tirto.id - Wangi ragi yang mengudara di sepanjang Rorotan, Jakarta Utara, perlahan mulai membawa kecemasan baru. Tradisi kuliner yang telah menghidupi belasan keluarga lintas generasi kini sedang berada di ujung tanduk.
Himpitan ekonomi, beratnya kerja fisik, hingga pesona kepastian upah kantoran modern membuat para pemuda di Sentra Tempe Rorotan perlahan mulai berpaling. Estafet bisnis rumahan yang kian meredup ini memicu sebuah tanya besar yang tak lagi bisa dihindari: benarkah telah terjadi krisis regenerasi perajin tempe lokal?
Namun, jawaban dari pertanyaan itu tidak sederhana. Sejumlah keluarga yang bertempat tinggal di Sentra Tempe Rorotan memang kehilangan penerus karena sang anak memilih bekerja di bidang lain.
Namun, ada pula generasi muda yang tetap bertahan mengelola usaha keluarga, meski harus menghadapi pekerjaan fisik yang berat, jam kerja panjang, dan keuntungan yang tidak selalu stabil.
Tim Tirto berkesempatan mengunjungi kawasan tersebut pada Rabu (8/7/2026). Sebuah plang bertuliskan Sentra Tempe Rorotan menyambut di jalan masuk Gang Tempe.
Memasuki kawasan, terasa masuk akal lingkungan ini dinamai Gang Tempe. Layaknya nama gang tersebut, pemandangan yang menghiasi muka hampir setiap rumah adalah dua hingga tiga longsong tempe mentah. Kedelai olahan itu dibalut plastik dan diletakkan di atas alas bambu.
Tempe mentah itu tampak hampir siap untuk dijual. Ada selosong yang berlapis plastik bening, ada pula selosong yang berlapis plastik putih. Bau khas ragi mengudara di jalan Gang Tempe.
Di sejumlah rumah, ruang produksi tempe terletak di bangunan utama kediaman sang perajin tempe. Ruang produksi itu seperti pabrik yang dibiarkan terbuka.
Bayang-Bayang Krisis Penerus di Sudut Rorotan
Salah satu warga Gang Tempe sekaligus calon penerus pengrajin tempe, Kurnia Ahmad (26), ditemui di kediamannya di Gang Tempe, Rorotan, Jakarta Utara, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Dalam penelusuran kali ini, Tim Tirto berkesempatan menemui salah satu warga Gang Tempe sekaligus calon penerus perajin tempe, Kurnia Ahmad (26). Anak Kepala RT itu merupakan generasi ketiga perajin tempe di keluarganya. Sebuah Keputusan yang sebetulnya bukan diambil karena sejak awal bercita-cita jadi pengusaha tempe.
Kisah ini berawal dari sebuah peristiwa enam bulan lalu. Kurnia mengalami kecelakaan lalu lintas setelah terserempet kendaraan di sekitar Rorotan.
Hingga kini, pen masih tertanam di kaki kirinya. Ia pun masih harus menjalani satu kali operasi lagi. Kondisi tersebut membuatnya berpikir ulang untuk mencari pekerjaan di luar sektor usaha keluarga.
"Mau ngelanjutin [menjadi perajin tempe] karena umur kayaknya ya. Soalnya, habis kecelakaan ini, kebetulan umur juga sudah 26 [tahun]. Jadi, kalau kerja di luar susah ya. Makanya, ya ngelanjutin di sini saja dulu," kata Kurnia, ditemui di kediamannya, Rabu.
Di usianya yang masih 26 tahun, Kurnia mengaku tak menutup mata ketika melihat teman-teman sebayanya bekerja di perkantoran atau perusahaan swasta. Baginya, pekerjaan formal cenderung terlihat lebih menjanjikan karena memberikan kepastian pendapatan.
Akan tetapi, ia juga menilai menjadi pengusaha muda juga tidak menjadi jalan hidup yang buruk. Saat menguasai bidang tertentu, bekerja menjadi pengusaha UMKM dinilai juga menguntungkan.
"Sebenarnya di UMKM juga enak sih kalau ilmunya banyak, paham cara jualannya. Cuma kalau dipikir lebih gampang, terus lebih terima jadi lah, [lebih enak] kerja di orang kan [menjadi karyawan]. Kayak gaji sudah pasti, misalkan anggap lah Rp5 juta [pendapatan per bulan]. Kalau orang jualan kan [pendapatan] naik turun, bisa naik, bisa turun. Jadi, beda," urainya.
Kisah Kurnia dan Pengecualian di Tengah Keengganan
Pandangan Kurnia terkait pilihan profesi, memberinya pemahaman terkait dua sisi pilihan. Setiap profesi, memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan dia, memutuskan untuk jadi pengecualian di tengah fenomena anak perajin tempe berhenti meneruskan usaha keluarga.
Namun, Kurnia mengerti alasan di balik anak perajin enggan melanjutkan usaha orang tua. Misalnya saja, terkendala kemampuan fisik. Ada pula yang lebih memilih bekerja sebagai karyawan.
"Biasanya tuh dari anak-anaknya [tidak mau melanjutkan usaha tempe], entah enggak bisa secara fisiknya atau anaknya perempuan, biasanya. Ada juga yang karena keinginan sendiri enggak mau. Biasanya fisiknya enggak kuat, terus orangnya juga kurang nyaman bikin tempe. Soalnya bikin tempe kan di air terus, sama angkat-angkat berat," ujarnya.
Akibatnya, ketika tidak ada penerus, sejumlah perajin di Gang Tempe akhirnya memilih menutup usaha. Mesin produksi hingga lapak di pasar dijual kepada perajin lain yang masih bertahan.

Infografik Tahu Tempe Nusantara. tirto.id/Quita Saat Lapak Perajin Gulung Tikar dan Pulang Kampung
Di kawasan Gang Tempe, setahu Kurnia, telah ada dua keluarga yang tidak lanjut menjadi perajin tempe. Kedua keluarga itu kemudian meninggalkan Jakarta dan kembali ke Pekalongan.
"Biasanya kayak nawarin ke tetangga dulu. Mau enggak, nih bayarin [mesin yang tak lagi terpakai]. Lapak pasarnya juga kan ada sertifikatnya, ada langganannya juga yang menetap buat beli di dia. Itu juga bisa dijualin," tutur Kurnia.
Sementara di rumah Kurnia, produksi tempe menjadi pekerjaan seluruh anggota keluarga. Setiap hari, mereka mengolah sekitar 1,5 kuintal kedelai.
Seorang pekerja membantu proses produksi, ayahnya berjualan ke pasar, sementara sang adik mengantar tempe ke pedagang sayur. Kurnia sendiri ikut mengerjakan proses produksi bersama karyawan.
Proses produksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB setelah aktivitas berjualan di pasar selesai. Kedelai direbus, difermentasi semalaman, dibersihkan, diberi ragi, dikemas ke dalam plastik, lalu kembali didiamkan hingga jamur tumbuh. Seluruh proses membutuhkan waktu sekitar tiga hari sebelum tempe siap dipotong dan dijual.
"Kalau rumah produksi biasanya dari jam 10.00 WIB itu kelar asar atau magrib. Produksi hari ini, jadinya jam 03.00 WIB pagi besok. Nanti jam 03.00 WIB, orang itu motongin tempe, terus ke pasar. Habis itu bikin lagi yang baru. Jadi, muter terus," sebutnya.
Menurut Kurnia, tempe-tempe tersebut dijual langsung oleh keluarga ke sejumlah pasar seperti Pasar Cakung, Kelapa Gading, beberapa pasar di Jakarta Timur, hingga kawasan Semper. Sebagian besar perajin di Gang Tempe memilih menjual sendiri hasil produksinya dibanding menjadi pemasok.
Meski memiliki pelanggan tetap, keuntungan usaha tempe tidak selalu besar. Penjualan cenderung lebih ramai menjelang akhir bulan ketika masyarakat memilih memasak di rumah dibanding membeli makanan jadi.
"Biasanya tuh ramenya akhir bulan. Orang gajinya sudah habis malah, jadi dia milih masak sendiri. Weekend juga biasanya lebih rame daripada weekday karena orang-orang pada di rumah," ujarnya.
Kurnia mengakui, dari usaha tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Dalam sebulan, laba yang dikantongi sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta.
Keuntungan Tipis, Tak Berani Naikkan Harga

Tipisnya keuntungan diperparah oleh kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa waktu terakhir. Namun, menurut Kurnia, para perajin hampir tidak memiliki ruang untuk menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Jalan keluar yang paling sering dilakukan adalah memperkecil ukuran tempe.
"Harga kedelai naik banget. Katanya karena lagi perang dunia kan. Sembako juga pada naik. Kalau kami paling harga jual disesuaikan sedikit, potongannya diperkecil. Tapi harganya tetap sama. Soalnya kalau naikin harga susah sih, nanti pembeli kabur," sambungnya.
Ia menyatakan, selain persoalan bahan baku, mencari tenaga kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Mayoritas pekerja di Gang Tempe didatangkan langsung dari Pekalongan karena sudah terbiasa mengolah tempe.
Kurnia berujar, pengalaman menunjukkan, mengajari pekerja baru dari nol tidak mudah dan sering kali menghasilkan kualitas tempe yang kurang baik.
"Pekerjaannya juga kebanyakan dari Pekalongan. Soalnya kalau ngajarin orang dari awal tuh hasilnya kurang bagus. Nanti jamurnya kurang tumbuh atau kedelainya kurang bersih. Jadi, memang harus yang sudah biasa bikin tempe," ucapnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kurnia mengakui, Sentra Tempe Rorotan beberapa kali mendapat pembinaan dari pemerintah daerah sebagai bagian dari program UMKM.
Ke depan, ia berharap, pendampingan itu tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi juga membantu perajin mengurus berbagai perizinan usaha serta pelatihan cara mengolah tempe hingga menjadi keripik tempe atau produk sejenis lain.
"Sering kok ada kerja sama sama pemerintah. Beberapa kali ada pengembangan UMKM. Sekarang kami juga lagi ngurus BPOM sama surat izin yang lain buat produk keripik tempe," urainya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































