tirto.id - Suatu hari Nabi Muhammad memanggil pemuka Bani Bayaḍah, sub-suku Anshar yang dihormati. Dengan tatapan teduh, ia bersabda, "Nikahkanlah Abu Hind, dan nikahkanlah [perempuan kalian] dengannya."
Abu Hind adalah ahli bekam dan seorang maula, mantan budak yang dianggap tidak sepadan untuk menikahi wanita merdeka dari suku terpandang.
Para pemuka Bani Bayaḍah terkejut. Mereka bertanya dengan ragu, "Ya Rasulullah, apakah pantas kami menikahkan putri-putri kami dengan maula kami (bekas budak kami)?" (Tafsir al-Wasit Lil Quranil Karim, Muhammad Sayid Tantawi, Jilid 13, Hal.318).
Tak lama, Malaikat Jibril turun membawa firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan beberapa hadis yang melarang saling berbangga dengan nasab dan mendorong ketakwaan. Di antaranya disebutkan, Nabi bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak akan menanyai kalian tentang keturunan kalian dan tidak pula tentang nasab kalian pada hari kiamat. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian." (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 7, Hal. 387)
Sejak itu, kemuliaan tidak lagi ditentukan oleh warna kulit, kekayaan, atau garis keturunan, melainkan oleh takwa. Sang ahli bekam yang sebelumnya dipandang rendah kini diangkat derajatnya oleh wahyu Ilahi.
Sang Ahli Bekam
Lahir dari kalangan bawah, masa kecilnya tak banyak tercatat. Sejarah lebih sering menyoroti tokoh besar, sehingga riwayat rakyat jelata kerap terselip di catatan para perawi. Bahkan nama aslinya pun diperdebatkan.
Abu Hind hanyalah kunyah, panggilan kehormatan. Ada yang menyebutnya Abdullah, ada yang menulis Salim bin Salim. Ibnu Mandah dan Abu Nuaim, dinukil kitab Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah, mencatat Yasar Abu Hin al-Hajjam, sementara sumber lain menyebut Sinan. (Ibnu Atsir, Jilid 5, Hal.482). Perbedaan yang menegaskan realitas sosial budak yang sering berganti nama sesuai kehendak tuannya.
Hidupnya penuh dengan pengabdian, kerja keras, dan keterampilan bertahan hidup. Kesetiaan membentuknya sosok tangguh, tabah, dan pantang menyerah. Identitasnya sebagai seorang hamba sahaya dibebaskan oleh Farwah bin ‘Amr dari Bani Bayaḍah, dari golongan Anshar. (Al-Isti‘aab Fi Ma’rifatil Ashab edisi Al-Bajawi, Jilid 4, Hal.1772).
Pembebasannya dari perbudakan adalah buah persaudaraan Islam yang menentang penindasan. Nabi menganjurkan pembebasan budak sebagai ibadah penebus dosa.
Saat cahaya Islam menuntunnya, loyalitasnya semakin tinggi. Memang ia tak hadir di Perang Badar, karena statusnya masih budak. Namun ia lalu hadir dalam barisan depan umat. Abu Hind turun di Perang Uhud, ikut dalam seluruh ekspedisi setelahnya. Di medan penuh debu dan denting pedang, ia merawat yang terluka.
Meski merdeka, ikatan emosional dengan Bani Bayaḍah tetap erat. Penolakan lamaran yang sempat melukai hatinya justru berubah menjadi penguat ikatan setelah wahyu Ilahi menjernihkan hati semua pihak.
Kebebasan itu memberinya kesempatan membangun keluarga dan menekuni keahlian yang membuatnya dekat dengan Rasulullah. Abu Hind mengabdikan diri sebagai ahli bekam, penyembuh yang dipercaya penuh oleh Nabi. Derajatnya diangkat.
Keseharian Abu Hind berubah total. Hidupnya kini dipenuhi aroma minyak herbal, kilau pisau kecil yang diasah teliti, dan tanduk-tanduk hewan yang dijadikan alat bekam. Ia dikenal sebagai hajjām, profesi yang semula dianggap rendah masyarakat Arab. Di tangannya, pengobatan ini naik kelas, terutama karena pasien utamanya adalah Nabi Muhammad sendiri.
Nabi bersabda, "Kesembuhan terdapat pada tiga hal: seteguk madu, sayatan alat bekam, dan sengatan api (kauterisasi). Namun aku melarang umatku dari kauterisasi." (Fathul Bari, Ibnu Hajar, Bab 10, Hal. 137)
Di kesempatan lain Nabi menegaskan, "Sebaik-baik pengobatan adalah bekam."
Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi juga pernah bersabda, "Barang siapa yang senang melihat seorang lelaki yang Allah telah menanamkan iman di dalam hatinya, maka lihatlah kepada Abu Hind." (Majmu' al-Zawa'id wa Manba' al-Fawa'id, Imam Nuruddin al-Haitsami, Jilid 9, Hal. 377).
Pujian itu menjadikan profesi Abu Hind mulia di mata umat, banyak sahabat meniru jejak Nabi untuk berbekam kepadanya.
Dedikasinya tampak dari ketelitian menjaga kebersihan alat. Bekam basah atau hijama dilakukan dengan tanduk berongga (qarn) untuk menciptakan ruang hampa di kulit, lalu sayatan tipis dengan pisau kecil (shafrah) mengeluarkan darah statis yang diyakini membawa penyakit. Keahliannya diakui karena akurasinya saat pengobatan, tidak terlalu dalam, tidak terlalu dangkal.
Satu waktu, ia dipercaya membekam ubun-ubun Nabi, titik yafukh yang dalam tradisi Tibbun Nabawi disebut Umm Mugheeth, pusat penyelamat bagi sakit kepala kronis. Bekam tersebut dilakukan karena sakit kepala yang dialami Nabi setelah memakan daging di Khaibar dan setiap kali migrain menyerang, Nabi memanggil Abu Hind. (Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah, Ibnu Atsir, Jilid 5, Hal.482). Dengan tangan cekatan dan doa yang khusyuk, ia bekerja penuh kehati-hatian.
Selain di kepala, Abu Hind juga rutin membekam Nabi di urat leher, pangkal leher, hingga titik di antara bahu. Bahkan pernah di pinggul, setelah Nabi terjatuh dari kuda. Bekam mempercepat pemulihan dari memar dan kelelahan.
Seiring waktu, muncul kisah hiperbolis bahwa Abu Hind meminum darah Nabi setelah bekam. Riwayat ini populer di kalangan pencerita, namun para ahli hadis menilai sanadnya lemah, bahkan terputus. (Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Ibnu Hajar, Jilid 3, Hal.11).
Riwayat Keilmuan, Kedudukan Politik, dan Ujung Usia yang Damai
Kehidupan Abu Hind setelah wafatnya Nabi Muhammad tidak meredup, justru semakin matang sebagai ahli bekam terhormat yang pernah menyentuh ubun-ubun Nabi. Lebih dari itu, ia dipercaya memegang peran penting dalam masa transisi politik Khulafaur Rasyidin.
Al-Waqidi menyebutkan dalam kitab al-Riddah, pada masa Abu Bakar, ketika gelombang kemurtadan (Riddah) mengguncang Semenanjung Arabia, Abu Hind ditunjuk sebagai utusan diplomatik ke Yaman. Ia membawa surat rahasia kepada Ziyad bin Labid, Gubernur Kinda dan Hadramaut. (Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Ibnu Hajar, Jilid 7, Hal.364). Penunjukannya menegaskan bahwa kesetaraan yang dideklarasikan Nabi benar-benar dijalankan dalam sistem kenegaraan.
Selain kiprah politik, Abu Hind meninggalkan warisan intelektual. Ia meriwayatkan hadis-hadis penting, meski tidak sebanyak sahabat lain. Riwayatnya tentang syariat bekam dan kesetaraan manusia menjadi sumber primer yang menjadi banyak rujukan.
Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, dan Abu Hurairah termasuk yang mendengar langsung darinya. (Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Ibnu Hajar, Jilid 7, Hal.363).
Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, "Hari-hari terbaik bagi kalian untuk melakukan bekam adalah tanggal 17, 19, dan 21. Setiap kali aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku diisra’kan, mereka selalu berkata: 'Wajibkanlah bekam, wahai Muhammad'." (Musnad Imam Ahmad, Jilid 5, Hadis 3316, Hal. 340).
Periwayatan Abu Hind kemudian diteruskan ke generasi Tabi’in melalui perawi seperti Abu Al-Jahaf. (Al-Isti‘aab Fi Ma’rifatil Ashab edisi Al-Bajawi, Jilid 4, Hal.1772). Ia kemudian aktif di berbagai majelis ilmu, menjadi guru sejarah hidup bagi generasi muda.
Kedudukannya di masyarakat diteguhkan sabda Nabi: "Sesungguhnya Abu Hind adalah seorang lelaki dari kaum Anshar."
Sabda Rasulullah itu menjadi penghapus stigma masa lalunya. Ia diterima sejajar dengan pahlawan penolong agama, menikah dengan putri keluarga terpandang, dan hidup terhormat hingga akhir usia.
Meski literatur klasik tidak mencatat tahun wafatnya secara pasti, jejak panjangnya dari masa Jahiliah hingga era Abu Bakar menunjukkan usia yang cukup panjang. Abu Hind meninggalkan pesan berharga bahwa kemuliaan tidak diwariskan lewat darah biru atau kekayaan, melainkan dibangun dengan takwa, pengabdian, dan kesabaran.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































