tirto.id - Melonjak di Amerika Serikat belakangan ini, “super flu” atau influenza tipe A (H3N2) varian subclade K mulai ditemukan di Indonesia. Lantas, apa maksud super flu dan apakah serupa dengan COVID-19?
Sejak musim dingin 2025, AS mengalami lonjakan infeksi virus super flu dalam taraf masif dan cepat.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) sempat penggolongan 32 dari 50 negara bagian di sana sebagai wilayah dengan tingkat infeksi super flu tinggi dan sangat tinggi.
Pada 20 Desember 2025 lalu, New York mencatatkan jumlah infeksi influenza tertinggi dalam seminggu, yakni 71.123 kasus. Jumlah tersebut menjadi jumlah infeksi kasus influenza tertinggi yang pernah dicatat CDC dalam kurun waktu seminggu.
Tak hanya di AS, sejumlah negara lainnya juga mengalami peningkatan kasus influenza tipe A subclade K, yakni Inggris, Australia, dan Jepang.
Virus H3N2 subclade K penyebab super flu juga dikonfirmasi telah masuk Indonesia. Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Widyawati, sudah ada sekitar 62 kasus super flu yang tercatat dalam hasil uji Whole Genome Sequencing (WGS) pada 25 Desember 2025 lalu.
"Setelah dilakukan WGS yang selesai pada 25 Desember lalu, diketahui bahwa subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025," tutur Widyawati pada Kamis (1/1/2026), dikutip dari Antara.
Dari total 62 kasus terkonfirmasi itu, jelas Widyawati, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat jadi tiga daerah dengan jumlah infeksi super flu tertinggi di Indonesia.
Apa Itu Super Flu & Samakah dengan COVID-19?
Super flu merupakan istilah yang viral digunakan untuk merujuk infeksi virus influenza tipe A (H3N2) subclade K. Sebenarnya, nama medis untuk virus ini adalah Influenza A (H3N2) J.2.4.1.
Virus tersebut merupakan virus hasil mutasi dari H3N2 (influenza tipe A). Nama "super flu" dilekatkan pada infeksi virus ini karena disinyalir dapat bertransmisi atau menular dengan lebih cepat dan luas.
Menurut Kepala Unit Departemen Manajemen Ancaman Epidemi dan Pandemi WHO, dr. Wenqing Zhang, varian influenza tipe A subclade K ini pertama kali ditengarai pada Agustus 2025 lalu di Australia dan Selandia Baru.
Sejak pertama kali ditemukan di sana, infeksi virus ini telah merebak ke berbagai negara dan terdeteksi di lebih dari 30 negara.
Meskipun demikian, menurut dr. Zhang, data yang ada kini tidak menyebutkan peningkatan keparahan pada infeksi virus super flu.
"Data epidemiologi saat ini tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit," tuturnya, dikutip dari laman resmi WHO.
Selain itu, dijelaskan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, vaksin influenza masih terbukti berkhasiat dalam menekan risiko keparahan infeksi virus ini.
"Belum ada bukti bahwa subclade ini kebal atau tetap menginfeksi orang-orang yang sudah diimunisasi. Laporan tetap mengatakan bahwa kerentanan meningkat pada orang yang tidak diimunisasi," katanya dalam Media Briefing IDAI via Zoom Meetings pada Senin (29/12).
Dengan demikian, influenza tipe A subclade K yang dikenal dengan "super flu" ini merupakan varian baru dari virus influenza tipe A. Hal ini berbeda dengan COVID-19, yang merupakan varian mutasi dari virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Meskipun ada kemiripan gejala seperti batuk, bersin, kelelahan, dan demam, namun keduanya berasal dari dua virus dari dua famili yang berbeda. COVID-19 berasal dari famili Coronaviridae, sementara influenza berasal dari famili Orthomyxoviridae.
Hanya saja, super flu tidak bisa dianggap sepele meskipun bukan berasal dari virus yang sama.
Menurut dr. Nastiti Kaswandani, publik di Indonesia kerap menyalah-artikan influenza sebagai selesma atau common cold, yakni kondisi medis serupa flu dengan tingkat keparahan lebih rendah dan dapat sembuh dengan istirahat yang cukup.
Padahal, tutur Nastiti, keduanya merupakan terminologi medis yang berbeda. Influenza merupakan infeksi virus yang cukup ditakuti di dunia, terutama di negara dengan musim dingin.
"[Influenza] ini masih merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta," kata Nastiti.
Hal tersebut dikarenakan influenza berisiko jadi penyebab penyakit komplikasi berbahaya seperti pneumonia, gagal ginjal, hingga gagal hati.
Di AS, berdasarkan data CDC via NBC News, influenza tipe A diduga menjadi penyebab kematian 3.100 orang hingga akhir tahun 2025 lalu.
Akan tetapi, meskipun super flu dan COVID-19 merupakan dua penyakit berbeda, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti pada pencegahan COVID-19 masih efektif untuk menekan persebaran super flu.
Perilaku pencegahan seperti rajin cuci tangan, menggunakan hand sanitizer, tidak batuk & bersin sembarangan, juga menjaga kontak fisik dengan pasien terjangkit bisa menekan jumlah mutasi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





























