Menuju konten utama

Vladimir Putin Buka Opsi Perang Rusia-Ukraina, Akankah Berakhir?

Perang Rusia-Ukraina berhenti sejenak setelah adanya gencatan senjata tiga hari. Keduanya mungkin akan melanjutkan perundingan untuk mengakhiri perang.

Vladimir Putin Buka Opsi Perang Rusia-Ukraina, Akankah Berakhir?
Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Pers Kepresidenan Ukraina ini, asap mengepul setelah roket Rusia menghantam gedung bertingkat yang menyebabkan banyak orang tertimbun puing-puing di Dnipro, Ukraina, Sabtu, 14 Januari 2023. (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Perang Rusia-Ukraina yang ia pimpin kemungkinan akan segera berakhir. Ia turut menyampaikan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga, jika kesepakatan damai berhasil diselesaikan.

Putin menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu (9/5/2026), beberapa jam setelah menjanjikan kemenangan di Ukraina dalam parade Hari Kemenangan Rusia.

Pernyataan ini juga muncul ketika Rusia dan Ukraina memulai gencatan senjata selama tiga hari. Kedua pihak turut menyepakati pertukaran 1.000 tahanan.

Dalam parade tersebut, Putin memuji pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina. Ia menggambarkan misi mereka sebagai tujuan yang adil melawan kekuatan agresif yang dipersenjatai dan didukung oleh seluruh blok NATO.

“Kemenangan selalu menjadi milik kita dan akan tetap menjadi milik kita,” ujarnya, saat barisan pasukan berjajar di Lapangan Merah Moskow, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (10/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Putin turut menyalahkan elite globalis Barat atas perang tersebut. Ia mengatakan, Barat pernah berjanji, NATO tidak akan memperluas wilayah ke arah timur setelah runtuhnya Tembok Berlin pada 1989. Namuan, NATO kemudian berusaha menarik Ukraina ke dalam orbit Uni Eropa.

“Saya pikir persoalan ini akan segera berakhir," tuturnya.

Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Diikuti Perundingan Lanjutan

Rusia telah mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk hari libur tersebut pada Jumat (8/5/2026) dan Sabtu. Sementara, Zelenskyy mengumumkan gencatan senjata yang seharusnya dimulai pada 6 Mei 2026.

Namun, gencatan senjata tidak berjalan efektif dan masing-masing pihak saling menyalahkan atas serangan yang terus berlanjut. Kekhawatiran akan peperangan mereda ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina menerima permintaannya untuk melakukan gencatan senjata dari Sabtu hingga Senin serta melakukan pertukaran tahanan.

“Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian seluruh aktivitas kinetik, serta pertukaran 1.000 tahanan dari masing-masing negara,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

“Pembicaraan masih terus berlangsung. Kita semakin dekat setiap hari. Mudah-mudahan ini menjadi awal dari akhir perang yang sangat panjang, mematikan, dan penuh pertempuran sengit,” kata Trump.

Zelenskyy menindaklanjuti pernyataan Trump dengan sebuah dekret bernada sindiran, yang mengizinkan Rusia menggelar perayaan Hari Kemenangan dan menyatakan Lapangan Merah untuk sementara bebas dari serangan Ukraina. Kremlin menanggapi komentar tersebut sebagai “lelucon bodoh”.

Zelenskyy sebelumnya telah mengusulkan pertemuan dengan Putin untuk merundingkan kesepakatan damai. Namun, ia menolak usulan dari Putin itu agar dirinya datang ke Moskow.

Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pekan lalu mengatakan, terdapat potensi pembicaraan antara Eropa dan Rusia mengenai arsitektur keamanan masa depan di benua tersebut.

Di sisi lain, Putin menyebut nama tokoh yang ia rekomendasikan dalam upaya perundingan dengan Ukraina. Putin mengatakan sosok yang lebih ia sukai adalah mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder.

“Bagi saya pribadi, mantan kanselir Republik Federal Jerman, Tuan Schroder, lebih saya pilih,” kata Putin.

Perang Rusia-Ukraina Berjalan Lebih dari Empat Tahun

Putin menghadapi gelombang kecemasan di Moskow terkait perang di Ukraina. Pasalnya, perang Rusia-Ukraina telah menewaskan ratusan ribu orang, menghancurkan sebagian wilayah Ukraina, serta menguras ekonomi Rusia hingga 3 triliun dolar AS.

Pasukan Rusia telah bertempur di Ukraina selama lebih dari empat tahun. Durasi itu lebih lama dibanding keterlibatan pasukan Soviet dalam Perang Dunia II, yang di Rusia dikenal sebagai Perang Patriotik Raya 1941–1945.

Namun, pasukan Rusia sejauh ini belum mampu menguasai seluruh wilayah Donbas di Ukraina timur, tempat pasukan Kyiv terdorong mundur ke garis kota-kota benteng. Kemajuan Rusia juga melambat tahun ini, meskipun Moskow menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina.

Baca juga artikel terkait PERANG RUSIA UKRAINA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Ilham Choirul Anwar