tirto.id - Harga minyak mentah Brent naik pada perdagangan Kamis (18/6/2026), setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance memperingatkan Israel agar tidak melancarkan serangan lebih lanjut terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.
Pernyataan tersebut memunculkan keraguan mengenai keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup menguat 30 sen atau 0,38 persen ke level 79,85 per barel. Sementara, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen atau 0,25 persen dan berakhir di posisi 76,60 per barel.
Menurut mitra di Again Capital, John Kilduff, pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Karena itu, setiap indikasi memburuknya situasi keamanan atau meningkatnya risiko konflik berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.
"Pernyataan wakil presiden mengenai Israel tampaknya kembali meningkatkan ketegangan," katanya, dikutip Jumat (19/6/2026).
"Saya kira gangguan sekecil apa pun akan langsung tercermin dalam pergerakan pasar," lanjut Kilduff.
Sebelum pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance, harga Brent sempat menyentuh level terendah sejak 2 Maret, yang merupakan hari perdagangan pertama setelah serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sedangkan harga WTI turun ke level terendah sejak 4 Maret.
Pada akhirnya, perhatian pasar minyak akan tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum pecahnya perang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Setiap gangguan terhadap arus pengiriman minyak melalui selat tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan global dan memicu volatilitas harga energi.
"Pasar saat ini sudah kembali memperhitungkan skenario pemulihan penuh arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Apa pun yang tidak memenuhi skenario tersebut akan menjadi masalah," ujar Kilduff.
Sementara itu, nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran menetapkan masa negosiasi selama 60 hari. Selama periode tersebut, Iran akan mengizinkan kapal-kapal melintas di Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya.
Kesepakatan itu juga mengatur agar lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz dipulihkan secara penuh dalam waktu 30 hari. Kemudian, kesepakatan tersebut juga mengikat sekutu kedua negara di kawasan Timur Tengah dan secara khusus berlaku untuk Lebanon, tempat Israel selama ini melancarkan operasi militer udara dan darat terhadap kelompok Hezbollah.
Namun, kesepakatan awal itu masih menunda pembahasan sejumlah isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Selain itu, perjanjian tersebut mengharuskan Amerika Serikat bersama mitra-mitranya menyusun rencana pendanaan senilai US$300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran pascakonflik.
Para analis memperkirakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Meski demikian, sejumlah pelaku industri mengingatkan bahwa harga minyak kemungkinan tidak akan langsung anjlok karena permintaan global mulai pulih dan persediaan minyak yang sempat terkuras perlu diisi kembali.
Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari negara-negara Teluk akan kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli 2026. Sementara itu, produksi minyak mentah diproyeksikan pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang.
Menurut Goldman Sachs, normalisasi ekspor ke level sebelum konflik dapat tercapai apabila volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat sekitar 13 juta barel per hari dari posisi saat ini. Kenaikan tersebut diperkirakan akan membawa arus pengiriman melalui jalur strategis itu kembali ke sekitar 70 persen dari kapasitas sebelum perang.
Di sisi lain, Bank investasi BNP Paribas menyatakan belum memperkirakan harga minyak akan kembali ke level sebelum perang. Dalam catatannya, bank tersebut menilai harga Brent di kisaran 75 dolar AS per barel akan menjadi "batas bawah yang kuat dalam waktu dekat" mengingat masih adanya gangguan pasokan dan tingginya permintaan.
Sebagai perbandingan, harga Brent sempat diperdagangkan di kisaran 60 dolar AS hingga 70 dolar AS per barel pada dua bulan pertama tahun ini sebelum konflik pecah.
Di sisi permintaan, konsumsi minyak di Cina, konsumen minyak terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai 753 juta ton metrik pada 2026. Menurut laporan unit riset PetroChina, angka tersebut turun 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya seiring percepatan transisi menuju energi baru serta dampak harga minyak yang lebih tinggi.
Sementara itu, perkembangan geopolitik lain juga turut menjadi perhatian pasar. Drone Ukraina dilaporkan menyerang kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam pekan ini. Ukraina menyebut serangan tersebut sebagai bukti meningkatnya kemampuan militernya dalam menjangkau infrastruktur strategis Rusia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




































