Menuju konten utama

Apa yang Terjadi Setelah AS dan Iran Teken Kesepakatan Damai?

Kesepakatan damai AS-Iran membuka Selat Hormuz, mengakhiri blokade, melonggarkan sanksi, serta mengatur program nuklir dan rekonstruksi Iran.

Apa yang Terjadi Setelah AS dan Iran Teken Kesepakatan Damai?
Kepulan asap membubung dari kebakaran yang masih berlangsung di Bandara Internasional Dubai di Dubai pada 16 Maret 2026. Foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran pada Minggu, 14 Juni 2026 menandai berakhirnya konflik militer langsung antara kedua negara. Namun, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran setelah melalui beberapa kali proses perundingan.

Kedua negara telah meneken 14 poin MoU secara digital dan akan diresmikan secara fisik hari ini, Jumat, 19 Juni 2026 di Swiss. Ini adalah kesepakatan sementara menuju perjanjian damai permanen yang akan digagas selama periode 60 hari sejak penandatanganan.

⁠Apa yang Terjadi Setelah AS dan Iran Teken Kesepakatan Damai?

Berikut penjelasan poin-poin utama dalam kesepakatan damai sementara antara Iran dan AS dikutip Al Jazeera:

1. Penghentian Operasi Militer Secara Permanen

Dalam dokumen tersebut, AS dan Iran berjanji menghentikan seluruh aktivitas militer yang berkaitan dengan konflik, termasuk yang berhubungan dengan Lebanon.

Namun, persoalan besar muncul karena Israel dan Hizbullah tidak ikut menandatangani perjanjian tersebut. Artinya, meskipun AS dan Iran telah berdamai, belum ada jaminan bahwa pertempuran di Lebanon akan benar-benar berhenti.

Situasi semakin rumit karena Israel masih mempertahankan pasukannya di sebagian wilayah Lebanon dan menyatakan tidak memiliki rencana untuk mundur.

2. Pengakuan Kedaulatan dan Berakhirnya Agenda Pergantian Rezim

Salah satu perubahan paling signifikan dalam posisi Washington adalah hilangnya tuntutan perubahan pemerintahan Iran. Selama bertahun-tahun, terutama sejak konflik pecah, banyak pihak menilai tujuan utama AS adalah melemahkan atau bahkan menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran.

Namun dalam kesepakatan terbaru, kedua negara secara eksplisit sepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. Ini menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump pada akhirnya menerima kenyataan bahwa pemerintahan Iran tetap bertahan.

3. Pencabutan Blokade Laut dan Penarikan Pasukan AS

Selama konflik berlangsung, Amerika Serikat menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bentuk tekanan ekonomi dan militer. Blokade ini menghambat ekspor minyak dan perdagangan internasional Iran.

Dengan adanya kesepakatan damai, Washington berkomitmen mengakhiri blokade tersebut secara bertahap. Selain itu, pasukan militer AS yang terlibat dalam operasi konflik juga akan ditarik.

4. Pembukaan Kembali Jalur Pelayaran Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Setelah perang pecah, Iran menutup akses pelayaran di selat tersebut sehingga mengganggu pasokan minyak dan gas global.

Kesepakatan damai mengharuskan Iran membuka kembali jalur pelayaran dan menjamin keselamatan kapal-kapal dagang. Namun, Iran tetap mengisyaratkan bahwa kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.

Teheran masih ingin memperoleh biaya layanan tertentu bagi kapal yang melintas, meskipun pungutan transit secara langsung bertentangan dengan hukum maritim internasional.

5. Program Nuklir Iran Tetap Berlanjut Tanpa Senjata Nuklir

Dalam kesepakatan ini, Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Sebagai bagian dari kompromi, stok uranium yang saat ini diperkaya hingga 60 persen akan diturunkan kembali ke tingkat yang cocok untuk pembangkit listrik, yaitu sekitar 3,67 persen.

Proses ini dikenal sebagai downblending dan akan diawasi oleh International Atomic Energy Agency. Langkah ini dianggap lebih dapat diterima Iran dibanding menyerahkan stok uranium ke negara lain.

6. Rencana Dana Rekonstruksi Iran Senilai 300 Miliar Dolar AS

Salah satu poin yang paling mengejutkan adalah komitmen untuk menyusun rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.355,6 triliun.

Dana ini dimaksudkan untuk membantu pemulihan ekonomi Iran pasca perang. Namun, dokumen tersebut tidak menjelaskan siapa yang akan membayar dana tersebut.

Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance telah menegaskan bahwa dana tersebut tidak akan berasal dari pajak warga Amerika.

“Tidak ada pembayaran sebesar 300 Miliar Dolar AS kepada Iran. Itu Berita Palsu! Yang didapatkan AS hanyalah Kesuksesan, Penurunan Harga Minyak, dan Kemenangan. Lihatlah Pasar Saham. Propaganda Demokrat sedang beraksi!!!” tulis Trump di Truth Socialnya pada 19 Juni 2026.

7. Penghapusan Sanksi Ekonomi terhadap Iran

Iran selama bertahun-tahun menjadi salah satu negara dengan sanksi ekonomi paling berat di dunia. Sanksi tersebut membatasi perdagangan, investasi, akses perbankan internasional, hingga pembekuan aset miliaran dolar milik Iran di luar negeri.

Dalam MoU terbaru, AS menyatakan kesediaannya mengakhiri berbagai sanksi tersebut sebagai bagian dari kesepakatan akhir. Namun, belum jelas apakah pencabutan hanya berlaku untuk sanksi Amerika Serikat atau juga mencakup sanksi internasional lainnya.

8. Aset Iran yang Dibekukan Berpotensi Dicairkan

Salah satu tujuan utama Iran dalam perundingan damai adalah memperoleh kembali akses terhadap aset negara yang selama ini dibekukan akibat sanksi. Dana tersebut sangat penting bagi upaya rekonstruksi ekonomi dan pembangunan infrastruktur pascakonflik.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra