Menuju konten utama

Wamenkeu Klaim Jaga Harga BBM: Inflasi Naik Saat Nihil Subsidi

Juda Agung pastikan pemerintah jaga harga BBM tetap stabil meski harga minyak dunia berpotensi naik. Langkah ini demi tekan inflasi & jaga daya beli.

Wamenkeu Klaim Jaga Harga BBM: Inflasi Naik Saat Nihil Subsidi
Petugas mengisi BBM kendaraan roda empat di SPBU Sultan Agung, Semarang, Jawa Tengah, Senin (19/12/2022). ANTARA FOTO/Aji Styawan/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengeklaim Pemerintah Pusat bakal berupaya menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah harga minyak dunia melambung imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.

Ia mengakui pengelolaan fiskal pada 2026 dihadapkan pada tantangan, lantaran harga minyak dunia yang melambung. Namun, pemerintah disebut akan terus menyalurkan subsidi untuk BBM.

"Nah, ini bagaimana mengelola fiskal di 2026 ini yang tadi saya katakan cukup challenging karena harga BBM, harga minyak dunia. Maksud saya, yang tentu saja ini akan mendorong belanja subsidi BBM," ucapnya di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).

Menurut Juda, karena masih ada subsidi dari pemerintah untuk BBM, inflasi secara tahunan (year on year/YoY) tetap terjaga sebesar 2,42 persen pada April 2026. Jika tidak ada subsidi untuk BBM, inflasi diyakini akan meningkat.

Juda menyatakan, di saat yang bersamaan, daya beli masyarakat bakal menurun dan pertumbuhan ekonomi juga bakal keok ketika nihil subsidi yang disalurkan pemerintah.

"Subsidi BBM memang kita jaga, ya. Harga BBM-nya tidak mengalami kenaikan, supaya inflasi terjaga dan daya beli masyarakat terjaga," tuturnya.

"Jadi, harga BBM yang kita jaga ini juga by design untuk menjaga daya beli masyarakat. Coba kalau kita lepas, pasti inflasi meningkat, daya beli turun, dan pertumbuhan ekonomi turun," lanjut dia.

Juda menambahkan, penyaluran subsidi untuk BBM memang memakan anggaran yang banyak. Terlebih, ada potensi harga minyak dunia yang akan naik hingga 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Pemerintah disebut bakal melakukan pemusatan kembali (refocusing) anggaran serta mengevaluasi penerimaan negara, jika harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel.

"Dengan worst scenario 100 [dolar AS per barel] dan dengan upaya refocusing, upaya pengendalian belanja, upaya mendorong pendapatan, maka defisit fiskal kita bisa kita jaga di 2,9 persen di tahun ini dan mudah-mudahan ini sebagai basis yang kuat bagi perencanaan kita di 2027 ke depan," urainya.

Baca juga artikel terkait DANA SUBSIDI BBM atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah