tirto.id - Perajin tempe rumahan di Yogyakarta memilih mengecilkan ukuran tempe karena terdampak kenaikan harga bahan baku kedelai sebagai imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Harga kedelai melonjak karena harus impor.
Perajin tempe rumahan dengan merk dagang Tempe Murni Ibu Nurcahyo, Toni Afandi, mengatakan naiknya harga kedelai tersebut amat dirasakannya. Ia harus memutar otak untuk mengakali kenaikan harga kedelai saat ini. Pilihan yang akhirnya diambil adalah mengecilkan ukuran tempe yang diproduksinya.
"Kalau mau naikkan harga susah. Padahal ini harga kedelai sebagai bahan baku tempe naik. Kalau dinaikkan, pembeli pasti gak mau. Jadi akhirnya saya kurangi saja porsi atau ukuran tempenya," kata Toni di Warungboto, Kota Yogyakarta, Jumat (15/5/2026).
Toni mengungkapkan kenaikan harga kedelai ini sudah terjadi sejak sebulan yang lalu. Ketika awal naik, harga kenaikan kedelai ini belum signifikan yakni diangka Rp 100 perkilogramnya. Namun semakin lama, kenaikan harga semakin terasa.
"Naik terus harga kedelai impor. Awalnya cuma naik Rp 100, terus naik Rp 200. Sekarang harganya naik jadi Rp 11 ribu perkilogram padahal sebelumnya masih diharga Rp 9 ribu perkilogram," jelas Toni.
Toni menuturkan, selain mengurangi ukuran juga membeli kedelai dengan jumlah yang besar. Pewaris usaha tempe generasi ketiga dalam keluarga itu menyebut, dirinya membeli kedelai dengan stok mencapai 2 ton. Tiap hari, sambung Toni, tempatnya membutuhkan 70 kg sampai 80 kg kedelai untuk produksi.
"Tempat saya ini kebetulan kalau beli lumayan banyak. Kalau tempat produksi kecil ya terasa banget karena harus tiap hari beli kedelai. Jadi kondisinya saat ini kayak gak nutup," urai Toni.
"Kondisi ini memberatkan para perajin tempe. Karena modalnya harus lebih besar sebab terdampak kenaikan harga kedelai. Keuntungannya juga jadi makin tipis karena biaya produksinya jadi tinggi," tutupnya.
Penulis: Cahyo PE
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























