atas Strait of Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Iran menggunakan posisinya di selat tersebut sebagai alat tekanan, sedangkan AS berupaya memaksa agar jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.

Dampak dari ketegangan ini terlihat jelas pada lonjakan harga minyak global, yang meningkat tajam sejak konflik dimulai.

Ketidakhadiran delegasi Iran dalam perundingan damai tahap 2 yang seharusnya digelar pada Selasa (21/4) di Islamabad, disebabkan oleh blokade AS atas Selat Hormuz.

Apalagi sebelumnya, militer AS juga telah menyita sebuah kapal kontainer Iran pada Minggu (19/4/2026).

Tujuan AS memberlakukan blokade Selat Hormuz adalah memaksa Teheran menghentikan cengkeramannya atas selat tersebut dan memastikan jalur pelayaran kembali terbuka tanpa hambatan.

Namun, Iran justru menjadikan pencabutan blokade ini sebagai syarat utama untuk kembali ke meja perundingan.

“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan dengan demikian merupakan pelanggaran gencatan senjata. Menyerang kapal dagang dan menyandera awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar lagi. Iran tahu bagaimana menetralisir pembatasan, bagaimana membela kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi di akun X @araghchi, Rabu (22/4/2026).

Duta besar Iran di PBB, Amir Saeid Iravani mengatakan adanya sinyal kecil kemungkinan kompromi berlanjut, tetapi juga menegaskan bahwa tanpa perubahan kebijakan dari AS, negosiasi sulit dilanjutkan.

"[Jika blokade AS dihentikan] saya pikir putaran negosiasi berikutnya akan berlangsung," ungkap Amir dikutip AP News,Rabu (22/4/2026).

Menanggapi permintaan Iran untuk menghentikan blokade Selat Hormuz, Donald Trump mengatakan jika sebenarnya Iran tidak benar-benar ingin menutup selat. Iran secara ekonomi sangat bergantung pada jalur tersebut.

Dengan selat tetap terbuka, Iran bisa terus mengekspor minyak dan memperoleh pendapatan besar hingga 500 juta dolar per hari. Menurut Trump, ancaman Iran untuk menutup selat hanyalah taktik tekanan, bukan niat nyata, karena justru akan merugikan finansial mereka jika benar terjadi.

“Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin selat itu dibuka agar mereka bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari (yang, oleh karena itu, adalah kerugian mereka jika selat itu ditutup!). Mereka hanya mengatakan ingin selat itu ditutup karena saya telah sepenuhnya MEMBLOKADE (MENUTUP!), jadi mereka hanya ingin 'menyelamatkan muka',” ujar Trump.

Trump mengklaim bahwa blokade AS sudah efektif, sehingga posisi tawar Iran melemah. Trump juga mengatakan bahwa ada pihak yang diam-diam menyampaikan jika Iran ingin selat dibuka kembali.

Trump juga mengatakan jika AS langsung membuka kembali selat tanpa syarat, maka Iran tidak akan pernah mau membuat kesepakatan.

“Tetapi jika kita melakukan itu, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negara mereka, termasuk para pemimpinnya!,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra