Video Rusuh Wamena: Sedikitnya 11 Orang Papua Diduga Tewas Ditembak

Oleh: Redaksi - 24 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mengapa gelombang protes anti-rasisme para pelajar bisa meledak menjadi amuk yang menghancurkan separuh Kota Wamena?
tirto.id - Tak ada seorang pun yang menduga kerusuhan mematikan bakal pecah di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Kota di lembah Baliem, pusat penghubung ekonomi warga pegunungan tengah Papua, itu terbakar pada 23 September 2019.

Data pemerintah menyebut, per 28 September, pembakaran itu menghanguskan sedikitnya 10 unit kantor, 351 ruko, 150 motor, 100 mobil, 27 rumah, dan sebuah pasar.

Di antara titik lokasi yang terbakar parah itu Kantor bupati Jayawijaya, STISIP Amal Ilmiah Yapis Wamena di kawasan Hom-Hom, ruko-ruko di Jalan Phike, dan Pasar Wouma.

Bagaimana hal ini terjadi?

Para saksi mata di Wamena yang ditemui Tirto berkata mulanya adalah dugaan ucapan rasis oleh seorang guru SMA PGRI Wamena terhadap seorang murid di ruang kelas XI IPS 2. Ibu guru itu pengajar pengganti untuk mata pelajaran ekonomi yang ditunjuk Dinas Pendidikan Provinsi Papua.

Tuduhan ujaran rasis itu menyebar dari mulut ke mulut. Isu rasis sangat sensitif di Papua sejak kejadian ucapan rasisme ke mahasiswa Papua di asrama Surabaya, Jawa Timur, pertengahan Agustus 2019.

Protes atas rasisme menjalar di seluruh Papua setelahnya. Pemerintah Indonesia bahkan mengerahkan ribuan aparat gabungan demi pengamanan di provinsi paling bergolak di ujung timur itu.

Tak ingin masalah dugaan ucapan rasis di sekolah itu “dibesar-besarkan,” pada Sabtu, 21 Oktober, pihak sekolah mengajak guru dan para pelajar saling memaafkan.

Seorang guru SMA PGRI Wamena mengisahkan para pelajar itu meyakini guru berkata, “Kau baca itu kayak monyet.”

Sementara ibu guru itu bertahan dengan pendapatnya bahwa dia berkata “Kau baca terbata-bata.”

Adapun polisi, sebagaimana dilaporkan ke Kapolri Tito Karnavian saat itu, menyampaikan kronologi bahwa guru tersebut bicara “Kau baca kurang keras.”

Dari ucapan “keras” terdengar “kera” itulah, menurut Kapolri Tito, murid itu menyampaikan ke teman-temannya bahwa "Saya dikatakan oleh guru tadi monyet.”

“Padahal yang dimaksud jangan berbicara keras,” ujar Tito.

Polisi dan pemerintah menyimpulkan ucapan rasis guru itu adalah hoaks.

Meski begitu, isu ucapan rasis itu kadung menyebar luas.

Senin pagi, 23 September, pukul 7.00, para pelajar mendatangi gerbang SMA PGRI Wamena. Mereka menuntut dugaan ucapan rasis oleh guru itu diusut.

Pihak sekolah kewalahan meladeni pelajar, memanggil polisi ikut menyelesaikan. Polisi meminta pelajar ke Kapolres Jayawijaya. Tapi, di jalan, pelajar telah memobilisasi teman-temannya dari sekolah-sekolah lain. Massa pelajar tidak bergerak ke Kapolres, tetapi ke kantor bupati.

Api Pertama
Di kantor Bupati, massa memprotes ucapan rasis. Mereka juga mendengar ada tujuh teman mereka yang ditangkap. Pesan berantai sulit dibendung. Desas-desus memanaskan protes massa.

Sekitar pukul 09.00, kantor keuangan di belakang kantor bupati terbakar saat Bupati Jayawijaya John Richard Banua menenangkan massa.

Massa melarang mobil damkar masuk. Amuk massa memanas. Massa melempar dengan batu. Menyiram gedung-gedung lain di halaman dan sekitar kantor bupati dengan bensin.

Aparat keamanan, yang berjaga di luar pagar halaman kantor bupati, menghalau massa dengan rentetan tembakan peringatan ke udara.

Api Kedua
Saat terjadi protes di kantor bupati, massa pelajar dan mahasiswa yang bergerak dari Jalan Hom-Hom sulit dihalau oleh aparat keamanan Indonesia.

Saksi mata berkata massa semakin ganas dan membakar ruko-ruko pendatang di tepi jalan setelah ada korban tewas tertembak. Sebagian massa di sini terpecah dan diduga ikut membakar STISIP Amal Ilmiah Yapis Wamena.

Api Ketiga
Sebagian massa pelajar dari kantor bupati bergerak ke arah Jl SD Percobaan dan membakar Pasar Potikelek. Sebagian lain ke arah Jl Gatot Subroto, tujuannya hendak membakar Bandara Wamena. Mereka dua kali diadang aparat keamanan dengan gas air mata. Mereka lantas menyebar ke Pasar Wouma. Di sini pembakaran terjadi sekitar pukul 11 siang.

Api Keempat
Massa di Jalan Hom-Hom juga membakar ruko-ruko warga pendatang di Jalan Pikhe.


Korban Tewas Orang Papua
Pasca-kerusuhan, data resmi pemerintah merilis 33 orang meninggal: 8 orang Papua, 25 pendatang; 82 korban luka: 44 orang Papua, 38 warga pendatang.

Dewan Adat Papua LaPago merilis ada 15 orang Papua meninggal.

Tirto dan Jubi mengonfirmasi di lapangan, 3-8 Oktober, sedikitnya ada 11 orang Papua meninggal.

Mereka adalah:

Eles Himan, 25 tahun, mahasiswa Ilmu Administrasi Negara semester 7 di STISIP Amal Ilmiah asal Yahukimo, diduga tertembak di bagian pinggul. Hari itu dia ke kampus untuk mengurus proposal skripsi.

Eliakim Wetapo, 25 tahun, ditemukan luka tembak di pinggang. Mayatnya tergeletak dua malam di Jalan Hom-Hom. Jenazahnya dibawa oleh keluarga ke Distrik Asotipo.

Gestanus Hisage, 21 tahun, putra mantan kepala Distrik Kurima, asal Ohena, diduga tertembak di dekat Pasar Wouma.

Kelion Tabuni, mahasiswa studi arsitektur semester tiga Universitas Negeri Manado, diduga tertembak di Jalan Hom-Hom, diyakini sebagai korban tewas pertama yang memicu amuk massa. Diperabukan oleh keluarganya di Pisugi.

Ketron Kogoya, 28 tahun, baru tiba di Wamena tujuh bulan sebelum kerusuhan, diduga tertembak di bagian jantung di dekat Pasar Wouma, diperabukan oleh keluarganya di sebuah kampung dekat Jembatan Wouma.

Manu Meage, asal Yahukimo, diduga tertembak di bagian punggung tembus perut di depan RSUD Wamena.

Lawan Hesegem, 28 tahun, asal Yahukimo, diduga ditembak di dekat Pasar Wouma.

Marius Wenda, 18 tahun, asal Kimbim, Distrik Asologaima, diduga ditembak di Jalan Hom-Hom.

Naligi Wenda, satpam Yudha Supermarket, diduga tertembak di bagian jantung di dekat Gereja Katolik Kristus Jaya, diperabukan oleh keluarganya di sebuah kampung dekat Jembatan Wouma.

Nison Lokbere, 19 tahun, siswa SMA YPK Betlehem Wamena, asal Mbua, Nduga, diduga ditembak di Jalan Hom-Hom.

Yus Asso, 25 tahun, asal Megapura, Distrik Asolokobal, diduga tertembak di bagian pantat tembus ke depan, proyektil masih bersarang, di sekitar SMP YPPK Santo Thomas, dekat Pasar Wouma.


Pengusutan
Hingga kini, Polri terus memburu tersangka. Terbaru, 22 Oktober, tersangka bertambah menjadi 19 orang, berusia 16 tahun hingga 44 tahun; 17 di antaranya telah ditahan di Mapolres Jayawijaya sejak 1 Oktober 2019.

Polri mengusut tiga jenjang peran pelaku: massa di lapangan, mobilisator, dan “dalang” atau “provokator”. Tudingan terakhir itu mengarah ke Komisi Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Baik KNPB maupun ULMWP membantah terlibat dalam kerusuhan di Wamena.

Pertanyaannya: apakah Polri mengusut juga dugaan ucapan rasis oleh ibu guru itu? Bagaimana keadilan untuk belasan korban orang Papua yang diduga tewas tertembak itu? Bagaimana pula keadilan untuk keluarga dari warga pendatang yang meninggal saat kerusuhan?

Sampai pekan ini, kerusuhan telah membuat Pemerintahan Kota Wamena mati suri. Aktivitas ekonomi dan kegiatan belajar mengajar juga belum pulih. Sekolah-sekolah masih sepi murid dan guru, sekalipun sudah dimulai sejak 7 Oktober lalu. Aparat keamanan Indonesia terus berpatroli di pinggiran kota.

Mayoritas warga pendatang masih trauma dan belum kembali. Orang Papua juga meninggalkan kota dan pulang ke kampung halaman mereka ke gunung-gunung. Mereka juga trauma.

======

Laporan ini adalah kolaborasi antara Tirto & Jubi

*Beberapa data korban orang Papua yang diduga tewas tertembak diperbarui.

Baca juga artikel terkait KERUSUHAN WAMENA atau tulisan menarik lainnya Redaksi
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Artikel Lanjutan
DarkLight