tirto.id - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu perdebatan terkait beberapa teori konspirasi, termasuk pengalihan isu Epstein. Tuduhan utamanya yakni konflik Perang AS-Iran sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian masyarakat AS dari skandal Jeffrey Epstein files. Skandal Epstein Files memang sedang panas sebelum perang terjadi.
Dokumen jutaan halaman dari Departemen Kehakiman AS (DOJ) seharusnya sudah dirilis penuh berdasarkan Epstein Files Transparency Act, atau Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein yang ditandatangani Kongres AS dan Donald Trump pada November 2025.
Namun, sampai sekarang, baru sebagian kecil dokumen yang sudah dibuka ke publik. Penghapusan nama Presiden AS, Donald Trump, dari dokumen membuat isu teori konspirasi semakin menjadi perbincangan di media sosial.
Lantas, benarkah Perang AS-Iran ini merupakan pengalihan isu Epstein? Berikut fakta-faktanya:
1. Bukti yang Mendukung Teori Pengalihan Isu
Sejumlah tokoh politik Amerika Serikat secara terbuka mengaitkan Perang AS-Iran dengan kontroversi dokumen Epstein.
Senator Jeff Merkley dari Partai Demokrat, wakil negara bagian Oregon, dalam wawancara KGW News pada 11 Maret 2026 mengatakan bahwa pemerintah AS "melakukan segala cara agar isu Epstein tidak lagi menjadi berita utama."
Hal senada diungkap anggota DPR Thomas Massie dari Partai Republik wakil wilayah Kentucky. Merujuk laporan Al Jazeera pada 4 Maret 2026, Massie menulis bahwa membom negara di belahan dunia lain tidak akan membuat berkas Epstein hilang begitu saja.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh analis politik Shaiel Ben-Ephraim dari Atlas Global Strategies. Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 4 Maret 2026, ia menyebut perhatian publik terhadap berkas Epstein menurun setelah konflik dimulai.
Hal itu dia ketahui dari data pencarian di Google Trend, sehingga menurutnya tujuan pengalihan isu untuk sementara terlihat berhasil.
2. Argumen yang Menolak Teori Konspirasi
Tidak semua pihak setuju dengan teori tersebut. Sejumlah analis menilai klaim pengalihan isu berlebihan atau bagian dari propaganda.
Washington Post dan sejumlah sumber pro-pemerintah Trump membingkai teori ini sebagai propaganda pro-Iran. Mereka menilai narasi tersebut disebarkan oleh pihak pro-Tehran untuk melemahkan legitimasi operasi militer AS.
Sementara itu, analis kebijakan luar negeri Christopher S. Chivvis dari Carnegie Endowment, dikutip The Guardian, menyebut adanya kans elemen "diversionary war." Hanya saja, ia menegaskan bahwa gagasan tersebut masih bersifat spekulatif, bukan bukti langsung adanya perintah rahasia.
Dari sisi poling independen, survei Zeteo/Data for Progress yang dilaporkan Newsweek pada 11 Maret 2026 menunjukkan bahwa mayoritas responden di AS percaya perang ini setidaknya sebagian untuk menutupi skandal Epstein.
Akan tetapi hasil survei tersebut tetap mencerminkan opini publik, bukan fakta hukum.
3. Fakta Kunci yang Perlu Diketahui
Beberapa fakta penting terkait isu Perang Iran-AS dan Epstein Files antara lain:
- Perang dimulai 28 Februari 2026 dengan serangan udara besar-besaran AS-Israel terhadap fasilitas nuklir dan rudal Iran, termasuk laporan awal tentang terbunuhnya tokoh kunci seperti Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
- DOJ masih menahan jutaan halaman Epstein files, meski undang-undang mengharuskan rilis penuh pada Desember 2025. Beberapa dokumen baru dirilis setelah perang dimulai, tapi tetap panen kritik karena masalah transparansi.
- Data Google Trends menunjukkan penurunan drastis pencarian "Epstein files" sejak akhir Februari 2026, sementara berita perang mendominasi headline global.
- Tidak ada bukti konkret, seperti dokumen rahasia atau whistleblower, yang menunjukkan Trump secara eksplisit memerintahkan perang untuk mengalihkan perhatian dari isu Epstein.
Perang AS vs Iran memang menggeser fokus media dan publik dari Epstein files ke konflik Timur Tengah. Pernyataan tokoh seperti Jeff Merkley, Thomas Massie, dan analis Shaiel Ben-Ephraim memberi bobot pada teori bahwa konflik ini berfungsi sebagai distraksi politik.
Namun tanpa bukti langsung, klaim bahwa perang tersebut murni pengalihan isu tetap berada pada level spekulasi dan opini politik.
Yang jelas, kontroversi Epstein files masih menjadi isu besar di AS dan terus memicu tuntutan transparansi publik. Seperti dikatakan Massie, "bom yang dijatuhkan di Iran tidak akan membuat dokumen tersebut hilang selamanya."
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





































