Menuju konten utama

Kondisi Perang Iran Terkini: AS Mengincar Stok Uranium Iran

Kekayaan uranium milik Iran menjadi daya tarik bagi AS untuk bisa menguasainya. Operasi militer dengan pasukan khusus diperlukan untuk menjalankan misi.

Kondisi Perang Iran Terkini: AS Mengincar Stok Uranium Iran
Ilustrasi Bom Atom. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang Iran memasuki hari ke-12 per Rabu (11/3/2026). Kini, Amerika Serikat (AS) membuka peluang mengerahkan pasukan darat demi mengincar stok uranium Iran.

Hal tersebut disampaikan Presiden AS Donald Trump pada sabtu (7/3). Seturut Energy World, Trump mengatakan dirinya senang jika pasukan AS dapat merebut uranium Iran tersebut.

"Itu akan menjadi hal yang luar biasa," kata Trump kepada wartawan di Air Force One. "Kami belum mengejarnya, tapi itu bisa kami lakukan nanti."

Peluang itu terbuka meski Trump memberikan keterangan pada Senin (10/3) bahwa pengerahan kekuatan darat belum diperlukan.

"Kami belum membuat keputusan apa pun mengenai hal itu. Kami belum mendekati keputusan itu," tutur Trump kepada New York Post.

Seturut ABC News, mantan pejabat AS yang tak disebutkan namanya menyatakan bahwa Washington mungkin akan mengincar sebagian atau seluruh cadangan uranium Iran yang telah diperkaya. Iran diproyeksikan memiliki sekitar 439 kg uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.

Iran juga memiliki proyeksi cadangan uranium dengan tingkat pengayaan lebih kecil mencapai 997 kg. Cadangan ini telah diperkaya mencapai 20 persen, namun AS mengklaim Iran dapat memperkayanya jadi uranium tingkat senjata dalam sebulan.

AS Mungkin Kerahkan Pasukan Darat demi Uranium

Kemungkinan AS mengerahkan pasukan darat demi mendapatkan uranium Iran terbuka, meski sejumlah pihak menyebut bahwa operasi merebut uranium oleh pasukan darat akan jadi operasi yang rumit.

Mantan Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut operasi semacam itu perlu pasukan dalam skala besar. Esper yang merupakan menteri pada periode pertama kepresidenan Trump menyebut pada Senin bahwa misi ini akan "sangat berbahaya".

Jika dilakukan, pengerahan pasukan darat untuk merebut uranium kemungkinan akan melibatkan unit operator khusus dan unit penjaga perimeter yang lebih luas.

Misi macam itu diperkirakan akan dimulai dengan membangun perimeter di sekitar lokasi penyimpanan uranium untuk memastikan tak ada yang dapat masuk atau keluar. Setelahnya, barulah tim operator akan bergerak untuk menjalankan misi, baik mengangkut uranium atau menghancurkannya.

Mick Mulroy, kontributor ABC News yang pernah menjabat sebagai asisten menteri pertahanan AS, menyebut operasi seperti ini akan memerlukan waktu. Aspek teknis pemindahan atau penghancuran uranium membuat operasi berjalan rumit.

Akan tetapi, Mulroy mengatakan bahwa operasi hanya bisa dilakukan jika AS mengetahui lokasi penyimpanan uranium. Jika tidak, maka pengerahan pasukan darat akan sia-sia.

"Pertanyaan saya adalah apakah kita mengetahui di mana material tersebut berada atau apakah kita bisa mendapatkannya karena mungkin terkubur," kata Mulroy.

Sejumlah pihak meyakini uranium yang telah diperkaya milik Iran kini berada di fasilitas nuklir Iran yang dibom AS pada tahun 2025 lalu. Stok uranium kemungkinan masih terkubur di sana.

Salah satu pihak yang meyakini hal itu adalah Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Grossi menyebut bahwa uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen disimpan dalam barel di situs nuklir Iran yang diserang di Isfahan.

"Bahan itu ada di dalam barel, di dalam barel yang disegel IAEA. Jadi masih harus dilihat apakah masih ada, tapi anggapan luas masih ada [di sana]," katanya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar