Menuju konten utama

Apa Itu Beras Oplosan, Cara Mengenali, & Benarkah Berbahaya?

Kementerian Pertanian menemukan beras oplosan yang beredar di pasar. Lantas, apa itu beras oplosan dan benarkah berbahaya? Simak pula cara mengenalinya.

Apa Itu Beras Oplosan, Cara Mengenali, & Benarkah Berbahaya?
Pedagang beras menjajakan dagangannya di Pasar Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (12/6/2025). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/bar

tirto.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap hasil investigasi terkait adanya beras oplosan yang beredar di pasar. Lantas, apa itu beras oplosan dan benarkah berbahaya? Simak pula cara mengenalinya.

Kementan menemukan adanya kecurangan perdagangan beras yang meliputi penurunan mutu dan bobot serta permainan harga di pasar. Hasil investigasi ini disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam konferensi pers hari Kamis (26/6/2025).

Dari hasil investigasi tersebut, terdapat 212 dari 268 merek beras tidak sesuai standar kualitas, berat, dan harganya. Berdasarkan temuan Kementan, potensi kerugian konsumen ditaksir mencapai angka Rp99,35 triliun per tahun. Pengecekan beras melibatkan 13 laboratorium yang tersebar di 10 provinsi.

"Kita gunakan lab karena kita tidak ingin salah, kita tidak ingin ceroboh sehingga kami menggunakan 13 lab di 10 provinsi. Kita tidak ingin salah dalam menyampaikan informasi, karena ini sangat sensitif," ujar Andi Amran, Kamis (26/6/2025).

Sehari sebelumnya, Rabu (16/7/2025), melalui Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IV DPR RI, Andi Amran juga menjelaskan bahwa praktik pengoplosan beras dapat mengakibatkan kerugian di atas Rp100 triliun per tahun.

"Kalau Rp99,35 triliun itu adalah kerugian masyarakat 1 tahun, tapi kalau ini (pengoplosan) terjadi 10 tahun atau 5 tahun, karena ini bukan hari ini terjadi tapi berlangsung lama. Tetapi nanti angkanya sudah pasti bukan Rp100 triliun pasti di atas, kalau ini dilacak ke belakang," ujarnya.

Apa Itu Beras Oplosan dan Cara Mengenalinya

Dalam investigasi tersebut, Kementan juga menemukan pengoplosan beras subsidi dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang kemudian dijual sebagai beras premium.

Berdasarkan data Kementan, 80 persen (beras SPHP) dioplos jadi beras premium. Sementara, hanya 20 persen yang sampai pada konsumen dengan harga yang murah. Artinya, sebagian besar beras tersebut dijual lebih mahal dari harga sebenarnya karena telah dilabeli beras premium.

Penyaluran beras SPHP lampaui target

Pekerja menata beras SPHP di gudang Perum Bulog Umbul Tengah, Kota Serang, Banten, Rabu (30/10/2024).ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/rwa.

Di pasaran, beras oplosan adalah beras berkualitas medium yang dioplos dengan kualitas premium. Prof Tajuddin Bantacut, Pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University, menjelaskan jenis-jenis beras campuran yang beredar di masyarakat.

Berikut jenis beras oplosan menurut Tajuddin Bantacut:

  • Beras yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung atau bahan lainnya.
  • Beras blended atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur.
  • Beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali
Ciri-ciri beras oplosan juga mudah dikenali secara kasat mata. Secara umum, beras oplosan dapat dikenali dari warna yang tidak seragam, butiran yang berbeda ukuran, dan tekstur nasi yang lembek setelah dimasak.

“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat dicurigai sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” jelasnya Tajuddin, dilansir dari laman resmi IPB (10/7/2025).

Tajuddin juga menjelaskan, beberapa beras oplosan juga dicampur benda asing seperti zat pewarna atau pengawet berbahaya. Zat tersebut dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Stok beras Indonesia tembus 4,2 juta ton

Pekerja menimbang beras hasil serapan di Gudang Bulog Utama, Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (10/7/2025). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/rwa.

Senada dengan Tajuddin, Rima Azara, dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Tekpang Umsida) menjelaskan bahwa beras oplosan dapat dikenali dengan panca indra.

“Kita bisa menggunakan metode analisis organoleptik untuk mengetahui ciri tersebut secara mandiri, yaitu dengan kemampuan panca indra kita,” kata Rima, mengutip laman Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada Sabtu (19/7/2025).

Berikut ciri-ciri umum beras oplosan:

  • Dari segi tampilan, beras oplosan tidak seragam, banyak patahan, dan terlihat mengkilap seperti dilapisi lilin atau zat kimia
  • Memiliki aroma apek, asam, atau berbau bahan kimia.
  • Saat dimasak, tekstur lembek, mudah basi, tidak wangi, dan lengket.
  • Jika direndam air, biasanya mengambang.

Benarkah Beras Oplosan Berbahaya?

Selain merugikan secara ekonomi, praktik beras oplosan juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Vella Rohmayani.

Vella menjelaskan bahwa beras oplosan sering kali berasal dari beras lama atau berkualitas rendah yang rawan ditumbuhi kutu. Hal ini berpengaruh pada penurunan nutrisi beras dan memicu bakteri berbahaya.

“Beras berkutu bukan berarti langsung beracun, tetapi nilai gizinya berkurang. Rasa nasi juga bisa berubah, dan yang lebih berbahaya adalah risiko munculnya jamur serta kontaminasi bakteri akibat penyimpanan yang tidak layak,” jelas Vella Rohmayani, melansir laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, Minggu (20/7/2025).

Selain itu, zat kimia berbahaya dalam beras oplosan juga berdampak pada kesehatan secara serius jika dikonsumsi jangka panjang. Beberapa dampak yang muncul di antaranya gangguan pencernaan. Kemudian kerusakan organ hati dan ginjal, risiko kanker, serta penurunan imun tubuh.

Pembaca juga dapat mengetahui informasi terbaru tentang beras oplosan melalui artikel yang terhimpun di sini.

Baca juga artikel terkait BERAS OPLOSAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo