tirto.id - Suara sirine tiba-tiba terdengar nyaring di SMA Negeri 1 Kalasan, Jumat (22/5/2026). Suara teriakan 'gempa', 'gempa', 'gempa' terdengar bersahutan memecah keheningan siang di SMA Negeri 1 Kalasan.
Teriakan gempa ini disambut dengan gemuruh suara kaki para siswa dan guru yang mencari tempat berlindung di kolong-kolong meja sekolah. Usai guncangan mereda, guru menginstruksikan para siswa untuk keluar kelas dan menuju ke lapangan terbuka yang ada di tengah sekolah.
Memakai tas, maupun benda di sekitarnya para siswa yang memakai baju Pramuka ini melindungi bagian kepala sembari bergegas menuju ke lapangan.
Setelah ratusan siswa berkumpul, guru-guru pun mengecek jumlah siswa perkelas dan memastikan tak ada yang tertinggal. Guru lain, memastikan kondisi siswa dan jika ada yang terluka, pertolongan pertama pun diberikan.
Situasi ini menjadi gambaran simulasi Pelatihan Tanggap Bencana Gempa Bumi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kalasan. Tahun 2006, saat gempa Yogyakarta terjadi, SMA Negeri 1 Kalasan merupakan salah satu sekolah yang terdampak. Sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat gempa ini.
Siswa kelas XI bernama Eza mengaku simulasi ini mengajarkannya tentang kunci utama menghadapi gempa, yakni tidak panik. Setelah tidak panik, langkah selanjutnya adalah mengikuti instruksi.

"Pertama, pokoknya jangan panik. Kemudian kayak simulasi ini, kalau ada gempa sesuai instruksi, kalau di dalam kelas ya sembunyi di bawah meja. Kalau kondisi sudah gak ada gempa dan kondisi aman segera keluar kelas dengan tidak berdesak-desakan dan menuju tempat terbuka," ucap Eza.
Eza menerangkan saat gempa 2006 terjadi dirinya belum lahir. Eza mengetahui peristiwa pilu itu dari cerita orang tuanya.
Eza menceritakan, orang tuanya hingga kini masih merasakan trauma gempa. Bahkan ketika saat gempa yang terjadi beberapa waktu lalu di Yogyakarta, orang tua Eza masih menunjukkan reaksi panik seakan teringat kedahsyatan gempa bumi di tahun 2006 silam.
Meski tinggal di kawasan sesar Opak yang menjadi penyebab gempa bumi berkekuatan 5,9 SR di tahun 2006, Eza menyebut kesiapsiagaan jadi pembeda.
"Sekarang sudah tahu bagaimana cara menghadapi situasi saat gempa. Asal tidak panik dan sudah tahu harus ngapain, pasti bisa berpikir dan bertindak dengan benar. Tahu apa yang harus dilakukan dan tahu apa yang harus diselamatkan," ungkap perempuan berusia 17 tahun ini.
Sementara itu Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menyebut peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta ini menjadi momentum untuk membangun kembali ingatan kolektif.
Dengan ingatan kolektif ini, kesadaran akan tangguh bencana dan kesiapsiagaan bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Tangguh bencana dan kesiapsiagaan ini diharapkan bisa meminimalisir jatuhnya korban saat terjadi bencana alam.
Andre menyebut di Indonesia ada 250 ribu sekolah yang berada di daerah rawan bencana. Bencana ini tak cuma gempa bumi namun juga gunung meletus, tanah longsor, banjir maupun bencana lainnya.
“20 tahun gempa Yogyakarta ini bukan hanya peringatan. Tetapi upaya kita untuk terus-menerus secara berkesinambungan membangun budaya tangguh bencana di masyarakat secara keseluruhan,” ungkap Andre.
Pelatihan Tanggap Bencana Gempa Bumi ini merupakan bagian dari rangkaian program InJourney Community Care, yakni program pelatihan tanggap bencana untuk 1000 pelajar dari 10 sekolah di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta yang berada di kawasan Sesar Opak.
Ada 10 sekolah yang terlibat dalam simulasi ini. Antara lain SMAN 1 Pundong, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Sewon, SMAN 1 Pleret, SMAN 1 Piyungan, SMAN 1 Patuk, SMAN 5 Yogyakarta, SMAN 1 Prambanan, SMKN 1 Kalasan, dan SMAN 1 Kalasan.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi intensif antara IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY lewat Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) di masing-masing unit sekolah.
“Pelatihan ini dirasa perlu karena kita memerlukan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, sigap, dan peduli keselamatan bersama,” jelas Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati.
Indung menuturkan generasi muda merupakan aset penting sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, dari 20 tahun peristiwa gempa Yogyakarta, generasi muda yakni siswa SMA ini harus mendapat warisan penting berupa keselamatan dan literasi kebencanaan.
“Mereka bisa menyebarluaskan bagaimana seharusnya jika terjadi bencana. Mereka juga bisa memberikan edukasi kepada orang-orang sekitarnya, sehingga bisa cepat tanggap, serta tujuannya untuk selamat,” tutup Indung.
Penulis: Cahyo PE
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































