tirto.id - Di bawah terik matahari yang membakar pasir, seorang perempuan tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berjalan tertatih, menapaki rute hijrah dari Makkah menuju Madinah seorang diri. Tanpa karavan dan kepastian setetes air pun.
Dialah Barkah binti Tsa’labah, yang dikenal sebagai Ummu Aiman. Ketika ia berhijrah menyusul Nabi Muhammad seorang diri, ia sampai padang gersang pada waktu petang. Ia sangat haus dan tidak memiliki air, sementara dirinya sedang berpuasa. Rasa haus sangat menyiksanya.
Dalam kondisi antara hidup dan mati, ia menengadah ke langit. Ketika matahari terbenam, ia melihat sebuah timba air turun dari langit, tergantung oleh tali yang ujungnya tak terlihat. Dengan gemetar ia memegang timba itu, meminum air sejuk yang menghapus dahaganya, lalu menuangkannya ke tubuhnya yang terbakar.
Seperti dinukil Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabat al-Qubra(Jilid 8, Hal. 179) Ummu Aiman berkata, "Sejak itu aku tidak pernah lagi merasa haus. Bahkan aku pernah sengaja menahan diri dari minum pada hari yang sangat panas untuk menguji, namun aku tetap tidak merasa haus setelah minuman itu."
Ummu Aiman kemudian dikenal sebagai pengasuh sekaligus ibunda kedua Nabi Muhammad, yang sepanjang hayatnya didedikasikan penuh kepada keluarga Nabi.
Dekapan di Masa Nabi Yatim
Nama aslinya Barkah binti Tsa’labah bin Amr bin Hishn bin Malik, seorang perempuan kulit hitam keturunan Habasyah, wilayah yang kini dikenal sebagai Ethiopia. Ia ke Makkah sebagai hamba sahaya di usia muda dalam sistem perbudakan Arab pra-Islam.
Barkah dibeli oleh Abdullah bin Abdul Muthalib, pemuda Bani Hasyim yang dikenal dermawan. Ketika Abdullah menikahi Siti Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah, Barkah dipercaya mengurus urusan rumah tangga.
Satu waktu, Abdullah harus berangkat ke Syam untuk berdagang, Barkah menjadi teman setia istrinya. Ia tidur di kaki ranjang Siti Aminah, memijat, menghibur, dan mendengarkan segala keluh kesahnya.
Barkah juga menjadi saksi pertama saat Siti Aminah menceritakan mimpinya soal cahaya keluar dari perutnya, menyinari istana dan lembah di Syam. Namun kabar duka segera datang. Abdullah meninggal di Yatsrib setelah jatuh sakit dalam perjalanan pulang.
Ketika bayi suci itu lahir, tangan pertama yang menyambutnya adalah tangan Barkah. Bayi yatim itu diberi nama Muhammad, yang sempat disusui oleh Ummu Halimah As-Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d. Setelah kembali ke pangkuan ibunya, Barkah kembali menjadi pengasuhnya.
Saat Nabi berusia enam tahun, Barkah menemani Siti Aminah yang membawanya ke Yatsrib untuk menziarahi makam Abdullah, sekaligus memperkenalkan Nabi ke keluarganya di Najjar. Sepanjang perjalanan, Barkah memeluk erat Nabi di atas unta. Mereka tinggal selama satu bulan.
Dalam perjalanan kembali ke Makkah, Siti Aminah jatuh sakit dan wafat. Setibanya di Makkah, Abdul Muthalib, kakek sekaligus pemuka Quraisy, mengambil alih pengasuhan. Ia menyayangi Nabi melebihi anak-anaknya sendiri, dan mempercayakan pengasuhan sehari-hari kepada Barkah.
"Wahai Barakah, jangan engkau abaikan anakku ini. Aku pernah menemukannya bersama anak-anak muda di dekat pohon Sidrah, dan orang-orang Ahli Kitab mengatakan ia kelak akan menjadi nabi," pesan Abdul Muthalib yang wafat ketika Rasulullah berusia delapan tahun. (Kitab Al-Mausu'ah fi Sahih al-Sirah al-Nabawiyyah-al-'Ahd al-Makkikarya Abu Ibrahim, hal.108-109).
Pengasuhan Nabi kemudian beralih ke Abu Thalib, pamannya. Titik balik hidup Barkah terjadi saat Nabi Muhammad berusia dua puluh lima tahun dan menikah dengan Siti Khadijah binti Khuwailid, saudagar mulia. Seketika Nabi memerdekakan Barkah dari status hamba sahaya.
Rasulullah lalu memperkenalkan Barkah kepada Siti Khadijah, "Dia adalah ibuku setelah ibuku."
Lain itu, Nabi juga sering menyebut Barkah dengan bangga, "Inilah yang tersisa dari keluargaku." (Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Ibnu Hajar, jilid 8, 359).
Nabi dan Siti Khadijah kemudian mendorong Barkah untuk membangun rumah tangganya sendiri. Awalnya ia enggan karena terikat janji kepada Siti Aminah untuk tidak meninggalkan Nabi Muhammad.
Namun dengan dorongan lembut Siti Khadijah, Barkah akhirnya menikahi Ubaid bin Zaid dari kabilah Khazraj. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki bernama Aiman. Sejak itulah ia dikenal dengan julukan Ummu Aiman. Sayangnya, Ubaid meninggal saat Aiman masih kecil yang langsung dibawanya tinggal dekat rumah Nabi.
Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Ummu Aiman tanpa ragu menyatakan keimanannya dan termasuk dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia juga berani menyusup melewati blokade Quraisy demi menyampaikan pesan rahasia kepada Nabi di Darul Arqam.
Nabi berkata, "Engkau diberkahi, wahai Ummu Aiman. Engkau memiliki tempat yang pasti di surga."
Memasuki usia paruh baya, Nabi Muhammad bersabda di hadapan sahabat, "Barang siapa ingin menikahi perempuan dari penduduk surga, nikahilah Ummu Aiman." (Ath-Thabat al-Qubra, Ibnu Sa’ad, Jilid 8, Hal. 179).
Zaid bin Haritsah, anak angkat kesayangan Nabi, maju tanpa ragu. Dari pernikahan itu, lahir Usamah bin Zaid, bocah tangguh berkulit gelap yang kelak dikenal sebagai Hibu Rasulillah, kesayangan Rasulullah.
Pelindung Keluarga Nabawi
Sebagai sosok yang dianggap ibu oleh Rasulullah, Ummu Aiman memiliki kedudukan istimewa dalam rumah tangga Nabi. Perannya kian penting ketika Siti Fatimah, putri bungsu Nabi, memasuki usia pernikahan.
Waktu Ali bin Abi Thalib akhirnya melamar, Siti Fatimah menjawab dengan diam yang dimaknai sebagai persetujuan. Setelah acara pernikahan berlangsung, Ummu Aiman berjaga dan memastikan Siti Fatimah tidak merasa sendirian.
Ketika Nabi datang memberi doa restu, ia disambut Ummu Aiman di pintu.
"Apakah saudaraku ada di dalam?"
Nabi menyebut Ali sebagai saudaranya, lalu Ummu Aiman menimpali, "Wahai Utusan Allah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu! Siapakah saudaramu itu?"
Nabi menjawab sambil tersenyum, "Ali bin Abi Thalib"
"Bagaimana mungkin dia bisa menjadi saudaramu, padahal engkau baru saja menikahkan putri kandungmu dengannya?" kata Ummu Aiman. (Ath-Thabat al-Qubra, Ibnu Sa’ad, Jilid 8, Hal.20)
"Memang begitulah adanya, wahai Ummu Aiman. Ia adalah saudaraku (secara spiritual dan ikatan keimanan)," jawab Nabi.
Kedekatan berlanjut hingga masa sulit setelah wafatnya Nabi hingga akhir hayat Siti Fatimah. Ia bahkan membantu memandikan jenazah putri Nabi tersebut.
Terputusnya Tali Langit dan Derai Air Mata
Selain pengasuh, Ummu Aiman yang mulai berusia senja, juga dikenal sebagai sosok yang berani berdiri di garis depan jihad.
Dalam Perang Uhud, ketika kabar bohong Rasulullah terbunuh, pasukan muslim panik dan mundur. Ummu Aiman lalu melempar debu ke wajah para prajurit yang lari dan menyodorkan alat pemintal benang sambil berteriak satir, "Ambillah ini, dan berikan pedangmu kepadaku!" (Nisa Haula Rasul, Muhammad Burhan, hal.72)
Ia kemudian masuk ke medan laga, memanggul wadah air, memberi minum pejuang, merawat luka, bahkan tubuhnya sempat ditembus panah. Dalam riwayat lain, ia pernah menjadikan tubuhnya perisai hidup untuk melindungi Nabi dari bidikan musuh.
