tirto.id - Amerika Serikat (AS) disebut melakukan ancaman pembunuhan kepada Kabinet Venezuela usai menculik Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 lalu. Detail ancaman itu terungkap setelah sebuah video pertemuan antara Pemerintah Venezuela dan tokoh-tokoh pro-rezim Maduro bocor.
Menukil The Guardian, video yang bocor merupakan rekaman pertemuan pada 7 hari pasca-penculikan Maduro, atau pada 10 Januari lalu. Dalam video itu, pertemuan dipimpin oleh Menteri Komunikasi Venezuela kala itu, Freddy Ñáñez.
Dalam video, Ñáñez tampak mengangkat telepon dan mendekatkannya ke mikrofon. Telepon itu menampilkan suara penjabat Presiden Venezuela kini, Delcy Rodríguez.
Delcy Rodríguez kemudian mengungkapkan bahwa ia dan pimpinan kabinet lainnya mendapatkan ancaman pembunuhan dari AS. Militer AS disebut mengancam akan membunuh para pimpinan kabinet jika tidak menuruti kehendak Washington.
Isi Ancaman AS untuk Kabinet Venezuela
Berbicara selama enam menit melalui telepon Freddy Ñáñez, Delcy Rodríguez menyebut bahwa ancaman AS itu ditujukan kepada dirinya selaku wakil presiden, Diosdado Cabello selaku menteri dalam negeri, dan Jorge Rodríguez selaku ketua kongres.
"Ancaman dimulai sejak menit pertama mereka [AS] menculik presiden," kata Delcy Rodríguez.
Delcy Rodríguez menuturkan, ia dan pihak-pihak yang diancam diberi waktu 15 menit untuk memutuskan apakah akan mematuhi tuntutan Washington, "atau mereka akan membunuh kami".
Selain itu, Delcy Rodríguez juga mengaku bahwa militer AS semula tak mengungkap bahwa mereka menangkap Maduro. Ketika terjadi serangan di Caracas, AS menyebut bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, "telah dibunuh, bukan diculik".
Mendengar klaim pembunuhan itu, Delcy Rodríguez menuturkan bahwa ia dan dua pejabat kabinet lain merespons dengan keras. Menurut Delcy, mereka semua menjawab ancaman dengan jawaban bahwa mereka "siap untuk mengalami nasib yang sama" dengan Maduro.
"Dan saya katakan kepada Anda, kami tetap berpegang pada pernyataan itu hingga hari ini, karena ancaman dan pemerasan terus-menerus terjadi. Dan kita harus melanjutkan dengan sabar dan kehati-hatian strategis," katanya.
Kemudian, Delcy mengungkap tiga tujuan utama dari respons pemerintahannya terhadap serangan AS, yakni "menjaga perdamaian... menyelamatkan sandera kita... dan untuk mempertahankan kekuasaan politik".
Pengamat Merespons dengan Skeptis
Meskipun apa yang diungkap oleh Delcy tampak mengkhawatirkan dan menegangkan, namun sejumlah analis menilai bahwa pernyataan Delcy perlu direspons dengan skeptis. Sejarawan dan analis politik Margarita López Maya, yang merupakan pensiunan profesor Central University of Venezuela, mengungkapkan hal itu.
Menurut Maya, sulit untuk menilai apakah ancaman yang diceritakan Delcy Rodriguez benar adanya. Maya sendiri melihatnya sebagai upaya pemerintahan Delcy untuk menghindari tuduhan pengkhianatan.
"Mungkin itu narasi yang dibangun [Delcy] Rodríguez sendiri untuk menjaga basis pendukungnya tetap bersatu, karena semua orang tahu bahwa penggulingan Maduro [oleh AS] hanya bisa terjadi dengan keterlibatan internal," katanya.
Penilaian Maya tersebut tampak pada narasi yang dibangun Menteri Komunikasi Venezuela Freddy Ñáñez yang ada di pertemuan itu. Ñáñez menyatakan bahwa penyerahan minyak Venezuela ke AS memang rencana yang sudah dibuat oleh Maduro sebelumnya.
"Ini bukan konsesi, hadiah, atau kekalahan; menjual minyak ke AS selalu jadi rencana kami," kata Ñáñez dalam pertemuan itu.
Secara eksplisit, Ñáñez menyampaikan pula bahwa Delcy Rodríguez perlu dibela dari "gosip, rumor, intrik, dan upaya untuk mendiskreditkannya". Oleh Ñáñez, upaya mendiskreditkan Delcy itu dilakukan oleh "kaum puritan" akan menganggap pemerintahan Delcy Rodríguez telah "menyerahkan negara, revolusi, mengkhianati" Chavismo.
Chavismo merupakan retorika sosialis yang diusung oleh pendahulu Maduro, Hugo Chávez. Retorika anti-AS ini selama ini menjadi alat politik utama Maduro guna meraih suara publik dan mengonsolidasikan kekuatan politik Venezuela.
Selain pernyataan Ñáñez yang menyiratkan kepentingan rezim hari ini agar tak dituduh pengkhianat, Maya juga menjelaskan bahwa sejauh ini respons pemerintahan Delcy kepada AS selalu kontradiktif.
Selama ini, Delcy selalu membuat pernyataan mengutuk penculikan Maduro oleh AS, namun penjabat Presiden Venezuela itu tampak mengekor kehendak Washington. Bahkan, Delcy belum lama ini dipuji Presiden AS Donald Trump karena telah menuruti keinginan AS.
"Saya pikir apa yang sebenarnya dinegosiasikan pemerintah [Venezuela sekarang] adalah bagaimana menyelamatkan diri sendiri," kata Maya.
Menurut Maya, rezim Chavismo hari ini tengah memainkan strategi untuk "mematuhi AS, tetapi mencoba mengulur waktu untuk melihat" apakah ada peluang guna "tetap berkuasa melalui opsi otoriter dengan beberapa pembukaan ekonomi".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































