tirto.id - CIO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menjelaskan alokasi 15 persen dari total dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dialokasikan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN). Tujuannya agar Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) Indonesia itu bisa mendapatkan pengembalian atas hasil investasi alias return lebih cepat.
Dus, Danantara Investment Management (DIM) yang bertugas mengelola investasi bisa segera membiayai proyek-proyek Danantara.
"Ya, ini kan untuk bisa danantara investment mulai. Nah, kebetulan kita hanya ada waktu 2 bulan ya. Salah satunya memang yang kita harus bisa yang paling cepat, kita harus cari market yang paling liquid. Ya salah satunya memang di pasar bond (surat utang), bond market, ya kita pengen di public market equity," jelasnya, saat ditemui di sela acara Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).
Meski begitu, Pandu memastikan jika pembelian SBN menggunakan sebagian dividen perusahaan-perusahaan pelat merah hanya dilakukan sementara dan hanya untuk jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, Danantara akan memperluas opsi investasi tidak terbatas pada masar surat berharga atau obligasi saja, melainkan juga di pasar modal.
"Jangka pendek, jangka panjang harus kombinasi, baik dari sisi pasar modal dan juga dari sisi bond market. Itu dari sisi public market investasi, itu semua mix lah," tambahnya.
Perluasan opsi investasi ini, dipandang perlu karena pendanaan untuk proyek-proyek yang akan dibiayai oleh Danantara akan semakin besar. Karena itulah, Pandu lantas mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan volume perdagangan harian pasar modal, dari yang saat ini masih di kisaran 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi setidaknya 5-8 miliar dolar AS.
"Equity itu memang perlu likuiditas yang lebih banyak. Makanya tadi saya sebutkan kita hanya 1 miliar (dolar AS) per hari, itu harus ditingkatkan, harus bisa 5 atau 8 miliar per hari. Sama, enggak boleh kalah juga dengan India contohnya. Jadi, ini salah satu yang perlu kita fokuskan, bagaimana memperdalam pasar modal di Indonesia," lanjut Pandu.
Sebelumnya Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengkritik langkah Danantara yang menggunakan 15 persen dari total dividen BUMN untuk membeli SBN. Ia pun yakin, kepemilikan SBN oleh Danantara akan terus bertambah setiap tahunnya.
Menurutnya, hal ini patut dikritisi karena akan membuat keahlian Danantara dalam mengelola investasi menjadi tidak berkembang.
"Saya tadi sempat kritik, kalau Anda taruh obligasi begitu banyak di pemerintahan, keahlian Anda apa?" kata Purbaya, kepada awak media, kemarin.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































