tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai gangguan produksi emas di PT Freeport Indonesia menjadi salah satu sebab tingginya harga emas saat ini. Gangguan serius pada produksi PTFI ini lah yang kemudian memicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar global.
“Produksinya (emas) terganggu akibat kolapsnya tambang di Freeport. Ini yang men-drive salah satu harga emas naik all time high (ATH). Karena supply dan demand-nya tidak seimbang,” ujarnya dalam CEO Insight, di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025).
Namun di sisi lain, kenaikan harga emas juga merupakan dampak positif dari pembentukan bank emas atau bullion bank. Tak hanya itu, kenaikan harga emas ini juga menandakan bahwa masyarakat sudah semakin melek dengan investasi pada aset yang lebih berkualitas.
“Jika lihat inflasi 2,86 persen, memang salah satu yang naik adalah terkait dengan pembelian emas. Jadi ini suatu hal relatif positif karena masyarakat sudah bisa mencari aset-aset berkualitas. Dan ini benar-benar efek dari pembentukan bullion bank,” lanjut Airlangga.
Sebagai informasi, PTFI sempat menghentikan seluruh aktivitas produksi bawah tanah (underground) di Grasberg Block Cave (GBC) di Grasberg, Kabupaten Mimika, Papua Tengah imbas longsor yang menelan korban jiwa. Karena insiden yang terjadi pada 8 September 2025 itu, Freeport McMoRan sebagai induk PTFI lantas mengeluarkan status force majeure (keadaan kahar) pada tambang Grasberg.
Tidak hanya itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia pun mengindikasikan bahwa akan ada kekurangan pasokan emas yang akan dialami oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam imbas insiden longsor ini. Sebab, konsentrat yang diolah PTFI diprediksi akan mengalami penurunan pasca produksi dihentikan sementara.
“Sekarang ini adalah refenery (pemurnian) emas kita itu kan di Freeport. Sementara di Amman, di NTB, dengan 970 ribu konsentrat, itu menghasilkan 18 sampai dengan 20 ton emas. Tapi kan kita tahu bahwa sekarang di Freeport itu kemarin ada terjadi musibah di underground," kata Bahlil beberapa waktu lalu.
Perlu diketahui, dari sekitar 3 juta ton konsentrat yang diolah oleh smelter Freeport, dapat dihasilkan antara 50 hingga 60 ton emas setiap tahunnya.
“Produksi terhadap konsentrat di Freeport itu belum dilakukan secara maksimal. Maka dengan demikian pasti mengalami kekurangan pasokan (emas bagi Antam)," tambahnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































