Menuju konten utama

Paus Leo XIV Pilih Setop Debat dengan Trump soal Konflik AS-Iran

Paus Leo XIV berdalih khotbahnya tidak ditujukan khusus ke Trump, melainkan mencerminkan pesan Injil yang lebih luas tentang perdamaian.

Paus Leo XIV Pilih Setop Debat dengan Trump soal Konflik AS-Iran
Tangkapan layar - Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat sebagai Paus terpilih ke-267 dengan nama Paus Leo XIV menyapa ribuan umat Katolik yang berkumpul di alun-alun Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis (8/5/2025) waktu setempat. ANTARA/Vatican Media/aa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemimpin Umat Katolik, Paus Leo XIV, mengatakan dirinya tidak ingin berdebat dengan Presiden AS, Donald Trump, mengenai serangan AS terhadap Iran.

Paus Leo mengatakan bahwa meskipun ada narasi tertentu yang tidak akurat, ia memilih akan terus menyampaikan pesan perdamaian.

"Sama sekali bukan kepentingan saya untuk berdebat dengan Presiden AS, Donald Trump , tentang perang Iran, tetap akan terus memberitakan pesan Injil tentang perdamaian," terang Paus Leo, dilansir dari The Guardian, Minggu (19/4/2026).

Paus Leo berupaya meluruskan keadaan, dengan menegaskan bahwa khotbahnya tidak ditujukan kepada Trump, melainkan mencerminkan pesan Injil yang lebih luas tentang perdamaian.

“Ada narasi tertentu yang tidak akurat dalam semua aspeknya, tetapi karena situasi politik yang tercipta ketika, pada hari pertama perjalanan, presiden Amerika Serikat memberikan beberapa komentar tentang saya,” katanya.

“Sebagian besar dari apa yang telah ditulis sejak saat itu lebih merupakan komentar atas komentar, mencoba menafsirkan apa yang telah dikatakan,” tambah Paus.

Trump melancarkan kritik di platform media sosialnya pada Minggu (12/4/2026) pekan lalu, ketika ia mengkritik khotbah Leo tentang perdamaian sebagai perang, yang dianggap sebagai kritik terhadap serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, dan diikuti oleh pembalasan Iran.

Trump menuduh Paus Leo lemah dalam menangani kejahatan. Hal ini juga merespons kritik Paus Leo sebelumnya terhadap tindakan keras presiden terhadap imigran ilegal dengan premis palsu bahwa mereka sebagian besar adalah penjahat, dan mengklaim bahwa Paus Amerika pertama itu berutang terpilihnya kepada Trump.

Terlepas dari upaya Trump untuk membenarkan serangannya terhadap Iran sebagai tindakan yang diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, tidak ada bukti bahwa Iran memiliki program senjata nuklir aktif sejak tahun 2003, ketika program tersebut ditangguhkan oleh dekrit dari pemimpin tertinggi negara itu.

Leo secara konsisten menyerukan perdamaian dan dialog, serta mengecam penggunaan pembenaran agama untuk perang. Secara khusus, ia menyebut ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban Iran sebagai "benar-benar tidak dapat diterima".

Vatikan menekankan bahwa ketika Leo berkhotbah tentang perdamaian, ia merujuk pada semua perang yang melanda planet ini, bukan hanya konflik Iran.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto