tirto.id - Kebakaran hutan terjadi di Cile sejak Sabtu (17/1/2026) dan telah menewaskan 19 orang. Kebakaran semakin parah akibat suhu tinggi dan angin kencang, sehingga membuat api cepat menyebar dan sulit dikendalikan.
Pemerintah Cile melakukan evakuasi massal sambil berupaya memadamkan lebih dari 30 titik kebakaran aktif. Meskipun kondisi cuaca pada malam hari sempat membantu petugas mengendalikan beberapa api, kebakaran terbesar masih terus berlangsung.
Pihak berwenang memperkirakan situasi tetap berbahaya sepanjang hari karena suhu tinggi berpotensi memicu kebakaran baru.
Update Kebakaran di Cile, Apa Penyebabnya?
Beberapa wilayah di Cile bagian tengah dan selatan berada dalam peringatan panas ekstrem, dengan suhu mencapai hingga 37 derajat Celsius, kondisi yang jarang terjadi secara beruntun di daerah seperti Concepcion.
Menurut Reuters, korban jiwa paling banyak tercatat di Penco, kota kecil di pesisir dekat Concepcion. Ribuan warganya kini hanya bisa menyusuri puing-puing rumah mereka yang hangus terbakar.
Otoritas Cile mencatat sebanyak 325 rumah hancur total dan lebih dari 1.100 rumah lainnya masih dalam penilaian kerusakan. Hingga Senin sore, badan kehutanan Cile (CONAF) menyebut ada 34 kebakaran aktif, dengan yang terbesar berada di wilayah Nuble dan Biobio.
Presiden Cile, Gabriel Boric pun menetapkan status darurat nasional di dua wilayah tersebut yang dimaksudkan agar koordinasi dengan militer semakin mudah dalam pemadaman api.
“Mengendalikan kebakaran sebesar ini, dengan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, angin, dan kurangnya kelembapan adalah pekerjaan yang sangat sulit,” ucap Boric dikutip AP News.
Total lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 35.000 hektare, dengan satu kebakaran saja meluas lebih dari 14.000 hektare di pinggiran Concepcion.
Para ahli menjelaskan bahwa kombinasi bahan hutan yang sangat kering, panas berkepanjangan di atas 30 derajat selama beberapa hari berturut-turut, serta angin yang berubah-ubah membuat api berkembang menjadi sangat sulit dikendalikan.
Kondisi kebakaran ini bahkan dapat “bergabung” dengan kebakaran lain dan berubah menjadi “si jago merah” yang nyaris tak terkalahkan.
Tak hanya kondisi hutan yang kering dan juga suhu panas lebih dari 30 derajat yang ditengarai sebagai penyebab kebakaran, adanya gelombang panas regional yang melanda Cile dan Argentina sejak awal tahun juga dipercaya ikut memengaruhi.

Dikutip CNA, dalam beberapa tahun terakhir, wilayah selatan–tengah Cile semakin sering dan semakin parah terdampak kebakaran hutan, terutama pada bulan Januari dan Februari, yaitu periode paling panas dan kering dalam setahun.
Sebuah studi tahun 2024 yang dipimpin oleh peneliti dari Center for Climate and Resilience Research di Santiago menjelaskan bahwa perubahan iklim telah “menciptakan kondisi” yang memungkinkan terjadinya musim kebakaran ekstrem di kawasan ini.
Artinya, kenaikan suhu dan penurunan kelembapan yang berlangsung dalam jangka panjang membuat hutan dan lahan menjadi jauh lebih kering, sehingga api lebih mudah muncul, cepat menyebar, dan sulit dipadamkan.
Dampak kondisi ini terlihat jelas pada Februari 2024, ketika beberapa kebakaran besar terjadi secara bersamaan di sekitar kota Viña del Mar, di barat laut Santiago, yang menewaskan 138 orang, menjadikannya salah satu tragedi kebakaran terburuk dalam sejarah Cile.
Selain itu, musim kebakaran 2016–2017 dan 2022–2023 juga mencatat luas area terbakar yang belum pernah terjadi sebelumnya, menandakan bahwa skala dan intensitas kebakaran semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Cile namun juga di wilayah lain Amerika Selatan bagian selatan, seperti Patagonia, Argentina.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































