Menuju konten utama

Listrik Tak Stabil di Banda Aceh: UMKM Merugi Dagangan Busuk

Pelaku UMKM di Banda Aceh yang bergantung pada peralatan elektronik untuk menjalankan usahanya terdampak ketidakstabilan listrik.

Listrik Tak Stabil di Banda Aceh: UMKM Merugi Dagangan Busuk
Kedai jus tidak bisa beroperasi akibat gangguan listrik di Banda Aceh, Sabtu (23/5/2026). tirto.id/Firhan Farabi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kondisi listrik yang tidak stabil di Banda Aceh dalam dua hari terakhir mulai dikeluhkan masyarakat, terutama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada peralatan elektronik untuk menjalankan usahanya.

Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dinilai menghambat aktivitas usaha hingga menyebabkan kerugian akibat bahan dagangan yang cepat rusak.

Warkop di Banda Aceh

Warga memadati warung kopi untuk mengisi daya peralatan elektronik dan berkerja di Banda Aceh, Sabtu (23/5/2026). tirto.id/Firhan Farabi

Sejumlah wilayah di Aceh khususnya Banda Aceh mengalami pemadaman listrik sejak Jumat (22/5/2026) sore. Aliran listrik sempat kembali menyala pada Sabtu dini hari, namun kembali padam pada siang harinya. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari pelaku usaha, pekerja kantoran, hingga pengguna layanan internet.

Saifuddin, seorang pedagang jus di Banda Aceh, mengaku kesulitan menjalankan usahanya karena sangat bergantung pada listrik untuk mengoperasikan blender dan lemari pendingin.

“Agak susah kalau Listrik mati, engga bisa buat jus,” katanya di Banda Aceh, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Saifuddin, pemadaman listrik tidak hanya menghambat proses pembuatan jus, tetapi juga berdampak pada penyimpanan bahan baku dagangannya. Buah-buahan yang seharusnya disimpan dalam lemari pendingin menjadi cepat rusak ketika listrik padam terlalu lama.

“Kalau engga disimpan di kulkas buahnya cepat busuk, rugi kita,” tambahnya.

Selain berjualan jus, Saifuddin juga menjual BBM eceran menggunakan pom mini yang seluruh operasionalnya bergantung pada listrik. Saat listrik padam, pom mini miliknya tidak dapat digunakan sehingga ia kehilangan pelanggan yang hendak membeli bahan bakar.

“Ada beberapa orang mau isi minyak, tapi engga bisa karena engga ada Listrik,” ujar Saifuddin.

Keluhan serupa juga disampaikan Syarifah, warga Banda Aceh yang berjualan olahan buah. Ia mengaku kesulitan menjaga kualitas bahan baku usahanya karena lemari pendingin tidak dapat digunakan selama pemadaman berlangsung.

“Kulkas engga bisa dipake karena mati lampu, buah jadi cepat busuk,” kata Syarifah.

Tidak hanya berdampak pada sektor usaha kecil, gangguan listrik juga mulai memengaruhi jaringan internet dan aktivitas kerja masyarakat. Sejak Sabtu pagi, sejumlah warung kopi di Banda Aceh yang menggunakan genset tampak dipadati warga.

Masyarakat datang untuk mengisi daya perangkat elektronik seperti telepon genggam, senter, dan power bank. Sebagian lainnya memanfaatkan warung kopi sebagai tempat bekerja karena memiliki pasokan listrik cadangan dan akses internet yang lebih stabil.

Kondisi itu turut dirasakan Mufti, warga Banda Aceh yang memilih bekerja dari warung kopi agar tetap dapat menyelesaikan pekerjaannya.

“Harus ke warkop yang ada genset dan internet kencang, kalau engga gak bisa kerja,” kata Mufti.

Gangguan sistem kelistrikan yang terjadi di wilayah Aceh dalam dua hari terakhir kini menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi dan pekerjaan sehari-hari warga.

Baca juga artikel terkait DAMPAK LISTRIK MATI atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - Flash News
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Siti Fatimah