tirto.id - Lambaian tangan yang cukup tinggi membuat saya spontan menoleh. Siang itu, saya sedang menuju Politeknik Negeri Jakarta untuk mengumpulkan tugas akhir yang sudah saya selesaikan. Ketika melintasi persimpangan Jalan Teratai Raya, Beji, Kota Depok, Jawa Barat, arus kendaraan sangat lancar dan ramai.
Di tengah deretan mobil dan sepeda motor, seorang pria yang menggunakan topi berdiri di bawah terik matahari. Tangannya bergerak bergantian, memberi isyarat kepada pengendara untuk melaju atau berhenti. Sesekali ia tersenyum menyapa para pengendara dan mengucapkan terima kasih, lalu menerima anggukan dari pengemudi yang melintas.
Sebagian pengendara menyelipkan uang receh ke tangannya. Sebagian lainnya hanya menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih sebelum melaju pergi.
Saya menepikan motor saya, lalu saat arus kendaraan mulai lengang, saya menghampiri pria itu. Namanya Iwan, (29). Sudah sekitar tiga tahun Iwan menjadi Pak Ogah di persimpangan tersebut.
Iwan bercerita setelah berhenti dari pekerjaan sebelumnya, Iwan belum juga memperoleh pekerjaan baru. Menjadi Pak Ogah adalah cara bertahan sambil terus mencari kesempatan lain.
"Ya, soalnya kerja kemarin berhenti juga. Makanya milih jadi ini aja. Sambilan lah, sembari nyari-nyari kerja lagi," ujar Iwan dalam wawancara, di Jalan Teratai Raya, Beji, Rabu (22/07/26).
Kalimat itu diucapkannya tanpa raut mengeluh. Di tengah terik matahari, ia mengatur kendaraan tiada henti. Saat Saya bertanya bagaimana rasanya menjalani pekerjaan tersebut setiap hari, Iwan hanya tersenyum tipis, sambil menjawab, "Panas. Ya dikasih syukur, enggak dikasih ya udah, enggak maksa juga kok, gitu".
Iwan mengatakan pendapatan perharinya tidak menentu, tapi lumayan untuk makan sehari-hari. Di balik pekerjaannya yang terlihat sederhana, ada risiko yang setiap hari mengintai.
"Ya paling kita ketabrak. Pernah kelindes ban, kaki kena ban doang. Enggak apa-apa sih," katanya sambil tertawa kecil.
Risiko itu tidak membuatnya berhenti. Bagi Iwan, harapan terbesarnya bukan agar orang-orang lebih banyak memberinya uang. Iwan justru berharap pemerintah membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
"Harapan ya dibanyakin lowongan kerja lah. Ijazah saya STM soalnya nganggur di rumah," ucap Iwan sambil sesekali membantu pengendara berputar arah.
Tak jauh dari persimpangan, saya melihat seorang teman saya tengah mengendarai sepeda motor yang baru saja melintas. Sisilia Rosadi (22), mengaku hampir setiap hari melewati Jalan Teratai Raya, Beji, Depok, karena tinggal dan berkuliah di Depok.
Menurutnya, keberadaan Pak Ogah justru membantu kelancaran lalu lintas.
"Cukup membantu ya, karena pas belokan itu Pak Ogah lumayan buat ngatur lalu lintas. Kayaknya kalau enggak ada Pak Ogah bakal macet. Pengendara motor sama mobil kan enggak sabar," kata Sisilia.
Sisilia bahkan menilai keberadaan Pak Ogah masih sangat dibutuhkan.
"Sangat membantu. Kalau enggak ada Pak Ogah itu crowded banget, macet. Bakal ruwet, semrawut. Kan kalau ada Pak Ogah bisa disetopin dulu dari satu sisi, terus sisi yang lain jalan," ujar Sisilia.
Saya melanjutkan perjalanan menuju Jalan Nangka, masih di daerah Beji, Kota Depok. Berbeda dengan Jalan Teratai Raya yang berupa persimpangan besar, ruas Jalan Nangka jauh lebih sempit. Mobil dari dua arah nyaris tak bisa melintas bersamaan. Salah satu kendaraan harus mengalah agar tidak saling berhadapan.
Di titik itulah saya kembali melihat seorang Pak Ogah.
Saifullah, (22), berdiri di samping jalan sambil mengangkat tangan, mengatur kendaraan agar bergantian melintas. Sesekali Saifullah memberi aba-aba kepada pengendara yang hendak masuk ke jalan sempit itu.
Saifullah mengatakan pekerjaan itu bukan pekerjaan utamanya.
"Sebenarnya sih pekerjaan ini cuma saya sampingan aja, Kak. Udah sekitar setengah tahun," kata Saifullah.
Pekerjaannya di Jalan Nangka berbeda dengan yang dilakukan Pak Ogah di persimpangan besar. Saifullah mengaku jalan yang sempit membuat kendaraan dari dua arah kerap saling berhadapan. Jika tidak ada yang mengatur, kemacetan bisa terjadi hanya dalam hitungan menit.
"Tugas saya ngatur lalu lintas aja supaya enggak ada padatan. Di sini jalannya sempit, jadi kalau dua mobil ketemu bisa lama. Makanya kita atur satu-satu biar lancar," kata Saifullah.
Saifullah mengatakan pendapatannya jauh dari kata besar, bergantung pada kemurahan hati pengendara. Apalagi, Saifullah hanya bekerja sekitar dua jam setiap hari karna berbagi sif dengan Pak Ogah yang lain.
"Kalau penghasilan ya paling sekitar lima puluh ribuan. Enggak tentu juga, tergantung orang yang lewat ngasih atau enggak," ujarnya
Harapan yang Saifullah sampaikan pun hampir sama dengan Iwan di Jalan Teratai Raya.
"Harapannya sih semoga pemerintah bisa buka lebih banyak lapangan pekerjaan. Banyak juga anak muda yang nganggur. Daripada jadi Pak Ogah, ya lebih baik dapat pekerjaan yang lebih baik," ungkap Saifullah.
Ucapan itu membuat saya berpikir bahwa tidak satu pun dari mereka bercita-cita menjadi Pak Ogah. Mereka hanya memilih pekerjaan yang bisa segera menghasilkan uang ketika pilihan lain belum tersedia.
Tak jauh dari lokasi, saya berbincang dengan Wahyudi (45), warga yang hampir setiap hari menyaksikan aktivitas Pak Ogah di Jalan Nangka.
Wahyudi mengakui, di jalan yang sempit seperti itu, bantuan Pak Ogah sering kali membuat kendaraan lebih mudah bergantian melintas.
"Kalau dari sisi positifnya sih sangat membantu dalam mengatur lalulintas," kata Wahyudi.
Namun, Wahyudi juga tidak menampik bahwa masih ada orang yang membuat citra Pak Ogah menjadi buruk.
"Yang negatifnya, ya kalau enggak di kasih ada juga yang nakal," ujar Wahyudi
Wahyudi berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban, tetapi juga memberikan pembinaan kepada mereka yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tersebut.
"Harapannya ya dibina aja. Dibina, nggak usah terlalu dikecilkan atau dianggap mengganggu. Tinggal dibina, ditata yang tertib dengan aturan tertentu. Insya Allah saya yakin bisa," ujar Wahyudi.

Pak Ogah Muncul karena Lapangan Kerja Terbatas
Pandangan warga itu juga sejalan dengan penjelasan Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah.
Menurutnya, keberadaan Pak Ogah masih bertahan karena persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan ketertiban lalu lintas, tetapi juga kondisi ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, ia juga menilai ada sebagian orang yang memang memilih pekerjaan tersebut karena dianggap lebih mudah menghasilkan uang dibanding pekerjaan lain.
"Kalau itu sih dilihat dari kebijakan, memang pemerintah menganggap keberadaannya tidak dibutuhkan. Tapi kalau dari sisi Pak Ogah-nya, mereka butuh pekerjaan karena susah mendapatkan pekerjaan. Nah, di satu sisi memang ada juga yang pribadinya malas. Jadi walaupun ada lapangan pekerjaan, disuruh kerja dia nggak mau," ujar Trubus kepada Tirto, Rabu (22/7/2026).
Menurut Trubus, penertiban yang selama ini dilakukan pemerintah belum mampu menghilangkan keberadaan Pak Ogah. Trubus menilai pemerintah masih setengah hati dalam menyelesaikan persoalan tersebut karena penanganannya tidak disertai solusi yang menyentuh akar masalah.
"Pemerintah sendiri cuma setengah hati untuk menyelesaikan itu. Karena kalau diselesaikan secara tegas, mereka minta lapangan pekerjaan, berarti pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan," kata Trubus.
Trubus mengatakan, salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memberikan pekerjaan yang lebih jelas bagi mereka yang memang ingin bekerja, tapi di sisi lain pemerintah juga memikirkan dampak sosialnya.
"Kebijakannya ya direkrut. Seperti petugas kebersihan yang digaji. Itu salah satu solusinya. Kalau solusi yang lain ya dilarang saja lagi jadi Pak Ogah. Tapi kalau seperti itu pemerintah juga enggak mau karena nanti akan timbul kegaduhan atau keributan," ujar Trubus.
Saat saya meninggalkan Jalan Nangka, matahari sudah tidak seterik tadi. Suara kendaraan yang terus melaju masih terdengar bersahutan dengan deru mesin kendaraan yang lainnya. Beberapa mobil melambat, mengikuti aba-aba tangan seorang Pak Ogah sebelum kembali melaju.
Perjalanan hari itu mengubah cara pandang saya. Selama ini saya hanya melihat mereka sebagai sosok yang berdiri di tengah jalan dan menerima uang dari pengendara. Namun setelah mendengar cerita mereka, saya menemukan sisi lain yang jarang terlihat.
Di balik lambaian tangan yang tak henti, Mereka sadar pekerjaannya bukan pekerjaan yang ideal, sampai kesempatan pekerjaan yang lebih baik datang, persimpangan jalan tetap menjadi tempat mereka bertahan hidup.
Dan selama persoalan ekonomi masih memaksa orang mencari nafkah di ruang-ruang informal, lambaian tangan itu mungkin akan terus terlihat di sudut-sudut kota.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































