tirto.id - Politisi Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Ro Khanna menyebut enam nama pria yang namanya telah dihapus dari Epstein Files. Siapa saja mereka?
Ro Khanna mengungkapkan nama-nama tersebut saat berpidato di ruang sidang DPR AS pada Selasa (10/2) setelah meninjau dokumen versi lengkap (tanpa sensor) di kantor Departemen Kehakiman (DOJ) sehari sebelumnya.
DOJ merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen kasus Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks dan perdagangan anak di bawah umur sebagai bentuk aksi lanjutan setelah Epstein Files Transparency Act disahkan oleh Kongres Amerika Serikat pada November 2025 lalu.
Undang Undang tersebut mengharuskan dokumen yang dirilis tidak boleh disensor hanya untuk menghindari rasa malu, kerusakan reputasi, atau alasan sensitivitas politik.
Namun Khanna dan anggota kongres lainnya, termasuk Thomas Massie, menilai DOJ telah menghapus beberapa nama tanpa alasan hukum yang sah.
Setelah memeriksa dokumen tanpa sensor, mereka menyatakan menemukan setidaknya enam pria yang identitasnya sebelumnya disembunyikan.
"Ketika Anggota Kongres Massie dan saya menunjukkan hal ini kepada Departemen Kehakiman, mereka mengakui kesalahan mereka dan sekarang mereka telah mengungkapkan identitasnya," kata Khanna dikutip laman ABC News.
Nama Pria yang Diduga Telah Dihapus dari Epstein Files
Berikut daftar enam nama yang disebut Khanna telah dihapus dari Epstein Files:
1. Leslie Wexner
Leslie Herbert Wexner adalah seorang miliarder AS yang dikenal sebagai pengusaha ritel besar sekaligus aktivis politik.Ia merupakan salah satu pendiri dan kini menjabat sebagai chair emeritus Bath & Body Works, Inc. Selain itu, ia pernah menjadi tokoh utama di balik sejumlah merek terkenal seperti Victoria’s Secret, Abercrombie & Fitch, dan La Senza.
Wexner diketahui pernah memiliki hubungan bisnis dengan Epstein dan disebut-sebut membantu Epstein membangun kekayaannya pada 1990-an.
Ia menyatakan telah memutus hubungan dengan Epstein pada 2007 setelah tuduhan pelecehan muncul, dan pada 2019 ia menuduh Epstein menyalahgunakan dana pribadinya sebesar puluhan juta dolar.
2. Sultan Ahmed bin Sulayem
Sultan Ahmed bin Sulayem merupakan CEO perusahaan logistik DP World asal Uni Emirat Arab. Dalam salah satu email tahun 2015 yang muncul di dokumen, ia disebut pernah menceritakan pertemuan dengan seorang mahasiswi di Dubai.Dalam email lain, Epstein menulis bahwa ia “menyukai video penyiksaan”, yang dikirim kepada bin Sulayem sebagai penerima.
3. Salvatore Nuara
Identitas orang yang dimaksud belum jelas, dan belum ada informasi pasti mengenai apa bentuk hubungan atau keterkaitannya dengan Jeffrey Epstein, apakah sebagai teman, rekan bisnis, kenalan sosial, atau dalam konteks lain.4. Zurab Mikeladze
Identitas orang yang dimaksud belum jelas, dan belum ada informasi pasti mengenai apa bentuk hubungan atau keterkaitannya dengan Jeffrey Epstein, apakah sebagai teman, rekan bisnis, kenalan sosial, atau dalam konteks lain.5. Leonic Leonov
Identitas orang yang dimaksud belum jelas, dan belum ada informasi pasti mengenai apa bentuk hubungan atau keterkaitannya dengan Jeffrey Epstein, apakah sebagai teman, rekan bisnis, kenalan sosial, atau dalam konteks lain.6. Nicola Caputo
Nicola Caputo, terdapat politisi Italia dengan nama yang sama, tetapi belum ada bukti terverifikasi bahwa orang tersebut adalah individu yang dimaksud dalam dokumen.Menanggapi tudingan Khanna tersebut, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan bahwa penghapusan nama-nama itu adalah kesalahan administratif, bukan upaya menutup-nutupi.
“Dokumen yang Anda kutip memuat banyak nama korban. Kami baru saja menghapus nama Les Wexner dari dokumen ini, tetapi namanya sudah muncul ribuan kali dalam berkas tersebut. Departemen Kehakiman tidak menyembunyikan apa pun,” tulisnya di akun X @DAGToddBlanche.
Khanna menegaskan bahwa yang menjadi perhatian bukan sekadar nama-nama tersebut, tetapi potensi bahwa kesaksian para korban yang menyebut pria-pria berpengaruh bisa saja ikut tersembunyi karena penyensoran berlebihan.
Ia menyatakan bahwa jika benar pernyataan korban tentang pria kaya dan berkuasa ikut dihapus, maka hal itu merusak tujuan transparansi yang ingin dicapai Kongres.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































