tirto.id - Ketegangan militer makin meningkat di Selat Hormuz. Setelah Iran sempat mencabut blokade di wilayah perairan itu, kini Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali memberlakukan blokade di wilayah tersebut. Selain IRGC, militer AS juga masih memberlakukan blokade di perairan Selat Hormuz
Blokade di Selat Hormuz berdampak pada terganggunya jalur perdagangan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent melonjak sekitar 6 persen hingga mendekati 96 dolar AS per barel, pasar saham global pun menunjukkan volatilitas, dengan indeks futures S&P 500 melemah dan pasar Asia bergerak tidak stabil.
Nilai dolar AS sempat menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat pembukaan sementara jalur pelayaran, dikutip Iran International, Senin (20/4/2026).
Perang Iran vs AS Terkini
Pada 19 April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang diduga berusaha menembus blokade yang diberlakukan di wilayah tersebut.
Trump juga mengklaim bahwa pasukan AS telah merusak ruang mesin kapal tersebut dan kini menguasai penuh kapal beserta muatannya. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata sementara.
“Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, dengan panjang hampir 900 kaki dan berat hampir sama dengan kapal induk, mencoba melewati blokade angkatan laut kita, dan upaya mereka gagal,” tulis Trump di akun Truth Social @realDonaldTrump.
“Kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS USS SPRUANCE mencegat TOUSKA di Teluk Oman, dan memberi mereka peringatan untuk berhenti. Awak kapal Iran menolak untuk mendengarkan, sehingga kapal Angkatan Laut kita menghentikan mereka dengan meledakkan lubang di ruang mesin. Saat ini, Marinir AS telah mengamankan kapal tersebut,” lanjut Trump.
Namun, Iran segera merespons dengan ancaman balasan dan menuduh tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata serta bentuk perompakan maritim oleh pihak AS.
“Kami memperingatkan bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” kata markas besar militer Khatam al-Anbiya dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh Tasnim, media yang terkait dengan IRGC.
Di unggahan terbarunya, Trump mengatakan bahwa Iran telah menembakkan peluru di Selat Hormuz dan menyebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata.
“Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz — Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita! Banyak di antaranya ditujukan ke sebuah kapal Prancis, dan sebuah kapal kargo dari Inggris. Itu tidak menyenangkan, bukan?” tulis Trump.
Di ranah diplomasi, meski ketegangan meningkat, beberapa persiapan pertemuan antara kedua negara masih berlangsung.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut bahwa delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang juga diketahui pernah memimpin perundingan perdamaian awal beberapa hari sebelumnya.
Delegasi itu juga disebut akan melibatkan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta penasihat dekatnya, Jared Kushner. Namun, dalam pernyataan terpisah kepada media, Trump justru menyebut bahwa JD Vance tidak akan ikut dalam perjalanan tersebut.
“Itu hanya karena alasan keamanan,” kata Trump kepada ABC News tentang alasan Vance tidak ikut dalam perjalanan tersebut.
Trump menyebut akan menawarkan kesepakatan yang adil pada perundingan ini, namun disertai ancaman keras bahwa jika Iran menolak, Amerika Serikat akan menghancurkan fasilitas penting seperti pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
“Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI Mr. NICE GUY!,” ancam Trump.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































