tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, jika akses lewat Selat Hormuz tak dibuka dalam waktu 48 jam.
Pernyataan ini meningkatkan eskalasi konflik secara dramatis, setelah Trump sempat menyatakan akan “mengurangi” upaya militer di Timur Tengah.
“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PLTU mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU,” tulis Trump, di media sosial buatannya, Truth Social pada Sabtu (21/3/2026) sore waktu setempat.
Dalam ancaman tersebut, Trump tidak merinci pembangkit listrik terbesar mana yang dia maksud.
Al Jazeera melaporkan, militer Iran telah memberi tanggapan terhadap ultimatum Trump tersebut. Mereka mengatakan akan menargetkan semua infrastruktur energi milik AS di kawasan tersebut, jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang.
Pernyataan pada hari Sabtu (21/3/2026) itu, muncul ketika Trump menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengamankan jalur laut yang vital. Iran menegaskan tidak akan membuka jalur itu bagi "kapal musuh", yang menyebabkan harga minyak melonjak dan pasar saham anjlok.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pekan lalu bahwa ia telah "didekati oleh sejumlah negara" yang mencari jalur aman untuk kapal mereka.
"Ini terserah militer kami untuk memutuskan," katanya kepada jaringan televisi AS CBS, menambahkan bahwa sekelompok kapal dari "berbagai negara" telah diizinkan untuk lewat, tanpa memberikan detail.
Sementara itu, Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, menegaskan pada hari Sabtu (21/3) bahwa kemampuan Iran untuk menyerang kapal di selat tersebut telah "menurun" setelah jet tempur AS menjatuhkan bom seberat 5.000 pon (sekitar 2.300 kg) di fasilitas bawah tanah pesisir Iran yang menyimpan rudal jelajah anti-kapal dan peluncur bergerak awal pekan ini.
Serangan itu juga menghancurkan “situs pendukung intelijen dan relai radar rudal” yang digunakan untuk memantau pergerakan kapal, kata Cooper.
Al Jazeera menganalisist terdapat “kesenjangan antara apa yang tampaknya diinginkan Gedung Putih di Selat Hormuz dan apa yang dikatakan militer AS telah mereka capai”.
Sementara Reuters mencatat Selat Hormuz menjadi saluran bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Penutupan jalur itu mengancam guncangan energi global. Hampir tertutupnya selat tersebut menyebabkan harga gas Eropa melonjak sampai 35 persen pada pekan kedua Maret 2026.
Pejabat Israel mengatakan pasukan Iran untuk pertama kalinya menembakkan rudal jarak jauh, memperluas risiko serangan di luar Timur Tengah, bahkan ketika serangan Iran melukai puluhan orang tidak jauh dari situs nuklir Israel.
Iran meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan 4.000 km (2.500 mil) ke pangkalan militer AS-Inggris Diego Garcia di Samudra Hindia, Sabtu (21/3/2026). Militer Israel mengatakan ini adalah pertama kalinya Iran menggunakan rudal jarak jauh sejak Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari.
"Rudal-rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa - Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung," kata Zamir dalam sebuah pernyataannya.
Sebuah sumber di kementerian pertahanan Inggris mengatakan serangan itu terjadi sebelum pemerintah memberikan otorisasi khusus pada hari Jumat bagi AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris untuk melakukan serangan terhadap situs rudal Iran.
Lebih dari 2.000 orang telah tewas selama perang. Di Israel, 15 orang tewas akibat serangan Iran.
Pada Sabtu malam, rudal Iran menghantam kota-kota di Israel selatan, Dimona dan Arad, melukai puluhan orang, termasuk anak-anak, dalam serangan terpisah. Garda Revolusi Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Minggu pagi bahwa mereka menargetkan "instalasi militer" dan pusat keamanan di Israel selatan.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































