Menuju konten utama

Berita Perang Iran Terbaru: Cuitan Trump Bikin Rumit Perundingan

Berbagai komentar Trump yang disampaikan di media sosial dan kepada wartawan tentang perang Iran, membuat jalannya perundingan AS-Iran membingungkan.

Berita Perang Iran Terbaru: Cuitan Trump Bikin Rumit Perundingan
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/Alex Wong/Getty Images

tirto.id - Komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selama ini tentang situasi terbaru Perang Iran disebut justru memperkeruh suasana perundingan. Klaim dan ancaman yang rajin dikeluarkan Trump via media sosial kerap menyulitkan para negosiator untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Menukil CNN, sejumlah pejabat pemerintahan Trump baru-baru ini mengakui bahwa komentar publik Presiden AS itu telah merugikan jalannya perundingan. Dalam satu sisi, katanya, komentar Trump telah memperparah ketidakpercayaan Iran di meja perundingan.

Sebelumnya, sejak awal tahun 2026, Trump telah menggunakan sosial media miliknya sebagai tempat mengabarkan informasi. Terkait Iran, ia menyatakan berbagai klaim dan ancaman. Hal itu kemudian lalu menjadi kebiasaan Trump.

Seperti pada akhir pekan lalu, misalnya, ketika AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan, Trump segera membuat pernyataan publik melalui pers, unggahan media sosial, atau berbicara dengan beberapa wartawan.

Trump lalu menyampaikan sejumlah klaim, termasuk bahwa Iran telah sepakat untuk menyerahkan persediaan uranium yang telah diperkaya dan bersedia menangguhkan pengayaan uranium tanpa batas waktu. Namun, hal ini ditentang, baik oleh Iran maupun pejabat pemerintahannya sendiri.

Menurut sumber anonim CNN yang mengetahui pembicaraan tersebut, pendekatan Trump itu membuat perundingan jadi makin runyam. Terlebih, katanya, Iran punya kekhawatiran jika mereka terlihat lemah.

"Rakyat Iran tidak menghargai negosiasi POTUS [President of US] melalui media sosial dan membuatnya tampak seolah-olah mereka telah menyetujui isu-isu yang belum mereka sepakati," kata sumber tersebut.

Klaim Trump yang tampak tak sesuai dengan kenyataan di lapangan itu, salah satunya, adalah tentang kesepakatan jeda pengayaan uranium. Trump telah mengklaim bahwa Iran sudah menyepakati penangguhan program nuklir "tanpa batas" waktu alias selamanya.

Akan tetapi, hal itu tampaknya berlainan dengan apa yang terjadi di meja perundingan. Dalam perundingan tahap pertama di Islamabad, Washington dan Teheran belum sepakat tentang durasi jeda pengayaan uranium.

Delegasi AS dilaporkan telah mengajukan tuntutan jeda pengayaan selama 20 tahun yang kemudian ditolak Iran. Teheran membalas tuntutan dengan usulan baru, yakni lima tahun jeda.

Durasi jeda pengayaan ini juga dilaporkan masih jadi tarik ulur yang belum disepakati. Teheran disebut baru saja merevisi usulan durasi jeda jadi 10 tahun.

Perundingan Lanjutan Gencatan Senjata AS-Iran Tidak Menentu

Pernyataan Trump di media sosial juga telah membingungkan banyak pihak tentang bagaimana perundingan tahap kedua akan dilakukan, atau bahkan tentang nasib kesepakatan gencatan senjata itu sendiri.

Pada Minggu (19/4/2026), Trump telah membuat sejumlah pernyataan yang kemudian dibantah oleh pemerintahannya sendiri atau juga oleh dirinya sendiri di kemudian hari.

Salah satu pernyataan yang membingungkan itu adalah ketika Trump berujar bahwa Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan pergi ke Islamabad. Meskipun Vance merupakan pemimpin delegasi pada perundingan tahap pertama, Trump menyebut Vance tak akan berangkat ke Pakistan karena alasan keamanan yang tidak spesifik.

Pernyataan itu kemudian dibantah oleh dua pejabat senior di pemerintahan Trump sendiri — yakni duta besar AS untuk PBB, Mike Waltz, dan Menteri Energi AS Chris Wright. Dalam siaran televisi, keduanya menyatakan bahwa Vance akan tetap jadi pemimpin delegasi AS di Pakistan.

Waktu keberangkatan Vance dan delegasi AS lainnya ke Islamabad juga dijelaskan secara membingungkan oleh Trump.

Dalam pernyataannya, Trump menyatakan delegasi AS bertolak ke Islamabad pada Senin malam waktu AS dan akan melakukan pembicaraan lanjutan pada keesokan harinya, yakni pada Selasa. Namun, agenda perundingan rupanya dijadwalkan terjadi pada Rabu waktu setempat, atau Kamis waktu Indonesia.

Sumber anonim CNN menyebut bahwa jadwal perundingan lanjutan antara AS-Iran kini memang telah dijadwalkan, namun kelanjutannya masih diliputi ketidakpastian.

Washington disebut tengah menduga bahwa ada perpecahan dalam tim delegasi Iran dan menimbulkan pertanyaan kepada siapa perjanjian seharusnya dicapai. Sebelumnya, Iran mengirim delegasi yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Di tengah ketidakpastian itu, seberapa lama masa gencatan senjata juga rupanya tidak diumumkan secara jelas. Sebelumnya, Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa, 7 April 2026, waktu AS. Dengan pernyataan itu, akhir masa gencatan senjata diproyeksikan terjadi pada hari ini, Selasa (21/4/2026).

Akan tetapi, pada Senin (20/4), Trump menjelaskan kepada Bloomberg bahwa akhir kesepakatan gencatan senjata adalah "Rabu malam waktu Washington". Ada tambahan 24 jam masa gencatan senjata yang sebelumnya tidak disampaikan Trump.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar