Menuju konten utama

Benjamin Netanyahu Menuduh Iran Rencanakan Holocaust Kedua

Benjamin Netanyahu menyebut Iran tengah merencanakan aksi Holocaust lanjutan bagi orang-orang Yahudi melalui kepemilikan rudal dan senjata nuklir.

Benjamin Netanyahu Menuduh Iran Rencanakan Holocaust Kedua
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan di Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv, Israel, Senin, 27 Juli 2020. AP / Tal Shahar, Yediot Ahronot, Pool
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan klaim bahwa Iran telah merencanakan "Holocaust" kedua melalui senjata yang dimiliki. Hal ini disampaikan Netanyahu dalam upacara kenegaraan di Gunung Herzl pada Selasa (21/4/2026).

"Rezim Ayatollah di Iran merencanakan Holocaust lainnya," kata Netanyahu, dikutip dari Times of Israel.

Menurut klaim Netanyahu, hal tersebut akan dilakukan Iran dengan senjata nuklir dan rudal balistik yang mereka buat.

"Mereka berusaha menghancurkan kita dengan senjata nuklir dan ribuan rudal balistik. Seandainya kita tidak bertindak tegas, nama-nama Natanz, Fordo, dan Isfahan mungkin akan bergabung dengan Auschwitz, Majdanek, dan Treblinka," katanya.

Auschwitz, Majdanek, dan Treblinka merupakan tempat berdirinya kamp konsentrasi Nazi Jerman untuk menampung kaum Yahudi dalam operasi Holocaust. Sementara Natanz, Fordo, dan Isfahan adalah wilayah Iran.

Pernyataan itu diungkap Netanyahu untuk membenarkan perang yang dimulai oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan menyerang Teheran pada 28 Februari lalu. Perang ini telah membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, membunuh ribuan manusia, dan menyebabkan kenaikan harga di banyak negara, termasuk Indonesia.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut bahwa rencana "Holocaust kedua" itu kini tak lagi jadi masalah. Israel dan AS "membongkar mesin penghancuran" itu melalui serangan pada 28 Februari.

"Kita telah melenyapkan ancaman eksistensial langsung ini," tambah Netanyahu, dinukil dari kantor berita Rusia, TASS.

"Ancaman Eksistensial" Jadi Dalih Pembenaran Perang

Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump berulang kali telah menggunakan apa yang mereka sebut sebagai "ancaman eksistensial" sebagai alasan untuk berperang. Keduanya beralasan bahwa Iran hanya tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan senjata nuklir dan karenanya perlu diserang sebelum hal itu terjadi.

Serangan di Teheran pada 28 Februari lalu hanya selang beberapa bulan usai Perang 12 Hari pada 2025. Dalam perang pada 2025 itu, Trump telah mengumumkan keberhasilan pasukan AS menghancurkan kemampuan produksi nuklir Iran.

Setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari, perekonomian banyak negara di dunia ikut merasakan dampaknya. Kenaikan harga terjadi pada berbagai komoditas energi.

Hal itu terjadi karena Iran membalas serangan AS-Israel dengan menyerang negara-negara Teluk penghasil minyak, serta melakukan blokade di Selat Hormuz yang jadi jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia.

Perang yang telah berjalan selama lebih dari 50 hari ini juga berdampak pada ribuan manusia yang terbunuh. Di antara para korban perang tersebut ada anak-anak yang harus meregang nyawa.

Seturut Al Jazeera, lebih dari 3.300 orang di Iran telah terbunuh akibat serangan. Lebih dari 26 ribu lainnya mengalami luka.

Sementara itu, pertempuran kemudian meluas di Asia Barat. Lebih dari 2.200 orang di Lebanon terbunuh akibat serangan Israel. Sekitar 7 ribu lainnya mengalami luka-luka.

Eskalasi konflik yang terjadi di Lebanon ini juga membuat tiga tentara Indonesia yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di sana terbunuh oleh ledakan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar