tirto.id - Influenza tipe A (H3N2) subclade K atau yang viral disebut "super flu" dikonfirmasi telah masuk dan menginfeksi Indonesia. Berikut wilayah-wilayah yang telah ditemukan kasus infeksi virus varian baru tersebut.
Sebelumnya, lonjakan kasus infeksi virus "super flu" terjadi di sejumlah negara di dunia, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, dan Australia.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), hingga akhir 2025 telah terjadi jutaan kasus influenza tipe A dan puluhan ribu di antaranya perlu dirawat di rumah sakit. Disinyalir, virus H3N2 subclade K jadi biang keladinya.
Virus influenza tipe A subclade K ini juga diduga menjadi alasan bagi kematian 3.100 pasien influenza di AS hingga akhir Desember 2025, seturut data CDC.
Virus ini merupakan varian mutasi baru dari virus H3N2 penyebab influenza tipe A. Meskipun penelitian terhadapnya belum memadai, namun varian ini diduga memiliki tingkat transmisi atau penularan yang lebih tinggi dari jenis influenza lainnya.
Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, dalam Media Briefing IDAI via Zoom Meetings pada Senin (29/12) lalu.
"Kalau influenza biasa bisa menularkan 2-3 orang, mungkin ini lebih [banyak]," katanya.
Apakah Super Flu Sudah Masuk Indonesia & di Wilayah Mana Saja?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengonfirmasi bahwa influenza tipe A (H3N2) subclade K alias super flu telah masuk di Indonesia. Sebanyak 62 kasus positif infeksi telah tercatat per 25 Desember 2025.
Hal tersebut sebagaimana disampaikan Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, pada Kamis (1/1/2026) lalu. Jumlah 62 kasus infeksi super flu di Indonesia itu tercantum dalam hasil uji whole genome sequencing (WGS) yang dilakukan Kemenkes.
"Setelah dilakukan WGS yang selesai pada 25 Desember lalu, diketahui bahwa subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025," kata Widyawati, dikutip dari Antara.
Widyawati menuturkan bahwa 62 kasus infeksi super flu tersebut ditemukan di delapan provinsi di Indonesia dan ada tiga provinsi dengan tingkat infeksi tertinggi sejauh ini, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Sementara itu, menurut Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, dalam siaran pers pada Kamis (1/1), disebutkan bahwa mayoritas kasus infeksi super flu di Indonesia ditemukan pada perempuan dan kelompok usia anak.
Namun, Prima menuturkan bahwa persebaran infeksi influenza tipe A subclade K di Indonesia masih dalam taraf terkendali.
"Situasi di Indonesia masih sangat terkendali. Vaksin influenza yang tersedia saat ini juga masih efektif untuk mencegah risiko sakit berat maupun rawat inap akibat varian ini," tuturnya.
Apa Itu Super Flu dan Bagaimana Gejalanya?
"Super flu" sebenarnya bukan istilah medis. Ia merupakan nama yang populer disematkan publik untuk varian baru virus influenza (H3N2), yakni subclade K. Nama resmi untuk virus ini adalah Influenza A (H3N2) J.2.4.1.
Nama "super" disandingkan pada varian virus influenza ini karena disinyalir memiliki tingkat bertransmisi lebih cepat dan lebih sulit ditengarai tanpa uji lab.
Gejala yang telah dilaporkan akibat infeksi super flu sejauh ini serupa dengan gejala pada influenza jenis lainnya, yakni berkisar pada:
- Demam,
- Kelelahan,
- Nyeri badan,
- Menggigil,
- Pilek atau hidung tersumbat,
- Muntah,
- Diare,
- Sakit tenggorokan.
Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, influenza masih menjadi salah satu penyakit dengan tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
"Ini masih merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta," katanya.
Sementara itu, di Indonesia, Nastiti menuturkan bahwa publik masih kerap menyalahartikan influenza dengan selesma yang memiliki tingkat keparahan lebih rendah.
Padahal, influenza tipe A dan tipe B memiliki risiko cukup tinggi jadi salah satu penyebab penyakit komplikasi parah, seperti pneumonia, gagal ginjal, dan gagal hati.
Indonesia sendiri pernah mengalami beberapa periode infeksi influenza yang cukup mematikan, seperti infeksi Flu Spanyol (1918-1920) akibat virus H1N1 dan infeksi flu burung (2005-2018) akibat virus H5N1.
Akan tetapi, pada influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan melonjak, belum ada data medis yang menunjukkan virus ini menginfeksi dengan tingkat keparahan lebih tinggi dari influenza pada umumnya.
Menurut Nastiti, gejala yang ditimbulkan oleh varian baru influenza ini tergolong serupa dengan jenis influenza lain dan masih dapat ditekan lewat imunisasi yang telah tersedia kini.
Hanya saja, jelas Nastiti, dugaan bahwa super flu bisa menular dengan lebih cepat dan lebih luas perlu diwaspadai, terutama pada kelompok rentan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































