Pandemi COVID-19

Utak-atik Turunkan Tarif Tes PCR: Di Bawah Rp200 Ribu Masih Untung?

Oleh: Irwan Syambudi - 11 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bio Farma akan menghitung ulang komponen biaya tes PCR. Ada peluang menurunkan tarif PCR yang saat ini dipatok pemerintah.
tirto.id - Tarif tertinggi tes polymerase chain reaction (PCR) saat ini Rp275 ribu di Jawa Bali dan Rp300 ribu di daerah lainnya masih berpeluang untuk diturunkan kembali. Berdasarkan sejumlah komponen biaya yang ada, diperkirakan tarif tes dapat diturunkan sampai di bawah Rp200 ribu.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan tidak menutup kemungkinan pemerintah akan kembali menurunkan tarif tertinggi tes PCR. “Kita lihat perkembangannya lebih lanjut,” kata dia saat dihubungi, Rabu (10/11/2021).

Jika tarif tes PCR masih dapat diturunkan kembali, maka menurut Nadia akan semakin mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pemeriksaan tes PCR dengan harga yang lebih murah.

Saat rapat bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11/2021), Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan rencana untuk menghitung ulang komponen biaya tes PCR. Ia sebut masih ada peluang untuk dapat menurunkan tarif PCR yang saat ini dipatok oleh pemerintah.

“Kami berkeyakinan kita masih punya ruang untuk bisa menurunkan harga [tes PCR] ini. Tapi berapa persennya akan turun, kami butuh exercise [simulasi]," kata Honesti.

Ia menjabarkan komponen biaya tarif PCR Rp275 ribu yang saat ini berlaku di Pulau Jawa Bali, di antaranya terdiri dari biaya reagen utama, bahan material habis pakai (BMHP), alat pelindung diri (APD), biaya operasional maupun layanan dari masing-masing laboratorium. Reagen utama, kata Honesti, selama ini menjadi komponen pembentuk biaya paling besar sekitar 45 persen.

Demi mengurangi biaya reagen utama yang sejak awal pandemi COVID-19 harganya mencapai jutaan, langka dan harus impor, maka mulai Agustus 2020 Bio Farma mulai memproduksi reagen di dalam negeri. Dua produk reagen utama yakni BioCov yang saat itu dibanderol Rp325 ribu, kemudian pada Agustus 2021 BioCov turun menjadi Rp113 ribu, lalu mBioCov dibanderol Rp250 ribu yang pada Oktober 2021 turun jadi Rp90 ribu.



Selain itu, induk perusahaan BUMN Farmasi itu juga mengembangkan produk baru BioSaliva. Produk ini berbeda dengan yang sebelumnya dan menurut Honesti BioSaliva akan dapat menekan biaya tes PCR.

BioSaliva merupakan satu paket, dengan terdapat cairan untuk berkumur. Setelah berkumur cairan itu dikeluarkan lalu dipindah ke wadah dan dicampurkan dengan larutan khusus yang kemudian diuji di laboratorium.

Dengan demikian, pengambilan sampel dapat dilakukan sendiri oleh orang yang hendak melakukan tes, sehingga menurut Honesti petugas tidak perlu menggunakan APD tertentu yang biasa digunakan ketika mengambil sampel swab pada umumnya.

BioSaliva ini, menurut Honesti, cocok digunakan untuk tes massal, karena semakin banyak peserta tes PCR maka mesin uji dapat bekerja optimal. Biaya yang dikeluarkan pun dapat ditekan, sebab selama ini salah satu penyebab tingginya biaya PCR adalah karena permintaan tes yang rendah sehingga kapasitas mesin tidak terpakai secara optimal.

“BioSaliva yang kami luncurkan itu salah satunya menurunkan biaya APD. Kemudian dapat dilakukan secara massal, kalau massal kita dapat volume. Tapi kami belum dapat sedetail itu untuk menghitung semuanya implikasi biaya," ujarnya.

Menurut Honesti untuk dapat mengetahui berapa persentase penurunan harga PCR harus dihitung secara detail, sebab ada biaya lain seperti jasa tenaga kesehatan yang melakukan pemeriksaan terhadap sampel yang tidak dapat diotak-atik lagi.

Namun ia optimistis bahwa tarif PCR masih bisa diturunkan. “Kami akan berusaha meng-exercise lagi sampai level berapa biaya PCR ini bisa kita lakukan. Tapi kami memiliki keyakinan itu masih bisa," kata Honesti.



Menanggapi paparan Honesti mengenai struktur biaya tes PCR, anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade yakin bahwa biaya tes PCR sebetulnya dapat ditekan hingga di bawah Rp200 ribu. Ia memiliki perhitungan tersendiri, mulai dari biaya PCR kit yang terdiri dari VTM, cairan ekstraksi kit dan reagen.

“Informasi yang saya dapatkan VTM rage-nya Rp10 ribu, kemudian ekstraksi kit ada 5 macam cairan itu kalau tidak salah Rp25 ribu, yang ketiga PCR kit reagennya Rp65 ribu. Kalau dihitung itu Rp100 ribu,” kata Andre.

Kemudian menurutnya pengusaha tes PCR tak perlu modal terlalu besar, sebab harga mesin untuk ekstraksi dan mesin PCR hanya Rp 250 juta. Itu pun menurut Andre dapat disiasati sebab sudah banyak pabrik produsen kit PCR yang bersedia meminjamkan mesin mereka.

Jika asumsinya mesin telah dipinjami dan dihitung modal yang diperlukan untuk satu tes PCR Rp100, kemudian biaya tenaga kesehatan, APD, operasional dan margin dihitung total Rp50-70 ribu. Maka menurutnya masih untung jika harga tes PCR di bawah Rp200 ribu.

“Saya rasa masih bisa [harga tes PCR] Rp170-180 ribu. Masih untung itu,” kata politisi Partai Gerindra tersebut.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Randy Teguh mengatakan memang selama ini reagen jadi biaya terbesar dalam tes PCR. Jika reagen dapat lebih mudah memang menurutnya harga tes PCR dapat diturunkan.

“Kalau BUMN farmasi bisa membuat reagen lebih murah, dan hitung-hitunganya masuk untuk teman-teman [pengusaha] laboratorium dan klinik, ya bisa-bisa saja [harga tes PCR diturunkan],” kata Randy saat dihubungi, Rabu (10/11/2021).

Namun demikian, kata dia, perlu perhitungan yang lebih detail terutama terkait biaya di luar reagen seperti tenaga kesehatan, biaya operasional seperti listrik dan sebagainya.

“Pada dasarnya kami sebagai pelaku usaha alat kesehatan dan alat laboratorium itu selalu berusaha mengikuti regulasi dari pemerintah. Kalau memang perintah tetap menentukan harga khusus dan harga PCR turun lagi. Ya nanti tinggal dilihat kalau harga masih bisa memenuhi bagi teman-teman laboratorium, klinik dan rumah sakit, ya kami akan suplay,” kata Randy.


Baca juga artikel terkait BIAYA PCR atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight