tirto.id - Pengusaha di bidang teknologi Bryan Johnson yang dikenal melalui proyek anti-penuaan Project Blueprint mengaku bahwa dirinya didiagnosis mengidap Gastritis Autoimun. Melalui media sosial, Johnson menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat lambungnya secara perlahan mengalami kerusakan.
Dalam unggahan di akun X miliknya @bryan_johnson pada 8 Juli 2026, Bryan Johnson membagikan pengalaman pribadinya setelah selama 11 tahun mengalami kadar ferritin (cadangan zat besi) yang rendah.
Ia mengungkapkan bahwa masalah tersebut sudah dialaminya bahkan ketika masih mengonsumsi daging, sehingga bukan semata-mata disebabkan oleh pola makan berbasis tumbuhan yang kini dijalaninya.
Selama bertahun-tahun, kadar ferritin rata-ratanya hanya sekitar 38 ng/mL, jauh di bawah target kesehatan yang ia tetapkan. Baru setelah menjalani pemeriksaan lebih mendalam dan terapi khusus, kadar ferritinnya berhasil meningkat ke kisaran sehat.
Johnson menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun sebagian besar dokter tidak menganggap kadar ferritinnya sebagai masalah besar. Hal itu terjadi karena hasil pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit miliknya selalu berada dalam batas normal sehingga ia tidak didiagnosis mengalami anemia.
Selama 11 tahun itu, ia telah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kadar ferritin, mulai dari kembali mengonsumsi daging hingga mencoba hampir semua jenis suplemen zat besi oral dengan berbagai dosis dan waktu konsumsi. Namun, semua upaya tersebut tidak memberikan hasil yang berarti karena tubuhnya tetap tidak mampu menyerap zat besi dengan baik.
Johnson kemudian melakukan perubahan besar terhadap tim medis yang menanganinya. Setelah evaluasi menyeluruh, dokter akhirnya menemukan penyebab utama masalah tersebut, yaitu ia mengidap Autoimmune Gastritis (AIG).
Dikutip dari laman resmi RS Bunda, kondisi gastritis autoimun terjadi karena sistem imunitas tubuh menyerang sel dinding lambung yang normal, khususnya sel parietal, sehingga terjadi gangguan pada produksi asam lambung dan faktor intrinsik yang memiliki peranan penting untuk penyerapan vitamin B12.
Karena penyerapan melalui saluran pencernaan tidak lagi efektif, tim dokter memutuskan memberikan zat besi langsung melalui infus intravena.
Profil Bryan Johnson yang Mengaku Idap Gastritis Autoimun
Bryan Johnson adalah seorang pengusaha, investor, penulis, sekaligus tokoh biohacking asal Amerika Serikat yang dikenal luas karena upayanya memperlambat proses penuaan melalui pendekatan ilmiah melalui proyek anti-penuaan Project Blueprint.
Lahir pada 22 Agustus 1977 di Provo dan dibesarkan di Springville, Johnson menempuh pendidikan di Brigham Young University dengan gelar Studi Internasional sebelum melanjutkan program MBA di University of Chicago Booth School of Business.
Sejak masih kuliah, ia telah membangun beberapa usaha, mulai dari bisnis penjualan telepon seluler hingga perusahaan teknologi. Namanya mulai dikenal luas setelah mendirikan Braintree pada 2007, perusahaan penyedia sistem pembayaran digital untuk bisnis daring.
Di bawah kepemimpinannya, Braintree berkembang pesat dan mengakuisisi Venmo pada 2012. Setahun kemudian, Braintree beserta Venmo dibeli oleh PayPal dengan nilai sekitar 800 juta dolar AS. Dari transaksi tersebut, Johnson memperoleh ratusan juta dolar yang kemudian ia gunakan untuk mendanai berbagai proyek teknologi dan riset ilmiah.
Setelah menjual Braintree, Johnson mengalihkan fokusnya ke bidang sains dan teknologi masa depan. Ia mendirikan OS Fund, sebuah perusahaan modal ventura yang berinvestasi pada startup di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, serta Kernel, perusahaan yang mengembangkan perangkat untuk mengukur dan merekam aktivitas otak manusia.
Namun, popularitas Johnson justru melonjak berkat proyek pribadinya yang dikenal sebagai Project Blueprint, sebuah program ekstrem untuk memperlambat penuaan dan menjaga tubuh tetap berada dalam kondisi biologis semuda mungkin.
Melalui proyek ini, ia menjalani pola hidup yang sangat disiplin, mulai dari olahraga setiap hari, pola makan berbasis tumbuhan, tidur yang terjadwal ketat, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga mengonsumsi puluhan suplemen setiap hari.
Pada awal proyek tersebut, Johnson mengaku menghabiskan sekitar 2 juta dolar AS per tahun untuk berbagai pemeriksaan medis, tes laboratorium, dan terapi yang bertujuan menurunkan usia biologis organ-organ tubuhnya hingga setara dengan orang berusia 18 tahun.
Filosofi hidup yang ia usung dikenal dengan slogan "Don't Die", yang menekankan penggunaan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk memperpanjang usia manusia.
Meski banyak dipuji karena mendorong inovasi di bidang kesehatan dan umur panjang, langkah-langkah Johnson juga menuai kontroversi. Sejumlah ilmuwan menilai belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat bahwa seluruh metode yang dijalaninya benar-benar mampu memperlambat penuaan secara signifikan.
Salah satu tindakan yang paling banyak mendapat sorotan adalah terapi transfusi plasma dari donor yang lebih muda, termasuk dari putranya sendiri, yang kemudian ia hentikan karena tidak menemukan manfaat yang berarti.
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga pernah mengingatkan bahwa terapi plasma semacam itu belum terbukti efektif untuk tujuan anti-penuaan dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