Semangatnya berlanjut di Perang Khaybar. Bersama dua puluh perempuan lain, ia menempuh perjalanan panjang mendukung logistik dan medis pasukan. Ketika putranya, Aiman, enggan ikut perang dengan alasan kudanya sakit, Ummu Aiman menegurnya keras.
Sementara di Perang Mu’tah, suaminya Zaid bin Haritsah gugur sebagai panglima pertama pasukan Islam. Ummu Aiman menerima kabar itu dengan sabar. Tak lama kemudian, di Perang Hunayn, putranya Aiman bin Ubaid juga gugur syahid melindungi Nabi.
Ia mengikhlaskan darah mereka demi Allah dan Rasul-Nya. Sebagai pelipur, ia masih sempat menyaksikan putra bungsunya, Usamah bin Zaid, ditunjuk Nabi sebagai panglima tertinggi pasukan Islam, memimpin tokoh besar seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Tahun kesebelas Hijriah, sosok yang ia rawat sejak bayi, yang ia dekap di masa takut, dan yang ia saksikan tumbuh menjadi pemimpin umat, Nabi Muhammad, wafat. Kesedihannya dianggap sebagai duka seorang umat, sekaligus duka seorang ibu.
Kedudukannya tetap dihormati setelah wafatnya Nabi. Ibnu Hajar dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah(Jilid 8, hlm. 357-361) mengisahkan bagaimana Abu Bakar Shiddiq mengajak Umar bin Khattab mengunjunginya, "Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana Rasulullah dahulu biasa mengunjunginya."
Ketika mereka tiba di rumahnya, kenangan tentang Nabi membuat Ummu Aiman menangis tersedu-sedu.
"Mengapa menangis? Apa yang ada di sisi Allah tentu lebih baik bagi Rasulullah," Abu Bakar dan Umar mencoba menenangkannya.
Ummu Aiman menjawab, "Aku menangis bukan karena tidak tahu. Aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik. Tetapi aku menangis karena wahyu dari langit kini telah terputus selamanya."
Mendengar jawaban itu, Abu Bakar dan Umar ikut menangis bersama Ummu Aiman. Imam Qurthubi, sebagaimana dinukil Ibnu ‘Allan al-Makki dalam Dalilul Falihin Lithuruqi Riyadlis Shalihin(Jilid 3, hal.223-224) menyebut terputusnya wahyu menjadi sebab munculnya perbedaan pendapat di antara manusia, timbulnya perselisihan dan berbagai fitnah, serta menyebabkan sebagian orang memperoleh kebenaran sementara sebagian yang lain jatuh ke dalam kesalahan.
Ummu Aiman adalah saksi hidup yang melintasi tiga zaman: gelapnya Jahiliah, gemilangnya kenabian, hingga fondasi awal Khulafaur Rasyidin. Posisinya dalam sanad tetap valid dan dihormati. Ingatannya dipercaya, dan riwayat-riwayat darinya tercatat dalam literatur klasik. Imam Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsur mencatat sekitar empat riwayat, sementara hadis-hadis lain muncul dalam kitab induk seperti Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abi Dawud, hingga Sunan Ibnu Majah.
Hadis-hadis Ummu Aiman banyak berkaitan dengan privasi rumah tangga Nabi, kesaksiannya dalam perkara Fadak, dan percakapannya tentang terhentinya wahyu. Banyak yang meriwayatkan darinya, seperti putranya, Aiman bin Ubaid, Zainab al-Kubra, hingga sahabat terkemuka Anas bin Malik, yang kemudian menyebarkannya kepada generasi tabi’in.
Menurut Ibnu Katsir, Ummu Aiman wafat lima atau enam bulan setelah Nabi wafat. Namun pendapat lainnya seperti Ibnu Umar menyebut, ia hidup cukup lama setelah wafatnya Rasulullah, melewati masa Abu Bakar dan penaklukan besar di era Umar, kemudian wafat di era awal Khalifah Utsman bin Affan. (Ath-Thabat al-Qubra, Ibnu Sa’ad, Jilid 8, Hal. 181).
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































