tirto.id - Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaporkan telah tercapai pada Kamis (16/4/2026). Gedung Putih rilis kronologi tercapainya kesepakatan tersebut, berikut penjelasannya.
Menukil CNN, Gedung Putih memberikan penjelasan pada Kamis tentang bagaimana gencatan senjata antara Lebanon dan Israel dapat disepakati. Hal ini, jelas mereka, dimulai dari pertemuan trilateral Amerika Serikat (AS), Lebanon, dan Israel pada Selasa (14/4/2026).
Pertemuan trilateral itu bertempat di Washington DC. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memimpin agenda tersebut yang dihadiri duta besar Lebanon dan Israel.
Seorang pejabat Gedung Putih yang identitasnya tidak diungkap menjelaskan bahwa pihak Lebanon sempat mengakui dalam pertemuan tersebut bahwa Hizbullah adalah "masalah bersama". Pertemuan ini berakhir dengan kesepakatan adanya perundingan antara Israel dan Lebanon.
Pada Rabu (15/4/2026), Presiden AS Donald Trump kemudian melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Dalam sambungan telepon ini, Netanyahu menyepakati gencatan senjata, namun "dengan syarat-syarat tertentu".
Di sisi lain, Trump menyuruh Rubio untuk menghubungi Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk menawarkan kesepakatan gencatan senjata. Rubio lalu mendapatkan persetujuan gencatan senjata dari Aoun.
Pada Kamis (16/4/2026), Trump melakukan panggilan telepon dengan Aoun yang diikuti dengan panggilan lain dengan Netanyahu. Ketiganya lalu membahas penyelesaian kesepakatan.
Di saat bersamaan, Gedung Putih menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri AS merumuskan nota kesepahaman bersama kementerian terkait di Israel dan Lebanon. Setelah disepakati, pengumuman gencatan senjata kemudian dilakukan pada hari itu juga.
Ada enam poin ketentuan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Poin-poin itu, termasuk "hak Israel untuk terus mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk membela diri", baik terhadap serangan yang terjadi, akan terjadi, maupun segera terjadi. Klausul perpanjangan masa gencatan senjata juga termasuk di dalamnya.
Pemerintah Lebanon Sarankan Warga Tunda Pulang Meski Ditentang
Sementara gencatan senjata diumumkan AS, warga di Lebanon yang sebelumya terpaksa mengungsi mulai berbondong-bondong kembali ke rumahnya. Hal ini terjadi meskipun Pemerintah Lebanon menyarankan warga untuk menunda kepulangan mereka.
Seturut Al Jazeera, banyak dari warga yang memutuskan untuk kembali ke rumah adalah mereka yang tidak menemukan tempat berlindung, terpaksa tidur di tenda ataupun mobil. Invasi Israel ke wilayah Lebanon telah berlangsung sepanjang enam pekan.
Banyak dari mereka juga memilih kembali sebagai bentuk pernyataan sikap. Tak sedikit yang kembali ke rumah untuk menunjukkan bahwa mereka tak mau menyerahkan tanah mereka yang diserang Israel.
Keputusan itu tetap mereka ambil kendati kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon tampaknya menjadi perjanjian yang lemah. Meskipun telah diumumkan AS, Israel dan Hizbullah saling menegaskan syarat gencatan senjata yang berlainan.
Israel di satu sisi menuntut pelucutan senjata Hizbullah. Netanyahu juga menekankan bahwa Israel menolak mundur dari wilayah yang mereka duduki di Lebanon.
Sementara itu, Hizbullah ingin penarikan pasukan Israel secara menyeluruh. Organisasi militer yang didukung Iran ini juga mensyaratkan format "quiet for quiet" dalam gencatan senjata, menentang permintaan Israel untuk mempertahankan hak melakukan serangan dengan klaim mempertahankan diri.
Di sisi lain, Pemerintah Lebanon menginginkan penarikan pasukan Israel. Mereka ingin kedaulatan wilayah mereka dihormati dengan penarikan pasukan di wilayah yang diduduki Israel.
Sementara itu, analisis citra satelit BBC Verify yang dirilis belakangan ini menunjukkan bahwa pasukan Israel telah meluluhlantakkan desa dan kota di Lebanon selatan. Pusat peradaban manusia itu dihancurkan dan diratakan oleh Israel.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























