Menuju konten utama

Antraks Jadi Sorotan, Kemenkes Awasi Zoonosis Jelang Idul Adha

Kemenkes imbau masyarakat tingkatkan kewaspadaan potensi penularan penyakit zoonosis dari hewan ternak jelang Idul Adha 2026.

Antraks Jadi Sorotan, Kemenkes Awasi Zoonosis Jelang Idul Adha
Dokter hewan memeriksa kondisi kesehatan sapi di Pasar Hewan Muneng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (17/7/2023). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun melakukan kegiatan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan guna pencegahan penyebaran penyakit antraks. ANTARA FOTO/Siswowidodo/nym.

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit zoonosis dari hewan ternak menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah antraks, yang dapat menular dari hewan ke manusia selama proses kurban berlangsung.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan, aspek kesehatan perlu diperhatikan dalam seluruh rangkaian proses kurban mulai dari pemilihan hewan, penyembelihan, hingga pengolahan daging.

“Kementerian Kesehatan menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis dari hewan ternak pada saat hari raya kurban Idul Adha,” kata Andi saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Ia menyebutkan, antraks merupakan penyakit yang disebabkan bakteri bacillus anthracis yang mampu membentuk spora dan bertahan lama di lingkungan. Penularannya disebut dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, hirupan udara, hingga konsumsi daging yang tidak dimasak matang.

Menurut Andi, Kemenkes mencatat tren kasus antraks pada manusia menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, tercatat 81 kasus dengan tiga kematian. Angka kematian turun menjadi satu kasus pada 2024, sementara pada 2025 hingga 2026 belum ditemukan kematian akibat antraks.

“Alhamdulillah di tahun 2025 tidak ada kematian dan sampai sekarang pun 2026 alhamdulillah tidak ada kematian,” tuturnya.

Andi menyatakan, sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan antraks kulit yang terjadi akibat kontak saat penyembelihan, pengolahan, maupun konsumsi daging terinfeksi. Sementara, kasus kematian umumnya berasal dari antraks gastrointestinal dan antraks meningitis yang menyerang otak.

Kemenkes meminta masyarakat memperhatikan empat tahapan utama penanganan hewan kurban, yakni pemilihan dan pembelian hewan, proses transportasi dan penampungan, penyembelihan, serta pengelolaan limbah kurban.

Pada tahap penyembelihan, Andi menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri bagi petugas pemotong hewan, seperti celemek, masker, sarung tangan, dan sepatu boot.

“Standarnya itu harus pakai masker karena antraks tersebut dapat menular melalui inhalasi,” ujarnya.

Ia juga meminta proses penyembelihan dilakukan di lokasi dengan sanitasi yang baik. Darah dan limbah hewan kurban diminta tidak dibuang sembarangan, terutama ke sungai atau badan air.

“Ada baiknya jika itu tanah, itu digali begitu dan darahnya itu dialirkan kepada lubang tersebut,” kata Andi.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT ANTRAKS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah