Menuju konten utama

Nestapa Perajin Tempe Terjepit Kurs Dolar

Terjepit kenaikan harga kedelai hingga siklus musiman jelang Lebaran Haji, perajin tempe minta pemerintah beri perhatian ke usaha kecil.

Nestapa Perajin Tempe Terjepit Kurs Dolar
Pabrik tempe rumahan di Jalan Pengadegan Selatan, Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan. tirto.id/Qonita Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di sebuah rumah kontrakan di Jalan Pengadegan Selatan, Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan, asap masih mengepul dari dandang jumbo perebus kedelai ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Di ruangan sempit bercat kusam itu, Nurrohmi, 36 tahun, tampak sibuk membungkus gunungan tempe bersama kakaknya, Rowi, 42 tahun.

Rumah peninggalan almarhum pakde mereka itu telah lama berubah menjadi dapur produksi tempe yang setiap hari mengolah 75 hingga 80 kilogram kedelai untuk memasok Pasar Arriyadh dan warteg-warung kecil di sekitar Tegal Parang. Di sela bau asam fermentasi dan hawa panas tungku, selembar nota pembayaran tergeletak di atas meja kayu. Angkanya Rp810 ribu, untuk 75 kilogram kedelai merek King Kong yang mereka beli pagi itu.

“Kita lagi pakai yang agak murah, King Kong. Kalau Bola lebih mahal, bisa nyampe Rp850 ribu lebih,” kata Nurrohmi lirih kepada Tirto, Kamis (21/5/2026), sambil menunjuk bungkus ragi yang tergantung di paku dinding.

Mengganti bahan baku dengan harga lebih murah adalah taktik bertahan hidup paling realistis yang bisa mereka pilih saat ini. Menipiskan ukuran tempe demi menutupi biaya operasional adalah pantangan besar karena taruhannya adalah amukan konsumen. "Takutnya tempenya kecil-kecil kan dikurangin ukurannya, nanti kita dikomplain orang, 'Kok tipis? Kok ini?'. Jadi kita beli yang murah," tambahnya.

Namun, siasat ini melahirkan dilema baru. Kedelai murah bertekstur lebih keras, memaksa Nurrohmi merebusnya jauh lebih lama. Efek domino kurs dolar kembali mengejar mereka lewat jalur lain: pembengkakan biaya bahan bakar. Gas Elpiji yang semula Rp21.000 kini mencekik di angka Rp23.000 per tabung.

"Waktu ngerebusnya lama, gasnya jadi habis banyak. Gas aja doang yang ketahuan Rp46.000, plastiknya Rp55.000," keluhnya.

Bagi Nurrohmi, efek masalah ekonomi tahun 2026 ini jauh lebih mencekik ketimbang masa pandemi Covid-19. Harapan sempat muncul saat rumah produksinya ditawari proyek untuk memasok tempe di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, harapan itu pupus seketika karena harga yang dipatok pemerintah terlampau rendah dan tidak masuk akal bagi produsen sekecil mereka.

"Kemarin mau dapet proyek MBG, cuma dia minta murah, mintanya Rp4.000. Ini kita kan beli (modalnya) yang Rp5.000. Apa-apa udah mahal dia minta banyak, rugi dong," ungkap ibu dua anak tersebut dengan nada kecewa.

Sebagai buruh di usaha kakaknya, Nurrohmi hanya diupah Rp10.000 untuk setiap kilogram kedelai yang diolah. Dengan volume produksi saat ini, ia maksimal mengantongi Rp80.000 sehari. Pendapatannya jauh dari kata cukup untuk menopang biaya sekolah dua anaknya yang duduk di bangku SMP dan TK, apalagi sang suami yang bekerja sebagai pengemudi ojek online kerap pulang dengan tangan hampa akibat sepinya orderan.

Nestapa Pengrajin Tempe-Tahu

Pabrik tahu rumahan si Bungsu di Jalan Kapuk RT 02/02 Pondok Cina, Kota Depok. tirto.id/Qonita Azzahra

Kondisi diperparah oleh siklus musiman menjelang Lebaran Haji, atau yang dikenal warga setempat sebagai bulan 'Apit' (April-Mei). Di masa-masa sepi seperti ini, tempe seringkali menumpuk di lapak pedagang karena lambat terjual.

Akibatnya, suhu tempe menghangat, mematikan jamur putihnya, dan berubah tampilan seperti tempe busuk. Sistem titip jual di pasar memaksa Rowi dan Nurrohmi menelan pil pahit untuk menanggung seluruh kerugian barang yang retur.

Saat kondisi usaha sedang goyang, Nurrohmi mengaku sempat didatangi pihak bank yang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun, ia memilih mundur teratur karena enggan menambah beban utang di tengah ketidakpastian.

"Bukannya enggak mau ya, tapi takut. Kalau kredit-kredit begitu kita ngerinya kalau lagi goyang aja. Mending kalau gratis, kalau kita bayar buat apa, sama aja,” lanjutnya.

Bagi Nurrohmi, kenaikan harga kedelai yang dipicu rentetan konflik geopolitik global dan penguatan kurs dolar terasa sangat tidak adil bagi rakyat kecil di tingkat akar rumput yang tidak tahu apa-apa. Sayangnya, pemerintah seolah abai dengan dampak pelemahan rupiah terhadap usaha rumahan sepertinya.

"Yang di atas enak. Kita yang ini semua-muanya susah. Mereka yang berperang, kita yang kena imbas. Emang kayak presiden apa menteri, enggak ada yang mau lihat ke bawah. Lihat deh rakyatnya, turun sekali-kali, dilonggok, tanya," ujar Nurrohmi menutup obrolan.

Dilema Kualitas dan Kuantitas

Tidak jauh dari tempat produksi tempe Nurrohmi, seorang perajin tempe lain memilih jalan yang tak kalah terjal. Pria yang sudah hampir tujuh tahun meneruskan usaha turun-temurun orang tuanya ini menolak menurunkan standar kasta kedelainya.

Ia setia menggunakan kedelai merek 'Bola Merah'—kualitas tertinggi pasca-hilangnya merek legendaris Tiga Roda di pasaran. Namun, kesetiaan pada kualitas premium itu harus dibayar mahal semenjak momentum Lebaran kemarin, saat harga kedelai langsung meroket menembus Rp11.000 per kilogram.

"Kedelai sekarang udah tembus 11 ribu. Berarti sehari tadinya modal (untuk beli kedelai sekitar satu kuintal) masih di bawah Rp1 juta, masih Rp950 ribu sampai Rp970 ribu. Habis Lebaran kemarin langsung naik tuh jadi Rp1.050.000," kisah Kastolani (35), si perajin tempe generasi kedua itu dengan gusar.

Beban operasionalnya kian membengkak akibat lonjakan harga plastik ukuran 12 kali 30 sentimeter yang digunakannya. Harga kemasan plastik merangkak dari Rp25.000 hingga menyentuh Rp35.000 per kilogram.

Dengan konsumsi plastik mencapai 1,5 hingga 2 kilogram per hari, modal pembungkus saja sudah menyedot sekitar Rp104.000 dari kantongnya. Beruntung, ia bisa sedikit bernapas lega karena kompor kecilnya hanya menghabiskan satu tabung gas 3 kg sehari dengan durasi perebusan kedelai sekitar 1 jam 45 menit.

Nestapa Pengrajin Tempe-Tahu

Pabrik tempe rumahan di Jalan Pengadegan Selatan, Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan. tirto.id/Qonita Azzahra

Dengan volume produksi rata-rata satu kuintal per hari—dan turun ke kisaran 90 kilogram pada akhir pekan saat kantin-kantin perusahaan libur—, perajin ini memutar otak secara ekstrem agar tidak kehilangan pelanggan. Menaikkan harga jual adalah misi mustahil akibat ketatnya harga pasar.

"Jaga pelanggannya, paling kita isinya biasanya 8 ons, sekarang kita isi 7 ons. Ngaruh sih, agak tipis aja, tapi gimana lagi? Langganan sekarang juga susah, takut pada kabur," akunya jujur.

Siasat mengurangi timbangan ini terpaksa dilakukan demi menyambung hidup, karena keuntungan bersihnya terpangkas drastis dari biasanya 50 persen amblas hingga tersisa 30-20 persen saja.

"Kalau saat ini belum bisa naikin harga. Mungkin kalau kayak dulu bisa tuh, mogok produksi biar stok kosong semua, baru harga bisa naik."

Efek keperkasaan dolar AS ternyata merambat tanpa sekat wilayah. Bergeser sekitar belasan kilometer ke arah selatan Jakarta, jeritan serupa menggema di kawasan Beji, Kota Depok. Di Jalan Kapuk RT 02/02 Pondok Cina, Irfan Suhendar (44) juga tengah menatap nanar tumpukan cetakan tahu di pabrik rumahan miliknya, Pabrik Tahu si Bungsu.

Ditemui Tirto, Irfan menjabarkan secara gamblang bagaimana hukum ekonomi global mencekik usaha kecilnya. "Kalau pengaruh mata uang dolar, memang ada pasti pengaruhnya. Karena bahan bakunya kedelai itu dari Amerika. Jadi kalau ada kenaikan dolar itu pasti ada (dampaknya)," jelas Irfan di tengah riuh mesin pabriknya.

Bagi Irfan, badai ini kian bergulung sejak tiga bulan lalu, diperparah oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

"Apalagi ini sudah berapa bulan juga sudah naik imbas dari perang Iran. Itu ada dampaknya, entah karena apa yang pasti harga kedelai jadi mahal. Sebelumnya harga kedelai Rp9.000, sekarang aja sudah hampir Rp11.000 per kilogram," ungkapnya.

Nestapa Pengrajin Tempe-Tahu

Pabrik tempe rumahan di Jalan Pengadegan Selatan, Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan. tirto.id/Qonita Azzahra

Di pabrik skala rumahan ini, Irfan mengolah paling sedikit 2,5 kuintal kedelai per hari. Hitung-hitungannya ketat: setiap 13 kilogram kedelai akan menghasilkan sekitar 600 biji tahu, atau setara dengan satu loyang cetakan yang biasa disebut warga lokal sebagai tampir. Berbeda dengan usaha tempe yang bisa beralih ke merek kedelai murah, Irfan menghadapi dilema yang jauh lebih rumit terkait harga jual.

"Kalau saya tidak berubah (ukuran), tetap bertahan aja. Tapi kalau kita menaikkan harga, biasanya harus serentak sama pabrik-pabrik lain. Terutama dari Kopti (Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) yang bisa mengeluarkan harga pasaran itu. Jadi tidak bisa kita sendiri ini menaikkan," tuturnya menggambarkan posisi dilematisnya.

Ketakutan terbesar Irfan adalah ditinggal pelanggan karena bergerak sendirian, "Iya betul (dilema), soalnya ada omongan kan tempat lain belum pada naik."

Beruntung, Irfan tidak perlu pusing memikirkan biaya distribusi ke pasar-pasar. Dengan omzet harian rata-rata berkisar di angka 6 sampai 7 loyang, seluruh tahu produksinya langsung diambil di tempat oleh para mitra setianya.

"Kalau saya ini kan enggak ngirim, jadi diambil mitra langsung. Biasanya yang keliling pasar-pasar juga, ada juga yang pergi jual di pasar itu. Kalau lagi ramai ya ramai," tambahnya, mencoba mensyukuri sisa-sisa perputaran modalnya.

Baca juga artikel terkait TEMPE atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana